JPNews
Kamis, 15 November 2018 19:53 WIB

BISNIS

BI Longgarkan Aturan GWM Averaging dan PLM

Aldhy Irawan - jurnalpatrolinews
BI Longgarkan Aturan GWM Averaging dan PLM Foto : Bank Indonesia

JurnalPatroliNews JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menjelaskan alasan melonggarkan aturan GWM averaging dan Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM). Pelonggaran ini untuk memberikan fleksibilitas likuiditas bank.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan sampai saat ini kondisi likuiditas di perbankan dan pasar uang masih cukup. Hal ini ditunjukkan rasio likuiditas terhadap DPK yang berada di kisaran 19,2% pada September 2018. Angka ini lebih tinggi dari posisi Agustus lalu yang mencapai 18,3%.

"Secara keseluruhan kita mencermati distribusi likuiditas antar bank baik bank besar dan bank kecil. Distribusi likuiditas pada individual bank [perlu] untuk meningkatkan fleksibiitas dan distribusi dari likuiditas antar bank tadi, maka itu dasar kami mengeluarkan ketentuan yang terkait dengan GWM averaging dan PLM," ujar Perry dalam Konferensi Pers Pengumuman Bunga Acuan di Jakarta, Kamis (15/11/2018).

Menurut Perry sampai saat ini kondisi likuiditas di perbankan dan pasar uang masih cukup sehingga perlu dilakukan fleksibilitas atau pelonggaran. Hal ini ditunjukkan rasio likuiditas terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK) yang menurutnya masih berada aman.

Berdasarkan data pada September 2018, angka DPK berada di level 19,2%. Angka ini jauh lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang hanya mencapai 18,3%. Perry menambahkan, PLM mencapai 4% dari DPK, dalam ketentuan selama ini sekitar 2% bisa digunakan sebagai underlying transaksi repo dengan BI. PLM sendiri berbentuk surat berharga baik itu Surat Berharga Bank Indonesia maupun Surat Berharga Negara (SBN).

"Sekarang seluruh 4% itu bisa digunakan repo kepada bank. Sehingga bank bila memerlukan likuiditas pergi ke BI, sebagai underlying ini langkahnya mengatasi itu tadi. Ini bisa tingkatkan fleksibilitas antar kelompok dan individual bank," jelasnya.

Untuk GWM averaging, Perry menjelaskan ini adalah bagian dari GWM primer yang sekarang 6,5% dari DPK. Sebesar 2% penghitungannya tidak perlu harian tetapi rata-rata dalam periode pemeliharaan.

"Itu demkian dari 6,5%, semula 2% tidak perlu dipenuhi hari per hari, sekarang jadi 3%. Dengan demikian, ini meningkatkan fleksibilitas dari manajemen likuiditas," tambah Perry.

Perry menjelaskan kedua pelonggaran ini memperkuat likuiditas dan secara total dianggap cukup.

"Peraturan BI sudah kita terbitkan. Kita selama ini juga sudah bicara dengan perbankan. Dalam waktu dekat, begitu bank-bank siap kemudian ditransaksikan di bank," ungkap Perry. (dai)


Berita Terkait
KOMENTAR
Silakan login untuk memberikan komentar
LOGIN