JPNews
JPNews
Kamis, 08 November 2018 16:32 WIB

NASIONAL

Harga Pil Koplo Naik, Air Rebusan Pembalut Bekas Jadi Sasaran. BNN Temukan Ngetren Play Baru di Jateng

Ferdinand Mannopo - jurnalpatrolinews
Harga Pil Koplo Naik, Air Rebusan Pembalut Bekas Jadi Sasaran. BNN Temukan Ngetren Play Baru di Jateng Foto : Ist

Jurnalpatrolinews - Jakarta,  Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Tengah (BNNP Jateng) atas dasar laporan masyarakat tengah menelusuri dan mengendus adanya 'tren play baru' perilaku menyimpang anak-anak dan remaja untuk mabuk. Tren baru tersebut adalah meminum air rendaman pembalut yang direbus.

Meski bukan gaya baru, kemunculan gaya ini tengah santer di masyarakat Jawa Tengah seiring sulit dan mahalnya mendapatkan narkoba jenis sabu.

"Sebenarnya ini bukan cara baru, di luar Jateng sudah beredar. Nah kalau di sini kami dapat dari informasi masyarakat yang kemudian kami telusuri. Kebanyakan terjadi di daerah Pantura pinggiran seperti Demak, Kudus, Pati dan Rembang," kata Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Jateng Ajun Komisaris Besar Suprinarto, Rabu (7/11).

Dari hasil penelusuran, mereka yang mengkonsumsi air rendaman pembalut yang direbus ini adalah anak-anak dan remaja jalanan yang selama ini biasa fly dengan menghirup lem, minum obat batuk cair dan pil koplo. Ironisnya, awalnya pembalut yang digunakan adalah pembalut lama di tempat-tempat pembuangan sampah.

Namun, atas pertimbangan kebersihan dan higienis, pembalut yang digunakan sekarang adalah pembalut baru. "Kebanyakan mereka itu anak-anak dan remaja jalanan yang biasa ngelem, ngomix dan ngoplo. Karena sekarang sabu mahal dan susah, lem pun juga harganya naik, dan pil koplo juga naik, mereka ini beralih ke pembalut. Awalnya pembalut bekas yang di tempat sampah, tapi sekarang ke yang baru karena bersih," kata Suprinarto kepada awak media

Atas tren yang berkembang ini, pihak BNNP Jateng tidak bisa memberikan tindakan kepada pelakunya karena barang yang digunakan adalah barang legal. Meski demikian, BNNP Jateng akan memberikan edukasi kepada pelaku bahwa perilaku mereka menyimpang yang dapat merugikan kesehatan.

"Kami tidak bisa menindak mereka, tindakan hukum tidak bisa karena barang yang digunakan legal dan bukan narkotika atau psikotropika. Langkah kami yang bisa ya memberikan edukasi kepada mereka bahwa itu perilaku menyimpang yang merugikan kesehatan," ucap Supri. (*luk)


KOMENTAR