Selasa, 13 Agustus 2019 11:45 WIB

INTERNASIONAL

Iran Tangkap Aktivis Politik Wanita Yang Meminta Pengunduran Diri Khamenei

Ferdinand Mannopo - jurnalpatrolinews
Iran Tangkap Aktivis Politik Wanita Yang Meminta Pengunduran Diri Khamenei Foto : Pendukung Hizbullah membawa potret pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini (kiri), dan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, ketika mereka berbaris di kota selatan Libanon Kfar Hatta pada 18 Maret. (Kredit : AFP Foto)

Jurnalpatrolinews - Teheran,  Langkah ntuk mencegah penyebaran lebih lanjut dari pertikaian politik di Republik Islam Iran, aktivis - aktivis yang menyerukan agar Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mengundurkan diri, telah ditangkap oleh otoritas Iran, menurut Radio Farda. 

Wanita yang tidak disebutkan namanya itu adalah salah satu penandatangan yang mengambil bagian dalam sebuah surat terbuka bahwa empat belas aktivis hak-hak perempuan Iran menulis kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang meminta agar dia mengundurkan diri dari jabatannya setelah masa jabatannya selama 20 tahun. 

Mereka menulis bahwa negara perlu mengalami perubahan politik. 

"Salah satu dari saudara mereka yang ditahan mengatakan kepada Radio Farda pada hari Senin bahwa Narges Mansoori, penandatangan lain juga telah ditangkap di Teheran," kata Radio Farda dalam laporan mereka. 

"Sumber itu juga mengatakan dia telah mendengar tentang penangkapan lain di Teheran, tetapi dia belum mendapatkan informasi lebih lanjut." 

Menurut sebuah laporan oleh Radio Farda, surat itu, tertanggal 5 Agustus, merujuk pada "apartheid gender" dan "pendekatan patriarki" yang selama 40 tahun telah melumpuhkan iklim politik Iran. Mereka mengatakan bahwa sejak Revolusi Iran tahun 1979, situasi di Iran telah menciptakan kerugian yang tidak adil bagi wanita yang ingin hidup dan berkembang di negara itu.

"Kami, 14 aktivis hak-hak sipil dan hak-hak perempuan, bertekad untuk melanjutkan pertempuran kami sampai kemenangan melalui langkah-langkah sipil dan tanpa kekerasan," catat mereka. "Seperti pionir lain [dari pejuang kemerdekaan tanpa kekerasan], kita teruskan dengan mengucapkan 'tidak ke Republik Islam.' 

"Empat dekade teokrasi ini telah menghilangkan hak-hak setengah dari negara," mereka melanjutkan. 

Para aktivis meminta agar orang lain bergabung dengan mereka dalam protes damai dan tanpa kekerasan untuk membangun sebuah konstitusi baru untuk memberantas "sistem anti-wanita ini."


KOMENTAR
Kontak Informasi
Redaksi : -
Media Partner : -
Iklan : -