Klarifikasi, Sosiolog Tamrin Jelaskan Klaim Pandji Soal NU-Muhammadiyah ‘Elitis’

  • Whatsapp
Iustrasi NU-Muhammadiyah./Net

JurnalPatroliNews – Jakarta, Sosiolog Tamrin Tomagola mengakui Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah kurang mendampingi masyarakat miskin perkotaan. Celah ini kemudian diisi oleh ulama dari Front Pembela Islam (FPI).

Hal ini dikatakannya untuk mengklarifikasi ucapan komedian Pandji Pragiwaksono yang menyebut NU-Muhammadiyah elitis dengan mendasarkan itu pada pernyataan Tamrin dalam sebuah perbincangan.

Bacaan Lainnya

“Konteks pembicaraan saat itu adalah membahas kondisi kehidupan kelompok miskin kota (miskot) di perkampungan kumuh miskin (kumis) Jakarta,” ucap Tamrin, dalam akun Twitter pribadinya, @tamrintomagola, Jumat (22//1).

“NU dan Muhammadiyah kurang menyambangi dan mendampingi meringankan beban kehidupan ummat kelompok miskin kota (miskot) di perkampungan kumuh miskin (kumis) Jakarta,” lanjutnya.

“Kekosongan pendampingan itu kemudian diisi oleh FPI,” aku Thamrin.

Dia memaparkan bahwa FPI memiliki konsep kiai kampung yang pintu rumahnya terbuka 24 jam untuk umat kelompok miskot.

“Sama seperti terbukanya 24 jam pintu rumah para Kiai NU di pedesaan Jawa dan Kalimantan,” imbuhnya.

Meski demikian, ia mempersilakan publik untuk mempertanyakan pemakaian kata elitis bagi NU dan Muhammadiyah kepada Pandji.

“Penggunaan kata-kata: ‘rakyat’ dan ‘elitis’ sebaiknya ditanyakan kepada Sdr. Panji sendiri,” tepisnya.

Sebelumnya, Pandji Pragiwaksono melontarkan pernyataan yang menuai polemik di video yang berjudul ‘FPI Dibubarin Percuma?’ yang diunggah di kanal YouTube miliknya.

Ia pun mengutip pernyataan Thamrin yang mengatakan pintu ulama dari kalangan ormas FPI selalu terbuka untuk membantu masyarakat. Sementara NU dan Muhammadiyah terlalu elitis.

“Sering kejadian ada warga sakit, mau berobat gak punya duit, ke FPI, kadang kasih duit, kadang ngasih surat. Suratnya dibawa ke dokter jadi diterima. Kenapa seperti itu,” kata dia.

“Kata pak Tamrin Tomanggola, pintu ulama-ulama FPI terbuka untuk warga. Jadi orang mau datang bisa. Nah yang NU dan Muhammadiyah, karena terlalu tinggi dan elitis warga gak kesitu, warga ke nama-nama besar FPI,” ucapnya.

(*/lk)

Pos terkait