JPNews
Jumat, 11 Januari 2019 17:47 WIB

DAERAH

Berkedok Pinjaman Online, Ratusan Nasabah BRI di Sulsel Kena Tipu

Aldhy Irawan - jurnalpatrolinews
Berkedok Pinjaman Online, Ratusan Nasabah BRI di Sulsel Kena Tipu Foto : Ilustrasi

JurnalPatroliNews Makassar - Ratusan nasabah bank ditipu dengan adanya website palsu terkait pinjaman online. Para pelaku meraup keuntungan hingga miliaran rupiah dari aksi mereka.

"Berdasarkan laporan masyarakat, pihak BRI menganalisis transaksi yang dilakukan dan mayoritas dilakukan di Sulsel," kata Kepala Layanan BRI Pusat Dedi Juhaeni di Mapolda Sulsel, Makassar, Jumat (11/1).

Atas laporan tersebut, pihak Ditkrimsus Polda Sulsel mengembangkan penyelidikan. Dari data yang dikumpulkan, tercatat sekitar 115 nasabah yang tertipu pinjaman online ini. Total kerugian bahkan mencapai Rp 1,4 miliar.

 Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani mengatakan sejauh ini ada dua tersangka yang telah ditangkap. Mereka adalah Suparman dan Sudirman yang berada di Kabupaten Sidrap. Dalam aksinya, Suparman membuat website  tentang pinjaman online dan disebarkan secara acak.

"Tersangka menyebarkan SMS dengan cara random berisikan pinjaman online  dengan syarat mudah dan bunga rendah melalui creditrupiah.com," kata Dicky di lokasi yang sama.

Suparman bekerja sama dengan Nursyam, yang saat ini masih berstatus DPO. Apabila tersangka tertarik, Nursyam menghubungi korban dan meminta agar korban memiliki rekening BRI yang terdaftar di internet banking. Syarat lainnya, nasabah harus memiliki dana sekitar 10 persen dari total dana yang akan dipinjam.

Nursyam mengirim sebuah link website  palsu BRI dan meminta korban mengisi data-data pribadi di sana termasuk nomor PIN nasabah.

"Dengan terisinya data korban ada web phishing tersebut, maka terekamlah data korban sehingga pelaku dapat dengan mudah mengambil yang ada di rekening korban," ungkapnya.

Untuk tersangka Sudirman, dia bersama rekannya membuat modus yang sama dengan menyebarkan SMS secara acak untuk pinjaman online dengan kedok perusahaan pembiayaan bernama Asia Finance.

Sama seperti Suparman, Sudirman bersama empat rekannya yang berstatus DPO kemudian menuntun korban agar mengisi data pribadi mereka. Mereka melakukan aksinya dari bulan Maret 2018 hingga Oktober 2018.

"Dari kurun waktu itu, tersangka sudah mendapatkan puluhan korban," kata dia.

Atas tindakan mereka, polisi mempersangkakan terdakwa sesuai UU ITE. Mereka diancam pidana 12 tahun penjara dan denda maksimal Rp 12 miliar. (*luk)


KOMENTAR
Silakan login untuk memberikan komentar
LOGIN