JurnalPatroliNews | Jakarta — Pasar minyak global kembali bergerak melemah di tengah meningkatnya harapan terhadap pemulihan sebagian pasokan dari Arab Saudi dan munculnya sinyal diplomatik terkait upaya mengakhiri konflik Amerika Serikat dan Iran.
Pada perdagangan Rabu (23/9/2026), harga minyak mentah Brent masih bertahan di bawah level US$100 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dalam hingga berada di bawah US$90 per barel.
Mengacu pada data Refinitiv pukul 10.00 WIB, harga Brent terkoreksi 0,49% menjadi US$98,76 per barel. Pada periode yang sama, WTI merosot 5,13% ke level US$89,74 per barel.
Tekanan terhadap harga minyak telah berlangsung sejak 15 September 2026. Jika tren tersebut bertahan hingga penutupan perdagangan, kedua kontrak minyak acuan tersebut akan mencatat pelemahan selama enam sesi perdagangan berturut-turut.
Dalam enam hari tersebut, Brent telah kehilangan sekitar 9,19% nilainya. Penurunan WTI bahkan lebih besar, mencapai 15,20%.
Pipa Minyak Saudi Kembali Beroperasi
Salah satu faktor yang memberikan sentimen positif terhadap prospek pasokan global berasal dari Arab Saudi.
Kerajaan tersebut mulai mengoperasikan kembali jaringan pipa East-West pada Selasa (22/9/2026), setelah jalur tersebut mengalami gangguan akibat serangan pada 11 September 2026.
Pipa East-West memiliki peran penting dalam menghubungkan kawasan produksi minyak di bagian timur Arab Saudi dengan pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah.
Sebelum mengalami gangguan, jalur tersebut dilaporkan mampu mengalirkan sekitar 4 juta barel minyak setiap hari.
Kembalinya operasional pipa memunculkan ekspektasi bahwa sebagian distribusi minyak Saudi yang sebelumnya terganggu dapat kembali meningkat.
Namun, pemulihan tersebut belum sepenuhnya mengembalikan kapasitas jaringan seperti sebelum serangan.
Sejumlah sumber menyebut aliran minyak masih berada pada tingkat terbatas. Tiga stasiun pompa mengalami kerusakan dan proses pemulihan menuju kapasitas normal diperkirakan membutuhkan waktu beberapa pekan.
Pasar Mengamati Selat Hormuz
Selain perkembangan dari Arab Saudi, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah menjalankan pembicaraan yang disebutnya produktif melalui perantara Iran.
Trump juga menyatakan terdapat dorongan kuat dari pihak-pihak terkait untuk mencapai kesepakatan.
Pernyataan tersebut memberikan sedikit ruang optimisme bagi pasar bahwa konflik dapat memasuki jalur penyelesaian dan pada akhirnya mengurangi tekanan terhadap pasokan energi dunia.
Namun, situasi di lapangan masih menunjukkan ketidakpastian.
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi global, belum sepenuhnya kembali normal.
Data awal pelacakan kapal yang dikutip Reuters menunjukkan hanya tiga kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Selasa. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata sekitar 15 kapal per hari selama 10 hari sebelumnya.
Data tersebut masih dapat mengalami perubahan karena sebagian kapal diketahui mematikan perangkat pelacak ketika berada dalam perjalanan.
Kondisi itu membuat pasar masih berhati-hati dalam memperkirakan arah harga minyak berikutnya.
Proyeksi Harga Masih Terbelah
Di tengah pelemahan harga dalam beberapa hari terakhir, lembaga keuangan global tetap melihat adanya risiko kenaikan apabila gangguan pasokan Timur Tengah berlangsung lebih lama.
Bank of America memproyeksikan harga Brent dapat berada di kisaran US$95 per barel pada akhir 2026. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya yang berada di level US$83 per barel.
Bank tersebut juga memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi menembus US$150 per barel apabila gangguan pasokan berlangsung berkepanjangan dan stok minyak global semakin menyusut.
Namun, level US$150 per barel tersebut merupakan skenario risiko, bukan proyeksi dasar.
Sementara itu, JPMorgan masih melihat tingkat ketidakpastian yang tinggi terhadap arah pasar minyak selama konflik berlangsung.
Analis bank tersebut menyatakan belum memiliki gambaran yang jelas mengenai bagaimana pasar minyak akan keluar dari situasi perang yang sedang berkembang.
Menurut JPMorgan, tekanan kenaikan harga masih dapat kembali muncul apabila gangguan terhadap pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah berlangsung dalam waktu panjang.
Dengan demikian, meski harga Brent telah kembali berada di bawah US$100 dan WTI turun di bawah US$90 per barel, pasar minyak global belum sepenuhnya terbebas dari risiko geopolitik.
Pergerakan harga selanjutnya akan sangat bergantung pada kecepatan pemulihan jaringan distribusi minyak Arab Saudi, perkembangan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, serta hasil pembicaraan diplomatik yang berkaitan dengan konflik AS-Iran.















Komentar