JurnalPatroliNews – Jakarta – Rektor Universitas Paramadina sekaligus Ekonom senior INDEF, Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D., menekankan pentingnya Indonesia memperkuat kemitraan strategis dengan Jepang di tengah dinamika global yang kompetitif.
Menurutnya, kunjungan resmi Presiden Prabowo Subianto ke Tokyo pada akhir Maret 2026 ini harus menjadi momentum penguatan cadangan devisa dan sektor manufaktur nasional.
Prof. Didik menilai hubungan dagang Indonesia dan Jepang memiliki karakter unik yang saling melengkapi (komplementer), berbeda secara fundamental dengan hubungan dagang RI-China yang cenderung bersifat substitutif.
“Perdagangan Indonesia dengan Jepang bersifat komplementer, saling melengkapi sehingga bersifat win-win di mana kedua negara mendapat manfaat optimal untuk mengembangkan cadangan devisanya masing-masing,” ujar Prof. Didik dalam keterangannya, Senin (30/3/2026).
Risiko Deindustrialisasi Dini Dalam analisisnya, Prof. Didik memperingatkan dampak persaingan dagang dengan China yang sering kali membenturkan produk sejenis (substitusi).
Kondisi ini dinilai memicu tekanan besar bagi industri dalam negeri dan mempercepat gejala deindustrialisasi dini (premature deindustrialization).
“Industri dalam negeri diterpa persaingan dagang yang bersifat substitusi seperti ini. Hal ini memicu defisit neraca perdagangan manufaktur serta melemahkan posisi UMKM kita,” tambahnya.
Sebaliknya, Jepang dipandang sebagai mitra yang mampu menyuplai mesin, teknologi tinggi, dan investasi industri yang sangat dibutuhkan Indonesia untuk mengolah sumber daya alam seperti LNG, batu bara, serta produk pertanian dan perikanan.
Bukan Sekadar Diplomasi Simbolik Meski pertumbuhan ekonomi Jepang tergolong moderat, Prof. Didik menegaskan bahwa skala ekonomi Negeri Sakura tetap sangat besar dan strategis bagi rantai pasok global.
Ia meminta tim ekonomi Presiden Prabowo untuk tidak menjadikan kunjungan ini sebagai “diplomasi sambilan”.
“Tim ekonomi harus memaksimalkan kunjungan ini. Perlu dirancang strategi promosi kerja sama yang lebih terarah untuk mendorong transfer teknologi dan penciptaan lapangan kerja di sektor otomotif serta elektronik,” tegasnya.
Penekanan Prof. Didik ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah agar tetap menjaga keseimbangan geopolitik dan ekonomi di Asia Timur, dengan memastikan Jepang tetap menjadi jangkar investasi industri teknologi tinggi di Indonesia.














