JPNews
Selasa, 22 Januari 2019 17:39 WIB

BELA NEGARA

Patut Diwaspadai, Menhan Catat 700 Militan Asing ISIS, Berasal Dari Indonesia

Beno - jurnalpatrolinews
Patut Diwaspadai,  Menhan Catat 700 Militan Asing ISIS, Berasal Dari Indonesia Foto : Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu
JurnalPatroliNews - Jakarta,  Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengimbau masyarakat untuk mewaspadai ancaman terorisme, terutama ratusan militan Islamic State of Iraq Syria (ISIS) asal Indonesia yang sudah kembali ke Tanah Air.
 
Hal tersebut dikatakan Menhan saat memberikan ceramah bela negara di Griya Agung Palembang, Sumatera Selatan, Senin (21/1).
 
Ryamizard mengatakan ada puluhan ribu militan asing yang ikut berperang di Suriah dan Irak. Setelah perang selesai, para militan yang selamat dari perang kembali ke negaranya masing-masing termasuk Indonesia.
 
Menhan mencatat setidaknya 700 militan asing ISIS yang berasal dari Indonesia.
 
"Ancaman teroris patut diwaspadai, terutama generasi ketiga. Generasi ketiga ini mereka yang menyatakan diri ISIS, berafiliasi dengan JAD. Ditambah sekarang Foreign Terrorist Fighter yang kembali dari Suriah dan Irak setelah ISIS terpukul, mereka kembali ke negara masing-masing di Asia. Seperti Indonesia, Filipina, dan Malaysia," ujar dia.
 
Ryamizard berujar, aksi teror yang melibatkan anak telah diprediksi jauh sebelum peristiwa di Surabaya terjadi. 
 
Dia mengimbau kepada seluruh ulama agar menjalankan fungsi masing-masing dalam memberikan pemahaman soal agama.
 
"Contohnya di Jawa Timur, ada ibu-ibu bunuh diri dengan bom sambil membawa anak-anaknya yang masih sangat kecil. Mindset mereka dengan bunuh diri seperti itu mereka yakin masuk surga padahal itu salah," kata dia.
 
Ryamizard mengaku memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga pertahanan negara menghadapi segala ancaman. 
 
"Kalau rusak pertahanan negara, rusak juga tanggungjawab saya. Makanya saya dituntut membuat pertahanan yang ampuh," ujar Menhan.
 
Selain itu, ancaman penyebaran paham radikal ke lingkungan sekolah sudah menyebar. 
 
Ia meminta untuk para ulama, tokoh agama, serta pendidik untuk berperan aktif dan memberikan pemahaman agama secara jelas.
 
Katanya, modal kekuatan Indonesia yakni persatuan. Namun, persatuan harus dikelola dengan baik mengingat adanya ancaman yang menggerus dan merongrong ideologi Pancasila sebagai pemersatu bangsa. 
 
Pancasila harus ditanamkan di hati sanubari rakyat Indonesia sebagai bentuk pencegahan paham radikalisme dan terorisme.
 
Pencegahan paham radikalisasi melalui pendidikan, katanya, sangat penting, karena itu bela negara harus dijalankan dari semua tingkat pendidikan, mulai dari SD hingga perguruan tinggi.
 
"Radikalisme musuh manusia, musuh negara. Karena itu, harus diingatkan terus melalui pendidikan dan mimbar agama," ujar dia.
(*luk)


Berita Terkait
KOMENTAR