Kamis, 27 Februari 2020 17:35 WIB

INTERNASIONAL

22 Orang Meninggal Akibat Corona, Iran Tangkap 24 Penyebar Rumor Online

Ferdinand Mannopo - jurnalpatrolinews
22 Orang Meninggal Akibat Corona, Iran Tangkap 24 Penyebar Rumor Online Foto : Warga Iran memakai masker saat beraktivitas di tempat umum di tengah wabah virus corona (AP Photo/Ebrahim Noroozi)

JurnalPatroliNews - Teheran - Wabah virus corona terus mengganas. Jumlah kasus virus corona di wilayah Iran kini bertambah menjadi 141 kasus. Kepolisian siber Iran menangkap 24 orang yang dituduh menyebar rumor secara online soal virus corona.

Seperti dilansir AFP dan Associated Press, Kamis (27/2/2020), Iran menjadi negara yang terdampak virus corona paling parah di kawasan Timur Tengah. Kantor berita IRNA melaporkan 22 orang meninggal hingga Kamis (27/2) waktu setempat.

Otoritas Iran tengah berjuang mengendalikan penyebaran wabah virus corona yang banyak muncul di Qom, sebuah wilayah pusat studi Islam yang menarik banyak peziarah.

Sekolah-sekolah, universitas dan pusat-pusat budaya setempat diliburkan sementara. Acara-acara olahraga dibatalkan. Tim petugas kebersihan dikerahkan untuk menyemprotkan disinfektan ke bus-bus umum, rangkaian kereta api dan tempat-tempat umum.

Para pakar kesehatan internasional telah menyampaikan kekhawatiran soal cara Iran menangani wabah ini. Kekhawatiran itu memuncak pada Selasa (25/2) waktu setempat, ketika kepala satuan tugas dalam memerangi virus corona, Wakil Menteri Kesehatan Iran, Iraj Harirchi, mengakui dirinya telah terinfeksi virus corona.

Namun juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Kianoush Jahanpour, menyebut situasi akan 'membaik'.

Vahid Majid selaku Kepala Unit Kepolisian Siber Iran, yang baru saja dibentuk, mengumumkan penangkapan 24 orang yang dituduh menyebarkan rumor-rumor secara online soal penyebaran virus corona. Mereka yang ditangkap telah diserahkan kepada otoritas kehakiman Iran.

Disebutkan juga oleh Majid, seperti dilansir kantor berita ISNA, bahwa 118 pengguna internet lainnya sempat ditahan secara singkat dan mendapatkan peringatan.

Majid menyatakan bahwa penangkapan itu dilakukan setelah pembentukan unit khusus untuk 'memerangi rumor terkait penyebaran virus corona di negara ini'. "Polisi tengah memantau semua berita yang dipublikasikan di dunia maya negara ini," sebut Majid.

Ditegaskan Majid bahwa unit khusus itu akan mengambil tindakan terkait berita-berita, foto atau video yang 'mengandung rumor atau berita palsu yang bertujuan mengganggu publik dan meningkatkan kekhawatiran dalam masyarakat'.

Para pakar mengkhawatirkan Iran mungkin menyembunyikan jumlah kasus dan korban meninggal akibat virus corona, merujuk pada penyebaran luas yang terjadi di Iran dan negara-negara sekitarnya. Sebagai contoh, Iran masih belum mengonfirmasi kasus apapun di Mashhad, padahal diketahui sejumlah kasus virus corona di Kuwait terkait dengan kota tersebut.

Reporters Without Borders, kelompok pemantau media yang berkantor di Paris, menyebut Iran 'tampaknya menutupi informasi soal wabah ini'. Kelompok itu juga mengecam apa yang disebutnya sebagai 'persekusi Iran terhadap outlet media dan jurnalis yang mempublikasikan informasi independen'.

"Menahan informasi bisa membunuh," cetus Reporters Without Borders memperingatkan otoritas Iran.

Secara terpisah, Presiden Hassan Rouhani, menuduh musuh Iran, dalam hal ini Amerika Serikat (AS), berupaya menggunakan propaganda soal virus corona untuk menanamkan 'kebencian' terhadap Iran. "Mereka (AS-red) sendiri berjuang melawan virus corona," sebut Rouhani dalam rapat kabinet mingguan.

Tuduhan Rouhani disampaikan sehari setelah Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, menuduh Iran menutup-nutupi wabah virus corona. "Teheran mungkin menahan detail-detail yang penting," ucap Pompeo.

[dtk]


KOMENTAR
Kontak Informasi
Redaksi : ekawdy77ads@gmail.com
Media Partner : ekawdy77ads@gmail.com
Iklan : jurnalpatroli2016@gmail.com, WA 081318185028