Fantastis..! Pasca Pandemi, ITM Raih Laba Bersih 407,14% Dari Batu Bara

Batu Bara/net

JurnalPatroliNews – Jakarta,- Salah satu perusahaan yang bergerak dibidang batu bara, PT Indo Tambangraya Megah (ITM) Tbk, membukukan pendapatan US$ 639,93 juta pada kuartal ketiga tahun ini. Angka ini melesat 125,14% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, US$ 284,24 juta.

Kenaikan itu tak lepas dari memanasnya harga batu bara. Selama kurun tiga bulan pertama tahun ini, rata-rata harga jual batu bara ITM sebesar US$ 150 per ton, lompat 121% dibanding kuartal tiga tahun lalu.

Bacaan Lainnya

ITM juga mencatat kenaikan EBITDA 277% secara tahunan menjadi US$ 323 juta. Yang tak kalah menarik, perusahaan membukukan lompatan laba bersih 407,14% secara tahunan menjadi US$ 213 dari sebelumnya US$ 42 juta kuartal tiga tahun lalu.

Sementara itu, Perusahaan terus menerapkan Strategi Manajemen biaya yang Efisien, agar memaksimalkan nilai keuntungan dari momentum kenaikan harga baru bara. Alhasil, margin laba kotor naik signifikan menjadi 35% dari sebelumnya 30%.

Mulianto, Direktur Utama ITM, mengatakan, salah satu kekuatan yang dimiliki ITM adalah kerangka ketangguhan Organisasi karyawan dengan tiga pilar ketangguhannya.

“Agar dapat menghadapi situasi yang masih tidak menentu, ITM memiliki kerangka ketangguhan Organisasi, dengan berintikan karyawan ITM yang menjalankan budaya Perusahaan, Banpu Heart. Kerangka ketangguhan ITM dibangun oleh Karyawan ITM dengan menegakkan tiga pilar ketangguhan, yaitu manajemen risiko, hubungan dengan para pemangku kepentingan, serta strategi bisnis dan struktur organisasi,” katanya, Rabu (18/5/22).

Untuk tahun 2022, Perusahaan menargetkan volume produksi sebanyak 17,5-18,8 juta ton dengan volume penjualan sebesar 20,5-21,5 juta ton.

Dari target volume penjualan tersebut, sebanyak 31% harga jualnya telah ditetapkan, 46% mengacu pada indeks harga batubara, 2% harga jualnya belum ditetapkan dan sisa 21% belum terjual.

Sebagai informasi, sepanjang Triwulan pertama 2022, ITM telah memproduksi batubara
sebanyak 3,8 juta ton di tengah cuaca buruk dan hujan ekstrim. Volume penjualan tercapai sebanyak 4,3 juta ton, yang dipasarkan ke Tiongkok (1,3 juta ton), Indonesia (0,9 juta ton), Jepang (0,6 juta ton), Bangladesh (0,4 juta ton), Filipina (0,3 juta ton), Thailand (0,3 juta ton), dan Negara-negara lain di Asia Timur, Tenggara, Selatan, serta Oseania.

Pos terkait