No Happy Weekend! AS-China Makin Panas di Laut China Selatan

  • Whatsapp
Foto: Militer AS di Laut Cina Selatan (Tangkapan layar twitter @USPacificFleet)

JurnalPatroliNews – Jakarta, Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat (AS) mengecam penerbangan armada pesawat militer China di wilayah Laut China Selatan (LCS), tetapi menyebut aksi itu tidak memberikan ancaman.

Dikutip Reuters, Sabtu (30/1/2021), Militer AS mengatakan pada hari Jumat (29/1/2021) bahwa penerbangan militer China dalam sepekan terakhir di Laut China Selatan “dalam waktu singkat” tidak menimbulkan ancaman bagi kelompok kapal induk Angkatan Laut AS di wilayah tersebut, tetapi sesuai dengan pola perilaku tidak stabil dan agresif oleh Beijing.

BACA JUGA :

“Theodore Roosevelt Carrier Strike Group memantau dengan cermat semua aktivitas Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLAN) dan Angkatan Udara (PLAAF), dan tidak pernah menjadi ancaman bagi kapal, pesawat, atau pelaut Angkatan Laut AS,” Komando Pasifik militer AS kata dalam sebuah pernyataan.

Sebelumnya AS di bawah perintah Presiden Joe Biden menerjunkan rangkaian kapal perang tempur yang dipimpin USS Theodore Roosevelt untuk melakukan operasi yang disebut sebagai “kebebasan navigasi” di lautan kaya migas itu. Tujuan dari operasi itu adalah untuk membendung ekspansi China di wilayah laut sengketa itu.

Langkah ini membuat Beijing bereaksi. Melalui Kementerian Pertahanannya, China menyatakan bahwa misi kapal AS di LCS itu adalah misi yang mustahil.

“Fakta menunjukkan bahwa menahan China adalah misi yang mustahil, dan hanya akan berakhir dengan menembak diri Anda sendiri,” kata juru bicara kementerian pertahanan Wu Qian pada Kamis (28/1/2021) seperti dikutip AFP.

“Hubungan militer China-AS saat ini berada pada titik awal bersejarah yang baru dengan kedatangan pemerintahan Biden,” kata Wu, sambil mendesak AS untuk mengadopsi “mentalitas non-konfrontatif, saling menghormati, danwin-win solution.”

China semakin menegaskan kehadirannya di wilayah yang disengketakan dalam beberapa tahun terakhir, secara agresif memperluas wilayahnya melalui pulau-pulau dan terumbu karang buatan manusia, yang membuat kecewa tetangga Asia Tenggara dengan klaim yang bersaing.

Sebagai tanggapan, pemerintahan pendahulu Biden pada masa Presiden Donald Trump sering mengirim kapal perang di dekat pulau-pulau yang dikendalikan oleh Beijing dalam “operasi kebebasan navigasi” yang oleh China dianggap sebagai postur belaka.

Laut Cina Selatan (LCS) memiliki kepentingan ekonomi yang sangat besar. Lautan ini menjadi jalur sepertiga dari perdagangan dunia dengan nilai sekitar US$ 3 miliar sekaligus menjadi rumah bagi cadangan minyak dan gas yang besar. China mengklaim90persen lautan ini, namun Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam juga mengklaim sebagian darinya.

(cnbc)

Pos terkait