Selasa, 16 Juli 2019 12:40 WIB

INTERNASIONAL

'Ekonomi China' Lesu Bikin Sri Mulyani Waswas

Beno - jurnalpatrolinews
'Ekonomi China' Lesu Bikin Sri Mulyani Waswas Foto : Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

JurnalPatroliNews - Jakarta,--  Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan negara-negara di dunia, termasuk Indonesia harus kian waspada dengan pelemahan ekonomi China. Saat ini, ekonomi China tengah menyentuh titik terendah sejak 1992. 

Ia menjelaskan negara-negara di dunia perlu waspada karena China merupakan negara dengan tingkat ekonomi terbesar kedua di dunia dan memegang peran penting dalam perdagangan global. 

"Tentu pengaruh dari perlambatan dan pelemahan ekonomi China akan terlihat di dunia internasional," ungkap bendahara negara di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/7).


Menurut dia, beberapa lembaga internasional dunia bahkan sudah memperkirakan pelemahan ekonomi China bisa menggerus 0,5 persen pertumbuhan ekonomi dunia. Untuk itu, menurut dia, lesunya ekonomi China bakal menjadi risiko bagi negara-negara lain. 

Bank Dunia sebelumnya memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini dari 2,9 persen menjadi 2,6 persen. Sementara Lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya memproyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini turun dari 3,5 persen menjadi 3,3 persen. 

"Ini sesuai prediksi bahwa perang dagang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 0,5 persen lebih lemah. Ini perlu menimbulkan kewaspadaan terhadap pelemahan yang terjadi," tuturnya. 

Oleh karena itu, menurut dia, pemerintah saat ingin tengah berupaya mencari jalan keluar dari risiko tersebut. Salah satu caranya dengan mencari celah untuk memanfaatkan dampak perang dagang, yakni berupaya meningkatkan ekspor ke negara-negara yang menurunkan impor dari China. 

Lalu, mengambil perhatian investor asing yang keluar dari China. "Oleh karena itu berbagai kebijakan untuk meningkatkan investasi itu akan kami terus fokuskan," tandasnya. 

Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi China dilaporkan mencapai angka 6,2 persen pada kuartal II 2019. Capaian tersebut merupakan yang terendah dalam 27 tahun terakhir atau sejak 1992 silam. 

Sementara pada kuartal I 2019, ekonomi negara yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping itu masih tumbuh sekitar 6,4 persen. Sejumlah pihak menilai penurunan ekonomi China terjadi karena dampak perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) sejak beberapa waktu terakhir.

(CNN INDONESIA)


KOMENTAR
Kontak Informasi
Redaksi : -
Media Partner : -
Iklan : -