JurnalPatroliNews – Jakarta – Gelombang serangan udara mematikan kembali menghantam wilayah Jalur Gaza pada Sabtu (31/1/2026), mengakibatkan sedikitnya 32 warga Palestina kehilangan nyawa.
Badan Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa sebagian besar korban tewas dalam insiden ini adalah anak-anak dan perempuan yang sedang berada di area pemukiman serta tempat pengungsian.
Serangan ini menjadi salah satu hari paling berdarah sejak kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat mulai diberlakukan pada Oktober tahun lalu.
Juru bicara pertahanan sipil, Mahmud Bassal, mengungkapkan bahwa target serangan mencakup berbagai fasilitas sipil mulai dari apartemen tinggal, tenda pengungsi di Al-Mawasi, hingga sebuah kantor polisi di distrik Sheikh Radwan yang padat penduduk.
Di kawasan Rimal, sebuah unit apartemen hancur total hingga rata dengan tanah, menyisakan duka bagi para keluarga yang kehilangan anak-anak mereka saat sedang tertidur. Tim penyelamat hingga kini masih terus berupaya mengevakuasi jasad korban dari balik reruntuhan bangunan yang hancur.
Pihak militer Israel mengeklaim bahwa operasi udara tersebut merupakan respons atas pelanggaran kesepakatan gencatan senjata yang diduga dilakukan oleh kelompok Hamas sehari sebelumnya.
Israel menyatakan bahwa serangan mereka terukur dan ditargetkan kepada komandan serta anggota faksi bersenjata Hamas dan Jihad Islam Palestina.
Namun, klaim tersebut dibantah keras oleh pejabat politik Hamas yang menyebut tindakan Israel sebagai kejahatan besar yang mengabaikan komitmen perdamaian internasional.
Situasi di Gaza kini kembali berada di titik nadir, memicu keraguan besar dari masyarakat sipil akan keberlangsungan gencatan senjata fase kedua yang baru saja diumumkan oleh utusan khusus AS, Steve Witkoff.
Para keluarga korban mempertanyakan efektivitas proses perdamaian jika serangan udara masih terus menyasar area penampungan pengungsi. Hingga berita ini diturunkan, jumlah korban jiwa di Gaza sejak awal konflik tahun 2023 dilaporkan telah menembus angka 71.700 orang, mempertegas krisis kemanusiaan yang semakin mendalam di wilayah tersebut.














