Akibat Buruknya Sinergitas, Pengelolaan Kawasan Wisata Jembatan Cinta Berjalan Ditempat

  • Whatsapp
ist

JurnalPatroliNews-Tarumajaya,– Pasca ambruknya Jembatan Cinta yang mengakibatkan tujuh dari ribuan pengunjung  tercebur ke dasar pantai, Saat ini sudah mulai dibuka kembali  lokasi wisata Jembatan Cinta atau pada awalnya merupakan Jembatan PRPM (Pusat  restorasi pembelajaran mangrove-red)  yang berlokasi di kampung Pal Jaya Desa Segara jaya Kecamatan Tarumajaya. Insiden terjadi pengunjung tercebur ke dasar pantai, Sempat menjadi perhatian  Waryanto, Bidang Pembinaan SDM Kelembagaan Dinas Pariwisata, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Ikut angkat bicara.

“Ada persoalan yang mendasar terkait pengelolaan jembatan Cinta, buruknya sinergitas antar kelompok yang berada didalam pengelolaan kawasan wisata jembatan cinta diyakini menjadi penyebab minimnya perbaikan dan pemeliharaan,” ungkap Waryanto, Minggu (28/6) lewat telephone selularnya.

Dikatakan Waryanto, Insiden pengunjung yang tercebur akibat salah satu trek ambruk karena rapuh, Lantaran buruknya sistem pengelolan yang kurang memadai. Dan perlu diingat, hanya di Kabupaten Bekasi sistem pengelolaan Jembatan Cinta seperti itu.

“Harusnya Jembatan Cinta di Paljaya Tarumajaya  sudah menjadi Icon Destinasi Wisata di Kabupaten Bekasi dan  sudah bisa berlari mandiri tidak berjalan di tempat seperti saat ini,”tandasnya.

Lanjutnya, Secara tegas dikatakan, Dinas Pariwisata Kabupaten bekasi  tidak memungut serupiah pun dari tempat Wisata Jembatan Cinta, Sarana dan prasana track berikut saung-saungan telah dianggarkan yang nilainya Ratusan juta, kemudian 2 unit perahu dibelikan.

“Nah sekarang dari pengelolaan perahu tentunya dapat duit dong?,  Kemana tuh duitnya,  Kok sampai trek ada yang rapuh gak sanggup diperbaiki. Tentunya ada dong pertanyaan seperti itu, kecuali perahunya dari Dinas Pariwisata kita sewain, sewa aja tidak kok, gratis. Terus kemana uangnya,” ujarnya bertanya.

Lanjutnya lagi, Terkait masalah pembibitan mangrove, informasi yang saya dapat dari Astra itu anggaran CSR-nya untuk menanam 1000 bibit mangrove dipaket sekitar Rp 18 juta loh, kebetulan kami juga sewaktu ada kerja sama dengan Exxon, kami pernah mendapat tawaran menu paket dari Pokmaswas diangka Rp 18 jutaan, belum dari perusahaan lain.

” Padahal inikan sebenarnya bagus bila bisa dikelola dengan baik, masa sih tidak bisa disisihkan. Saya berharap antara Bumdes, Pokdarwis dan Pokmaswas bisa bersinergi agar kelestarian hutan Mangrove dan Wisata jembatannya cintanya berjalan harmonis, Apalagi akses jembatan Cinta terhubung ke destinasi Sungai Rindu dan Sunge Jingkem” pungkasnya. (lk/*)

Pos terkait