8 dibaca,  2 dibaca hari ini

JurnalPatroliNews,– Presiden Trump menambahkan bahwa orang-orang yang menyasar “simbol warisan nasional” akan menghadapi “proses hukum yang menyeluruh”. Dia berkata mereka yang merusak patung bisa dihukum 10 tahun penjara, merujuk perintah eksekutif tentang perlindungan monumen yang baru-baru ini ia tanda tangani.

Pertunjukan kembang api dengan iringan musik kemudian diadakan pada acara pra-Hari Kemerdekaan atau Independence Day itu, disaksikan oleh sekitar 7.500 penonton.

Pertunjukan itu merupakan yang pertama di Gunung Rushmore dalam satu dekade, setelah sempat dilarang atas kekhawatiran kembang api memantik kebakaran pada semak kering di sekitar monumen.

Dalam sambutannya, Gubernur South Dakota Kristi Noem dari partai Republik juga mengkritik para pemrotes, menuduh mereka “berusaha menghapus pelajaran dari sejarah”.

“Ini dilakukan dengan sengaja untuk mendiskreditkan prinsip-prinsip dasar Amerika,” ujarnya.

Acara pada Jumat ini adalah acara terbaru yang diadakan Presiden Trump di tengah pandemi virus corona, dalam usaha menyemangati para pendukungnya jelang pemilihan presiden pada November.

Sang presiden baru-baru ini mengadakan acara besar di Oklahoma dan Arizona, yang menuai kritik karena berisiko menyebabkan wabah baru saat kasus Covid-19 terus bertambah di seluruh negeri.

Protes dari warga asli Amerika

Kelompok warga asli Amerika mengkritik kunjungan Trump karena menimbulkan ancaman bagi kesehatan, dan karena merayakan kemerdekaan AS di wilayah yang sakral bagi mereka.

Banyak warga asli Amerika tidak merayakan Hari Kemerdekaan karena mereka mengaitkannya dengan penjajahan tanah air mereka dan hilangnya kemerdekaan kultural mereka.

Monumen Gunung Rushmore diukir antara tahun 1927 dan 1941, namun lahan tempatnya berdiri – di daerah Black Hills, South Dakota – direbut dari suku warga asli Lakota Sioux oleh pemerintah AS pada 1800-an.

“Presiden membahayakan anggota suku kami demi mengadakan sesi pemotretan di salah satu situs paling sakral bagi kami,” kata Harold Frazier, kepala Suku Sioux Sungai Cheyenne.

Menjelang acara itu, kelompok yang sebagian besar terdiri dari warga asli Amerika memblokir jalan utama menuju monumen dengan mobil-mobil van berwarna putih. Protes ini membuat mereka harus berhadap-hadapan dengan polisi.

Para pedemo akhirnya dibubarkan oleh polisi dan pasukan Garda Nasional dengan bom asap dan semprotan merica, lansir sejumlah media lokal.

Mobil-mobil van mereka diderek dan sejumlah pengunjuk rasa ditangkap setelah polisi menyatakan pemblokiran jalan itu sebagai “kerumunan yang melanggar hukum”, menurut surat kabar lokal Argus Leader. (BBC Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *