AS Tawarkan Hadiah Rp362 Miliar untuk Informasi Program Nuklir Iran, Washington Cari Data Rahasia Teheran

JurnalPatroliNews | Washinton– Pemerintah Amerika Serikat (AS) meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan menawarkan hadiah hingga US$20 juta atau sekitar Rp362 miliar bagi pihak yang memberikan informasi penting mengenai program nuklir Teheran.

Penawaran tersebut diumumkan melalui Rewards for Justice, program penghargaan yang dikelola Departemen Luar Negeri AS. Selain imbalan finansial, Washington juga membuka kemungkinan relokasi bagi pemberi informasi yang memenuhi persyaratan program.

Langkah ini memperlihatkan bahwa Washington masih berupaya mengumpulkan informasi mengenai fasilitas, peralatan, personel, hingga aktivitas yang berkaitan dengan pengembangan nuklir Iran, meskipun Presiden Donald Trump sebelumnya mengklaim fasilitas nuklir negara tersebut telah dihancurkan oleh serangan militer AS dan Israel.

Dalam pengumuman resminya, Rewards for Justice menyebut hadiah maksimal US$20 juta disediakan bagi informasi mengenai program nuklir Iran, termasuk fasilitas, peralatan, personel terkait, dan individu dari komunitas ilmiah.

“Rewards for Justice menawarkan hadiah hingga 20 juta dolar AS dan kemungkinan relokasi untuk informasi tentang program nuklir Iran, termasuk fasilitas, peralatan, dan personel terkait, seperti mereka yang berada di komunitas ilmiah,” demikian pengumuman tersebut, dikutip BBC, Minggu (8/11/2026).

Washington Memburu Informasi Fasilitas dan Personel Nuklir

Program penghargaan tersebut tidak hanya menyasar informasi mengenai lokasi fasilitas nuklir. Pemerintah AS juga mencari data tentang peralatan dan orang-orang yang memiliki keterkaitan dengan kegiatan pengembangan teknologi nuklir Iran.

Departemen Luar Negeri AS menuding Iran tidak memenuhi sejumlah kewajiban pengamanan yang ditetapkan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Washington menyatakan kondisi tersebut telah menyebabkan IAEA kehilangan kesinambungan pengetahuan atau continuity of knowledge mengenai produksi dan persediaan komponen penting, termasuk sentrifugal nuklir.

Sentrifugal merupakan perangkat yang digunakan untuk memperkaya uranium. Informasi mengenai jumlah, lokasi, kondisi, dan pergerakan perangkat tersebut menjadi penting dalam pemantauan aktivitas nuklir suatu negara.

Pengayaan Uranium 60 Persen Jadi Sorotan

Program nuklir Iran kembali menjadi perhatian internasional karena tingkat pengayaan uranium yang telah mencapai 60 persen.

IAEA sebelumnya melaporkan Iran memiliki persediaan uranium yang diperkaya hingga tingkat tersebut. Pada perkembangan terbaru, badan pengawas nuklir internasional itu memperkirakan persediaan uranium Iran dengan pengayaan 60 persen mencapai sekitar 440,9 kilogram.

Uranium yang diperkaya dapat digunakan sebagai bahan bakar reaktor untuk kepentingan sipil. Namun, material dengan tingkat pengayaan tinggi juga dapat menjadi bahan untuk senjata nuklir apabila diproses lebih lanjut.

Uranium dengan tingkat pengayaan sekitar 90 persen umumnya dikategorikan sebagai uranium berkualitas senjata atau weapons-grade. Meski demikian, tingkat pengayaan saja tidak otomatis membuktikan suatu negara telah memiliki senjata nuklir.

Iran berulang kali membantah tuduhan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk membuat senjata pemusnah massal. Teheran menyatakan aktivitas nuklirnya dikembangkan untuk kepentingan damai, termasuk kebutuhan energi dan penelitian.

Task Force Iron Gate Perluas Tekanan AS terhadap Iran

Penawaran hadiah tersebut berlangsung bersamaan dengan langkah Washington memperluas tekanan ekonomi dan keamanan terhadap Teheran.

Komando Pusat AS atau United States Central Command (CENTCOM) mengumumkan pembentukan Task Force Iron Gate yang berkedudukan di Tampa, Florida.

Satuan tugas yang terdiri atas sekitar 20 personel militer dan sipil tersebut dibentuk untuk memperkuat koordinasi antarlembaga pemerintah AS dalam membatasi pergerakan senjata canggih, teknologi penggunaan ganda, material yang terkena sanksi, serta sumber pendapatan ilegal yang dikaitkan dengan Iran.

Menurut CENTCOM, langkah tersebut melengkapi blokade laut yang telah diberlakukan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Komando militer AS itu mengklaim blokade angkatan lautnya telah mencegah Iran mengekspor minyak mentah dengan nilai lebih dari US$25 miliar.

Pernyataan tersebut merupakan estimasi yang disampaikan pihak militer AS. Kebijakan blokade dan pembatasan perdagangan itu menjadi bagian dari strategi Washington untuk menekan kemampuan ekonomi serta militer Iran.

Klaim Trump soal Fasilitas Nuklir Iran

Presiden Donald Trump sebelumnya berulang kali menyatakan fasilitas nuklir Iran telah mengalami kehancuran total setelah serangan udara gabungan AS dan Israel pada 2025.

Namun, Washington masih menunjukkan perhatian terhadap sejumlah lokasi yang diduga memiliki kaitan dengan program nuklir Teheran.

Salah satu lokasi yang menjadi sorotan adalah Pickaxe Mountain, fasilitas bawah tanah yang dikaitkan dengan aktivitas nuklir Iran. Trump pernah menyebut kemungkinan serangan terhadap lokasi tersebut, tetapi menyatakan tidak terburu-buru mengambil keputusan untuk melancarkan operasi militer baru.

Pernyataan itu muncul di tengah spekulasi mengenai kemungkinan Washington kembali meningkatkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.

Di sisi lain, pemerintahan Trump juga mengklaim Iran menunjukkan keinginan untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri konflik yang berlangsung sejak Februari 2026.

Diplomasi dan Ancaman Militer Berjalan Bersamaan

Di tengah tekanan ekonomi dan militer, jalur diplomasi masih diupayakan melalui sejumlah negara perantara, termasuk Qatar.

Pembahasan mencakup penghentian permusuhan, pembatasan program nuklir, inspeksi internasional, pencabutan blokade, serta pengaturan kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.

Namun, perbedaan tuntutan antara Washington dan Teheran masih menjadi hambatan utama.

Penawaran hadiah hingga US$20 juta kini menambah dimensi baru dalam tekanan AS terhadap Iran. Selain mengandalkan kekuatan militer, blokade ekonomi, dan diplomasi, Washington juga berupaya memperoleh informasi langsung dari pihak-pihak yang mengetahui aktivitas program nuklir Teheran.

Perkembangan ini menempatkan isu nuklir Iran kembali sebagai salah satu titik paling sensitif dalam hubungan internasional, dengan konsekuensi yang dapat meluas terhadap keamanan kawasan Timur Tengah dan stabilitas global.

Komentar