1,312 dibaca,  1 dibaca hari ini

Jurnalpatrolinews – Damaskus : Presiden Suriah Bashar al-Assad memuji peran tentara dalam berbagai fase perang melawan terorisme dan komitmen mereka dalam membela rakyat Suriah.

Pujian ini disampaikan bertepatan dengan hari ulang tahun Tentara Nasional Suriah ke-75. Tentara Suriah dibentuk pada 1 Agustus 1945. Berbeda dengan tentara di sebagian besar negara-negara Arab, tentara Suriah pernah terlibat dalam beberapa perang termasuk perang tahun 1948, 1967, dan 1973 dengan militer rezim Zionis.

Tentara di sebagian besar negara Arab tidak mengambil tindakan apapun untuk melawan kejahatan dan pendudukan rezim Zionis di tanah Palestina. Namun, tentara Mesir, Suriah, dan Yordania terlibat pertempuran dengan Israel, tetapi mereka kalah.

Sejak tahun 2011, tentara Suriah terlibat dalam perang melawan kelompok-kelompok teroris yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Jadi, tentara Suriah tidak berperang dengan sebuah pasukan dari negara asing, tetapi dengan kelompok-kelompok teroris yang anggotanya berasal dari puluhan negara asing dan juga didukung oleh poros Arab – Ibrani – Barat – dan Turki.

Perang panjang ini membawa pencapaian-pencapaian penting bagi tentara Suriah. Salah satunya adalah mereka mampu mempertahankan integritas teritorial Suriah dan membersihkan sebagian besar wilayah negaranya dari teroris. Sebuah fakta yang disinggung oleh Presiden Assad dalam pesannya kepada tentara Suriah.

Tentara Suriah tidak memiliki pengalaman yang cukup di awal-awal perang menumpas kelompok teroris, karena teroris menjalankan perang gerilya dan tidak memiliki satu garis komando. Cara mereka bertempur dan kemampuan mereka tidak jelas bagi tentara Suriah, sementara tentara Suriah memiliki struktur yang baku dan akrab dengan metode perang tradisional.

Hal ini membuat tentara Suriah menghadapi banyak kesulitan di bulan-bulan pertama perang menumpas kelompok teroris dan mereka terlihat kewalahan dalam perang ini.

Seorang analis militer negara-negara Asia Barat, Aram Nerguizian berbicara tentang kondisi tentara Suriah pada tahun 2012 dengan mengatakan, “Pada masa itu, pasukan darat Suriah menghadapi sebuah tantangan besar, mereka dituntut beradaptasi dengan realitas baru atau mati di medan tempur. Satuan-satuan militer dibagi ke dalam unit-unit yang lebih kecil yang tidak begitu efisien. Para komandan yang sudah tua atau tidak berkompeten diganti dengan orang-orang muda, di mana sebagian dari perwira muda ini minim pengalaman.”

Kemudian kelompok-kelompok perlawanan yang akrab dengan perang gerilya datang ke Suriah, yang diikuti oleh para penasihat militer dari Iran dan Rusia. Dukungan ini memungkinkan tentara Suriah untuk mendefinisikan ulang posisinya dalam perang melawan kelompok teroris dalam waktu singkat.

Sebenarnya, kunci kesuksesan tentara Suriah dalam perang melawan terorisme adalah kesetiaan mereka kepada negara dan sistem. Jelas bahwa loyalitas tentara merupakan salah satu faktor utama bagi kesuksesan sistem Suriah dalam perang melawan terorisme, loyalitas ini membuat tentara Suriah tidak lari dari medan perang.

Kehadiran para komandan patriotik dan terampil seperti Mayor Jenderal Issam Zahreddine dan Mayor Jenderal Suheil al-Hassan, telah meningkatkan kepercayaan rakyat dan pemuda Suriah pada tentara. Mereka kemudian bergabung dengan tentara untuk menumpas kelompok-kelompok teroris.

Saat ini tentara Suriah menghadapi tantangan lain di era pasca-terorisme. Seorang analis militer, Anton Lavrov mengatakan senjata yang dikuasai oleh kelompok-kelompok bersenjata dan sebagian masyarakat serta kehadiran pasukan Turki dan AS, merupakan salah satu tantangan baru yang dihadapi tentara Suriah.  (pars)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *