Pemprov DKI: Bus Terbakar di Bogor Bukan Milik TransJakarta

  • Whatsapp
Kebakaran terjadi di lokasi penampungan bangkai bus TransJakarta di Desa Dramaga, Bogor. Puluhan bangkai bus nampak hangus terbakar. (M Sholihin/detikcom)

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyebut bus yang terbakar di Dramaga, Kabupaten Bogor, bukan miliknya atau TransJakarta, meskipun di bus-bus tersebut tertempel logo dan tulisan TransJakarta.

“Jadi ya teman-teman, terkait dengan adanya kegiatan, apa, pemotongan ya, itu bukan milik TransJakarta,” ucap Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria kepada wartawan di Mampang Prapatan, Sabtu (14/11/2020).

Bacaan Lainnya

Riza menjelaskan asal-usul bus-bus tersebut. Menurutnya, bus tersebut adalah bus yang tidak memenuhi spesifikasi TransJakarta.

“Itu dulu ada suatu perusahaan yang mengadakan bus tapi tidak jadi, dibatalkan karena tidak sesuai dengan spek, dan ketentuan lainnya,” katanya.

“Jadi itu bukan milik kami, bukan milik Pemprov juga, bukan milik TransJakarta,” sambungnya.

Sebelumnya pada Jumat (13/11), sekitar pukul 14.00 WIB penampungan bangkai buas TransJakarta terbakar hebat. Sebanyak 37 bus hangus terbakar dalam kejadian ini.

Kapolsek Dramaga Iptu Dian Pornomo mengatakan kebakaran diduga akibat percikan api yang keluar dari alat las yang digunakan untuk memotong badan bus. Sehingga api kemudian membakar bus dan menjalar ke bus-bus di lokasi.

Di lokasi ini, sebanyak 200 bangkai bus TransJakarta parkir sejak 2018. “Informasi yang kami dapat ini ada lebih dari 200 bus di sini ya. Perlu diketahui kami juga sebenarnya belum pernah ketemu sama pemilik lahan ataupun yang mengelola proyek bus ini,” kata Camat Dramaga, Ivan Pramudia, Jumat (13/11).

Sejak tiga pekan lalu, kata Ivan, di lokasi ini berlangsung kegiatan proses pemotongan badan bus menggunakan alat las. Kegiatan ini, lanjut Ivan, sempat dikeluhkan warga karena asap dari proses pemotongan dan pembakaran badan bus mengganggu pernapasan warga.

“Kita juga sempat sidak ke sini, kemudian meminta teknik pemotongan diubah, agar asapnya tidak mengganggu warga akibat pembakaran ban dan cat,” kata Ivan.

“Tapi tiga kali kita minta tidak jug

(dtk)

Pos terkait