Australia Minta Data Efek Vaksin Pfizer Usai 33 Lansia Wafat

  • Whatsapp
Ilustrasi vaksin virus corona buatan Pfizer-BioNTech. (AFP/JUSTIN TALLIS)

JurnalPatroliNews – Jakarta, Pemerintah Australia langsung meminta data soal efek samping, terkait kematian 33 orang lanjut usia yang menghuni panti jompo di Norwegia usai disuntik vaksin corona (Covid-19) buatan Pfizer-BioNTech.

Dilansir Associated Press, Senin (18/1), Australia kini mencoba meminta data kepada pemerintah Norwegia terkait dengan kejadian itu dan efek samping vaksin Pfizer-BioNTech.

Bacaan Lainnya

“Kami segera mencari tahu dan saya langsung menghubungi badan kesehatan Australia, TGA, meminta mereka mencari informasi tambahan dari perusahaan itu dan badan kesehatan Norwegia,” kata Menteri Kesehatan Australia, Greg Hunt.

Hunt menyatakan dia juga sudah meminta bantuan kepada Menteri Luar Negeri Australia, Marise Payne dan Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Australia untuk meminta data terkait program vaksinasi menggunakan vaksin Pfizer di Norwegia.

“Saya juga sudah menyampaikan taklimat kepada pelaksana tugas perdana menteri terkait informasi ini dan kami akan menyampaikannya kepada warga Australia,” ujar Hunt.

Australia sudah memesan 10 juta dosis vaksin Pfizer-BioNTech. Mereka sepertinya akan lebih dulu mengizinkan penggunaan vaksin buatan Pfizer-BioNTech ketimbang buatan AstraZeneca-Universitas Oxford.

Sampai saat ini jadwal rencana penyuntikan vaksin corona yang akan dilakukan oleh pemerintah Australia belu berubah, yakni pada Februari mendatang.

Sampai saat ini tercatat ada 30 ribu orang di Norwegia yang disuntik vaksin Pfizer-BioNTech atau Moderna. Program vaksinasi itu dilakukan sejak akhir Desember.

Kasus meninggalnya 33 lansia di Norwegia usai disuntik vaksin Pfizer-BioNTech juga memaksa pemerintah setempat melakukan penyelidikan.

Akan tetapi, Badan Kesehatan Norwegia menjamin keamanan vaksin virus corona (Covid-19) buatan Pfizer-BioNTech.

Dilansir surat kabar The New York Times, Kepala Bidang Pengobatan Badan Kedokteran Norwegia, Dr. Steinar Madsen, menyatakan kematian puluhan penghuni panti jompo itu diperkirakan tidak berkaitan langsung dengan vaksinasi.

Menurut laporan, 33 penghuni panti jompo yang meninggal usai disuntik vaksin Covid-19 sempat mengalami sakit keras. Mereka rata-rata berusia di atas 80 tahun.

Meski begitu, sebagian dari mereka dilaporkan kondisi kesehatannya sudah menurun dan diperkirakan memang usianya tidak lama.

Menurut Madsen, efek samping vaksin yang umum terjadi saat pasien yang lanjut usia itu disuntik bisa mengakibatkan komplikasi berat. Akan tetapi, menurut dia bahaya infeksi Covid-19 jauh lebih besar ketimbang vaksinasi.

Sampai saat ini pakar kesehatan setempat dan pemerintah masih mempelajari kematian 33 penghuni panti jompo itu. Mereka berencana membahasnya dengan Badan Kedokteran Eropa pada pertemuan pekan ini.

Pihak Pfizer-BioNTech menyatakan pemerintah Norwegia memprioritaskan vaksinasi terhadap para penghuni panti jompo, sebagian dari mereka bahkan sudah sangat sepuh dan memiliki penyakit bawaan lain. Bahkan ada yang sakit berat dan diperkirakan umurnya tidak akan lama.

Terkait kejadian itu, Institut Kesehatan Masyarakat Norwegia menyatakan tidak akan mengubah jadwal dan skema vaksinasi, yakni tetap mengutamakan penghuni panti jompo yang berusia di atas 85 tahun serta para tenaga kesehatan.

Akan tetapi, pada 11 Januari lalu mereka membuat pernyataan untuk lebih berhati-hati untuk memberikan vaksin terhadap para lansia yang kondisinya sudah sangat lemah.

(cnn)

Pos terkait