Lautan Manusia Tolak Otsus Jilid II di Nabire

Massa rakyat Papua saat long march di Nabire hari ini, 24 September 2020. (Foto : Suara Papua)

Jurnalpatrolinews – Nabire : Sambil meneriakkan yel-yel Papua Merdeka, ribuan rakyat Papua di Nabire, hari ini (24/09), turun jalan menolak perpanjangan Otsus Jilid II, dan menuntut Pemerintah Indonesia segera memberi hak penentuan nasib sendiri bagi bangsa Papua.

Sejak pagi pukul 09.00, masa rakyat Papua bergerak dari berbagai titik. Aparat Kepolisian tampak memblokade dan menangkap ratusan massa dari 5 titik di SP1, Pasar Karang, Kalibobo, Siriwini dan Kalisusu di bawa ke Polres Nabire. Di Polres Nabire, masa bertahan dan berorasi.

Bacaan Lainnya

Hingga pukul 10.00, massa rakyat Papua dari arah Wadio dan Wonorejo bergabung bersama mobil komando. Masa meneriakan yel-yel Papua Merdeka. Dipimpin oleh berbagai organisasi yang tergabung dalam Petisi Rakyat Papua (PRP), masa diarahkan berjalan kaki secara damai.

Aparat Kepolisian dibantu oleh Personel TNI tampak memblokade masa di Jembatan Kali Nabire. Setelah bernegosiasi dengan pihak koordinator aksi, TNI membuka blokade dan ribuan massa melanjutkan aksi dengan yel-yel “tolak Otsus” dan “Papua Merdeka”.

Masa rakyat Papua mulai bergabung dari segala arah menuju ke Polres Nabire, tempat dimana ratusan rakyat ditangkap Polisi sebelumnya. Ribuan massa memadati halaman dan ruas jalan di Polres Nabire.

Terlihat pimpinan dan aktivis KNPB Nabire dan Dogiay ikut bergabung. Begitu juga dari Forum Independen Mahasiswa (FIM), Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan berbagai organisasi gerakan, komponen agama, adat, dan Mahasiswa ikut aksi dan menyampaikan orasi-orasi saat long mars.

Di halaman Polres Nabire massa rakyat yang tergabung dari berbagai organisasi dalam Petisi Rakyat Papua (PRP) berorasi dan menyampaikan sikap penolakan terhadap keberlanjutan Otonomi Khusus.

“Kami menolak segala bentuk evaluasi dan revisi Otsus dalam bentuk apapun. Kami tuntut segera kembalikan kepada rakyat West Papua untuk menentukan nasibnya sendiri sebagai solusi yang demokratis,” kata Adhen Dimi, Koordinator Aksi saat membacakan deklarasi Petisi Rakyat Papua.

Aksi Rakyat Papua hari ini, menurut Jefri yang merupakan mantan Ketua Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), bukan untuk menyampaikan aspirasi ke Bupati, DPRD, maupun Gubernur, karena mereka yang menikmati Otsus.

Deklarasi Petisi Rakyat Papua dibacakan dan secara simbolis ditandatangani oleh salah satu perwakilan Kepala suku mewakili semua kepala Suku yang ada di Teluk Cenderawasih. “Kami menolak Otsus dan mendukung perjuangan bangsa Papua untuk merdeka,” Pungkas Ayub Wenda, Kepala Suku D3N.

Sementara itu, terlihat perwakilan dari Pemerintah Daerah, dan beberapa anggota DRPD Nabire ikut hadir, namun tidak diberi kesempatan untuk berbicara.

Setelah Deklarasi Peluncuran Petisi Rakyat Papua, massa rakyat Papua diarahkan kembali pulang dengan tertib. Sekitar 200 masa yang ditangkap ikut dibebaskan.

Menurut pantauan media ini, aparat kepolisian dibantu dengan kekuatan penuh dari TNI berjaga-jaga di segala ruas jalan dengan peralatan senjata lengkap. Masa pendemo menyampaikan aspirasi di muka.

Jubir PRP: Sangat Terkutuk Kalau ada yang lanjutkan Otsus

Di tempat terpisah, Suara Papua kembali menghubungi Victor Yeimo, Juru Bicara Petisi Rakyat Papua (PRP) terkait gelombang aksi demo tolak Otsus rakyat Papua menghadapi revisi Otsus yang tengah diusulkan dan dibahas.

“Rakyat sedang ikuti kelompok elit kolonial, baik Pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat yang bikin Revisi Otsus semaunya berdasarkan nafsu kekuasaannya tanpa perdulikan desakan perjuangan rakyat, “pungkas Yeimo.

Upaya segelintir elit ini, menurut Victor, adalah perbuatan yang sangat menyayangkan dan memilukan hati rakyat Papua di tengah konflik yang terus berdarah-darah.

“Kompromi segelintir elit dengan Jakarta untuk revisi Otsus ini perbuatan terkutuk, karena tidak pahami apa yang sudah dan sedang dialami dan dituntut oleh rakyat Papua,” tegas Victor.

Menurutnya gerakan rakyat Papua bersama Petisi Rakyat Papua (PRP) merupakan bentuk kedewasan berpolitik dan berdemokrasi rakyat Papua untuk mencari solusi politik atas konflik Papua.

Sebelumnya, Rabu (23/09), aksi PRP melalui Front Rakyat Papua di Timika diblokade Polisi dan 9 orang ditangkap dan dibebaskan tadi malam. Sementara, Senin (21/09) di Manado, Mahasiswa Papua dari berbagai paguyuban menggalang Petisi Rakyat Papua menolak Otsus.  (suara papua)

Pos terkait