JurnalPatroliNews | Jakarta – KRI Sriwijaya-100 tidak hanya diproyeksikan sebagai penguat pertahanan maritim Indonesia. Kapal induk pertama dalam jajaran TNI Angkatan Laut tersebut juga disiapkan untuk mendukung penanggulangan bencana dan misi kemanusiaan.
Pemerintah mengarahkan adanya penguatan kemampuan KRI Sriwijaya-100 agar dapat mendukung pengoperasian helikopter dan pesawat nirawak atau drone. Arahan tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Kabinet Terbatas mengenai penanganan bencana pada 7 September 2026.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari mengatakan, modifikasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan kapal dalam menjalankan Operasi Militer Selain Perang (OMSP), terutama ketika terjadi bencana atau keadaan darurat di berbagai wilayah Indonesia.
“Kemampuan tersebut diprioritaskan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya penanggulangan bencana dan misi kemanusiaan,” kata Qodari dalam keterangannya.
Bukan Sekadar Kapal Pertahanan
Kehadiran KRI Sriwijaya-100 sebelumnya telah menambah unsur baru dalam kekuatan pertahanan maritim Indonesia. Kapal yang sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi milik Angkatan Laut Italia itu resmi menjadi bagian dari TNI AL setelah menjalani proses reflagging dan peresmian di Tanjung Priok pada 24 September 2026.
Kementerian Pertahanan menyebut kapal tersebut memiliki kemampuan sebagai pusat komando operasi laut sekaligus dapat digunakan untuk mendukung bantuan kemanusiaan. TNI AL juga menyatakan kapal tersebut dipersiapkan untuk mendukung berbagai tugas negara.
Penguatan fungsi tersebut membuat KRI Sriwijaya-100 memiliki peran yang lebih luas. Selain menjalankan fungsi pertahanan dan operasi maritim, kapal dapat diarahkan menjadi salah satu sarana mobilisasi ketika Indonesia menghadapi bencana berskala besar.
Menjangkau Wilayah Sulit
Menurut Qodari, kebutuhan terhadap kemampuan mobilitas seperti itu berkaitan dengan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah luas serta kondisi geografis beragam.
Ketika bencana terjadi, akses menuju lokasi terdampak kerap menjadi persoalan. Kerusakan jalan, jembatan, pelabuhan maupun fasilitas pendukung lainnya dapat menghambat distribusi bantuan dan proses evakuasi.
Dalam situasi tersebut, kemampuan kapal untuk membawa helikopter dan drone dinilai dapat memperluas jangkauan operasi.
“Dengan kemampuannya mendukung pergerakan helikopter serta membawa dan menyalurkan berbagai kebutuhan, KRI Sriwijaya-100 dapat menjadi salah satu sarana untuk membantu menjangkau wilayah yang sulit diakses melalui jalur darat maupun jalur lainnya,” ujar Qodari.
Kemampuan tersebut memungkinkan kapal berfungsi sebagai salah satu titik dukungan bergerak untuk operasi kemanusiaan, termasuk pengiriman bantuan, pemantauan wilayah terdampak serta mendukung proses evakuasi sesuai kebutuhan operasi.
Retrofit Disiapkan
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali sebelumnya menyatakan kemungkinan retrofit atau modifikasi KRI Sriwijaya-100. Menurutnya, pekerjaan tersebut dapat dilakukan setelah mempertimbangkan kebutuhan penugasan kapal.
Proses retrofit disebut akan melibatkan PT PAL dari Indonesia bersama perusahaan asal Italia, Fincantieri. Dengan demikian, penguatan kemampuan kapal tidak hanya berkaitan dengan penambahan fungsi, tetapi juga penyesuaian terhadap kebutuhan operasional TNI AL.
KRI Sriwijaya-100 sendiri telah resmi memperkuat jajaran TNI AL sejak 24 September 2026. Kapal tersebut sebelumnya merupakan ITS Giuseppe Garibaldi milik Italia dan tiba di Indonesia setelah menempuh pelayaran dari Italia menuju Tanjung Priok.
Peran OMSP Diperkuat
Qodari menegaskan, penguatan kemampuan KRI Sriwijaya-100 tidak semata-mata diarahkan untuk modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista).
Menurutnya, kapal tersebut juga dipersiapkan agar dapat memperbesar kapasitas negara dalam merespons keadaan darurat yang membutuhkan pengerahan sumber daya secara cepat.
Dengan kemampuan mendukung helikopter dan drone, KRI Sriwijaya-100 diharapkan dapat menjadi bagian dari pelaksanaan OMSP, khususnya dalam penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.
“Dengan demikian, kehadiran KRI Sriwijaya-100 tidak hanya berbicara mengenai bertambahnya kemampuan pertahanan maritim Indonesia. Kapal ini juga dipersiapkan untuk memperkuat kemampuan negara dalam merespons keadaan darurat dan membantu masyarakat ketika mereka membutuhkan,” kata Qodari.
Pengembangan tersebut menempatkan KRI Sriwijaya-100 pada dua fungsi sekaligus: sebagai bagian dari kekuatan pertahanan maritim dan sebagai salah satu unsur pendukung respons nasional ketika bencana maupun keadaan darurat terjadi di wilayah Indonesia.














Komentar