JurnalPatroliNews – WASHINGTON — Pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah tak terduga dengan melonggarkan sebagian sanksi terhadap sektor minyak Iran di tengah lonjakan harga energi global akibat konflik yang sedang berlangsung.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengumumkan pemberian izin terbatas dan bersifat sementara untuk menjual minyak Iran yang saat ini tertahan di laut.
“Menteri Keuangan Scott Bessent mengumumkan penerbitan otorisasi jangka pendek yang dirancang secara khusus yang mengizinkan penjualan minyak Iran yang saat ini terdampar di laut,” ujarnya, Minggu (22/3/2026).
Izin tersebut berlaku hingga 19 April dan mencakup penjualan minyak mentah serta produk minyak bumi Iran yang sudah berada di kapal tanker. Pemerintah AS memperkirakan kebijakan ini dapat menambah sekitar 140 juta barel minyak ke pasar global dalam waktu dekat.
Langkah ini menandai perubahan signifikan dalam kebijakan Washington terhadap Teheran, meski efektivitasnya masih menjadi perdebatan. Harga minyak dunia sendiri terus melonjak sejak konflik memanas, dengan Brent crude bertahan di kisaran 112 dolar AS per barel atau naik lebih dari 50 persen dalam setahun terakhir.
Sejumlah analis menilai dampak kebijakan ini terhadap harga energi kemungkinan terbatas. Direktur Blackstone Compliance Services, David Tannenbaum, menyebut langkah tersebut kontroversial karena berpotensi memberi keuntungan finansial bagi Iran.
“Pada dasarnya kita membiarkan Iran menjual minyak, yang kemudian dapat digunakan untuk mendanai upaya perang,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan analis dari Center for a New American Security, Rachel Ziemba, yang menilai kebijakan ini belum tentu mampu mengubah situasi secara signifikan.
“Saya tidak berpikir hal ini akan mengubah keadaan dan menimbulkan banyak pertanyaan,” katanya, seraya menambahkan bahwa sulit memastikan dana hasil penjualan tidak mengalir ke pemerintah Iran.
Namun demikian, tidak semua pihak pesimistis. Mantan Presiden Bank Dunia, David Malpass, menilai langkah tersebut dapat membantu menekan harga minyak di pasar global, khususnya di luar China, sekaligus menjadi bagian dari strategi AS dalam menambah pasokan energi dunia.
Krisis energi global saat ini juga dipicu terganggunya jalur distribusi utama, termasuk Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan di jalur tersebut menyebabkan sekitar 10 persen pasokan global keluar dari pasar, sehingga memperparah tekanan harga energi.














