Jumat, 21 Februari 2020 19:42 WIB

NASIONAL

Benarkah BPIP Akan Ganti Salam Keagamaan dengan Salam Pancasila?

Ferdinand Mannopo - jurnalpatrolinews
Benarkah BPIP Akan Ganti Salam Keagamaan dengan Salam Pancasila? Foto : Prof Yudian

JurnalPatroliNews – Jakarta,-- Beberapa waktu terakhir ini muncul pemberitaan di berbagai media massa mengenai pernyataan Kepala BPIP Prof Yudian Wahyudi terkait salam umat Muslim yaitu Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pemberitaan yang berasal dari wawancara “Blak-blakan Kepala BPIP: Jihad Pertahankan NKRI” di detik.com tanggal 12 Februari 2020 menjadi ramai dan kontroversial karena diviralkan di media sosial dan group-group Whatsapp dan dikesankan bahwa Kepala BPIP akan mengganti Assalamualaikum Wr Wb dengan Pancasila.

Wawancara tersebut di atas dilakukan beberapa hari sebelum Kepala BPIP melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi II DPR II pada tanggalk 18 Februari 20230. Jadi  dalam kaitan ini Kepala BPIP tidak membuat pernyataan baru setelah RDP dengan Komisi II DPOR RI.

Untuk itu, marilah kita simak petikan pernyataan Kepala BPIP di video Detik.com tanggal 12 Februari 2020 tersebut, mulai menit 29.08 hingga 32.56 sebagai berikut:

“Daud Jusuf (Menteri Pendidikan di era Orde Baru) ketika menjadi jadi Menteri tidak pernah sekalipun mengucapkan Assalamualaikum di hadapan publik. Tapi ketika (bertemu) pribadi fasih betul (mengucapkan Assalamualaikum). Mungkinkah nilai-nilai semacam Daud Jusuf ini dihidupkan kembali?,” begitu pertanyaan presenter detik.com Aleksander Sudrajat

“Dulu kita sudah mulai nyaman dengan Selamat Pagi (sebagai salam nasional). Tapi sejak reformasi diganti dengan Assalamualaikum, total, maksudnya dimana-mana, tidak peduli ada orang Kristen Hindu, pokoknya hajar saja. Tapi karena mencapai titik ekstrimnya maka sekarang muncul kembali. Kita kalau salam sekarang ini harus 5 atau 6 (sesuai dengan agama-agama). Nah ini jadi masal;ah baru lagi” ujar Prof Yudian.

“Sekarang sudah ditemukan oleh siapa gak tau Yudi latief atau siapa yang lain (yang namanya) Salam Pancasila,” tambah Prof Yudian

“Jadi sependapat dengan Salam Pancasila?” sela presenter

“Iya, Salam Pancasila. Salam itu kan maksudnya mohon ijin atau permohonan kepada seseorang sekaligus mendoakan agar kita selamat. Itulah makna salam. Nah Bahasa Arabnya Assalamualaikum Wr Wb” ujar Proif Yudian.

Untuk menjelaskan pernyataannya, Kepala BPIP menambahkan sebagai berikut “Sekarang kita ambil contoh, ada hadis “kalau anda sedang berjalan dan ada orang duduk, maka ucapkan salam. Itu kan maksudnya adaptasi sosial.”

“Itu di jaman agraris. Sekarang jaman industri dengan teknologi digital. Sekarang mau balap pakai mobil, salamnya pakai apa? Pakai lampu atau klakson. Kita menemukan kesepakatan-kesepakatan bahwa tanda ini adalah salam. Jadi kalau sekarang kita ingin mempermudah, seperti dilakukan Daud Jusuf, maka untuk di public service, cukup dengan kesepakatan nasional, misalnya Salam Pancasila. Itu yang diperlukan hari-hari ini. Daripada ribut-ribut itu para Ulama, kalau kamu ngomong Shalom  berarti kamu jadi orang Kristen,” jelas Kepala BPIP

“Wong Nabi Muhammad SAW saja mendoakan raja Najasi yang Kristen saat wafat. Ada unsur kemanusiaan. Nah kita juga begitu, ngomong Shalom tidak ada unsur teologisnya. Wong kita sampaiukan (salam) supaya kita damai. Maaf, bagi orang Kristen mengucapkan salam juga tidak menjadi bagian teologis. Itu kode nasional yang tidak masuk dalam akidah. Kalau bisa dipakai tidak masalah.” pungkas Kepala BPIP

Dari pernyataan Prof. Yudian seperti tersebut di atas jelas sekali tidak ada satupun narasi yang semata menyatakan penggantian Assalamualaikum dengan Salam Pancasila. BPIP tidak pernah mengusulkan penggantian Assalamualaikum dengan Salam Pancasila. Yang disampaikan adalah mengenai kesepakatan-kesepakatan nasional mengenai tanda dalam bentuk salam dalam pelayanan publik, dalam kaitan ini kesepakatannya adalah Salam Pancasila.

Salam Pancasila sebagai salam kebangsaan diperkenalkan untuk menumbuhkan kembali semangat kebangsaan serta menguatkan persatuan dan kesatuan yang terganggu karena menguatnya sikap intoleran.

Salam Pancasila pertama kali dikenalkan oleh Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Dewan Pengarah BPIP di hadapan peserta Program Penguatan Pendidikan Pancasila di Istana Bogor tanggal 12 Agustus 2017.

Salam Pancasila dilakukan dengan mengangkat lima jari di atas pundak dengan lengan tegak lurus. Makna mengangkat kelima jari di atas pundak adalah sebagai simbol penghormatan seluruh elemen masyarakat terhadap lima sila Pancasila.  Penghormatan dan pelaksanaan sila-sila mesti dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat, mulai dari pejabat negara hingga seluruh anggota masyarakat.

Salam Pancasila sendiri diadopsi dari Salam Merdeka yang diperkenalkan Bung Karno melalui Maklumat Pemerintah 31 Agustus 1945 dan berlaku 1 September 1945. Maklumat Pemerintah tanggal 31 Agustus 1945 tersebut hingga kini belum pernah dicabut.

Salam Pancasila sangat sejalan dengan makna dari kata 'salam' itu sendiri. Kata “salam” memiliki arti sangat luas dan dalam, tidak hanya berarti keselamatan tetapi juga “perdamaian". Salam berarti kedamaian yang dalam arti luas, berarti 'kita bersaudara', 'kita dalam kedamaian' yang sama sekali membuang jauh unsur-unsur kebencian atau penolakan atas segala apapun yang telah kita sepakati.

"Pada 1 September 1945," kata Bung Karno, sebagaimana ditulis Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, "aku menetapkan supaya setiap warga negara Republik memberi salam kepada orang lain dengan mengangkat tangan, membuka lebar kelima jarinya sebagai pencerminan lima dasar negara dan meneriakkan, merdeka!".

Bung Karno mengaku terinspirasi dari Nabi Muhammad SAW. "Sebagaimana nabi besar Muhammad SAW, memperkenalkan salam untuk mempersatukan umatnya, kami pun menciptakan satu salam kebangsaan bagi bangsa Indonesia," katanya saat diwawancara Cindy Adams. 

Selanjutnya dalam suatu pidatomya Soekarno menyampaikan sebagai berikut "Saudara-saudara sekalian! Saya adalah orang Islam, dan saya keluarga negara republik Indonesia. Sebagai orang Islam, saya menyampaikan salam Islam kepada saudara-saudara sekalian, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarkatuh.

Sebagai warga negara Republik Indonesia, saya menyampaikan kepada saudara-saudara sekalian, baik yang beragama Islam, baik yang beragama Hindu-Bali, baik yang beragama lain, kepada saudara-saudara sekalian saya menyampaikan salam nasional, Merdeka!"

Memperhatikan kondisi sekarang ini, Salam Merdeka yang sekarang diadopsi menjadi Salam Pancasila tetap relevan di tengah kecenderungan orang atau kelompok tertentu yang lantang mengucapkan salam keagamaan yang berisikan pesan damai, tetapi tidak berbanding lurus dengan perbuatannya yang tidak memberi damai kepada orang lain.

Melalui Salam Pancasila kita dapat saling mengingatkan akan nilai-nilai Pancasila, sebelum kita mengamalkannya dalam kehidupan keseharian. Pengamalan nilai-nilai Pancasila merupakan tanggung jawab bersama yang harus kita emban. Kita harus memantapkan ideologi Pancasila dan harus ditanamkan di lingkungan masing-masing. (JPN)


Baca Juga
KOMENTAR
Kontak Informasi
Redaksi : ekawdy77ads@gmail.com
Media Partner : ekawdy77ads@gmail.com
Iklan : jurnalpatroli2016@gmail.com, WA 081318185028