Jumat, 06 Desember 2019 14:14 WIB

NASIONAL

Islam Nasionalisme Indonesia. Sebuah Analisa dan Tinjauan dari Untaian Catatan Sejarah Indonesia

Ferdinand Mannopo - jurnalpatrolinews
Islam Nasionalisme Indonesia. Sebuah Analisa dan Tinjauan dari Untaian Catatan Sejarah Indonesia Foto : Presiden Soekarno/Net

Oleh Kph. Arya Yudho Cokro Kusumo. 

 

PENDAHULUAN

                Islam dalam kehidupan kebangsan Indonesia bagaikan sebuah pelangi Indah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa Pencipta Langit Dan Bumi beserta isinya. Artinya Islam sebuah karya mulia dan agung yang tidak bisa ditandingi atau disetarakan perbuatan pemikiran manusia.

                Demikian pula Negara Indonesia juga sama dengan kehadiran pelangi dimuka bumi ini. Oleh sebab itu Soekarno dalam konsep rancangan penyusunan mukadimah pembukaan Undang Undang Dasar 1945 yang kemudian dijadikan UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945 setelah negara Indonesia resmi ada.,”......... Atas berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, maka Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaanya.”             

Bila dicermati masyarakat Indonesia sedang terjadi fenomena gairah beragama, dengan kegairahan itu justru melahirkan pemahaman yang merasa paling islam di antara yang lain. Diharapkan kondisi ini memiliki dampak positif, sehingga dalam beragama tidak berbenturan dengan kebangsaan NKRI. Untuk itu kehidupan keagamaan di Indonesia sekarang ini harus dimanajemen dengan baik berikut dengan permasalahan yang timbul.

Islam yang sejalan dengan nasionalisme Indonesia adalah yang memiliki keharmonisan dalam Pancasila dan Undang dasar 1945. Yakni sebuah pemahaman islam yang disertai dengan semangat kebangsaan dan semangatbhineka tunggal ika. Di Indonesia adalah islam yang tidak pernah bertentangan dengan kebudayaan karena islam di Indonesia ini masuk melalui kebudayaan.

Dihadapkan dengan nasionalisme Indonesia, Islam di Indonesia, merupakan tipikal tidak mempertentangkan keislaman dengan kebudayaan kebangsaan. Tulisan ini akan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi kita bangsa Indonesia untuk dijadikan bahan sebagai upaya memantapkan kehidupan kebangsaan melalui pemahaman beragama. Kehidupan yang hamonis, selaras, dan seimbang dapat hidup bersatu damai dalam perbedaan.

 

LATAR BELAKANG PEMIKIRAN

                Sejarah dan peristiwanya sangat penting untuk diketahui dan dipahami oleh seluruh bangsa Indonesia, karena sejarah memiliki manfaat yang sangat vital bagi kehidupan bangsa Indonesia. Ibarat Mobil Sejarah adalah pelumas dan olinya.

                Nasionalis Indonesia memiliki catatan sejarah dan Islam juga sama, namun dalam tulisan ini islam yang dimaksud bukan akidah dan bukan ajarannya tetapi perilaku Islam dalam kehidupan umat bergama di Indonesia. Sekali lagi saya tegaskan bahwa dalam tulisan ini Islam yang dimaksud bukan islam dalam ajaran atau akidah, tetapi dibatas pada kehidupan umat bergama di Indonesia dihadapkan dengan kehidupan nasionalisme Indonesia dalam bingkai NKRI.

Batasan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pemikiran untuk menyamakan persepsi dan konotasi pemahaman dan menghindari pengembangan pemikiran bias yang bertentangan dengan tujuan penulisan ini. Satu harapan saya bahwa tulisan ini menjadi bahan bacaan yang menarik bagi generasi milenial Indonesia.

Penulis bukan seorang ahli sejarah atau memahami seluruh peristiwa sejarah Indonesia namun hanya seorang yang sedikit paham sejarah. Berdasarkan literatur dan literasi yang tersedia maka tulisan ini disusun sebagai wujud partisispasi dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman, tentram, damai, dan sejarhtera dalam bingkai NKRI.

 

SEJARAH LAHIRNYA NASIONALISME INDONESIA 

                Untuk memahami nasionalisme Indonesia adalah harus diawali dari proses kelahirannya, kemudian kebangkitan, nasionalisme sebagai kekuatan, nasionalisme menjadi sebagai perwujudan negara Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

  1. Jasa Bangsa Belanda.

Lahirnya Nasionalisme Indonesia berkat jasa pemikiran seorang bangsa Belanda yang bernama Van Deventer, yang ditulis pada tahun 1899, dengan tulisan yang berjudul Een Eereschuld atau Hutang Kehormatan, dan dimuat dalam harian De Gids, Belanda.

Mengapa kita sebut berjasa? Karena dari konsep pemikiran politiknya bagi Pemerintah belanda terhadap Wilayah jajahan atau koloninya menjadi Lahirnya nasionalisme Indonesia, kebangsaan indonesia, tanah air indonesia. Bukan dari pemikiran orang indonesia dan seseorang yang mengatasnamakan agama islam, Kristen, katholik, atau Hindu.  

                Konsepnya yang terkenal disebut Politik Etis, ditetapkan sebagai program atau kebijaksanaan pemerintah kerajaan belanda pada tahun 1900. Kebijakan politik etis serta program Trias van Deventer diterapkan di Indonesia pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Alexander W.F. Idenburg tahun 1909-1916.

Konsep politik melahirkan tiga keputusan yang mengharuskan bangsa melakukan kegiatan pemerintahan yang berguna bagi bangsa Indonesia.  Selanjutnya politik ini kemudian dimaksudkan sebagai balas budi terhadap wilayah jajahan yang telah memberikan keuntungan besar bagi Bangsa Belanda, selanjutnya politik ini disebut politis balas budi.

  1. Pemerintah Belanda di Wilayah Jajahan Tidak Boleh Menghilangkan Identitas Kebangsaan atau Ciri Kewilayahan di Wilayah Jajahan.
  2. Pemerintah Belanda Wajib memberi kesempatan kepada Putera daerah atau Bumi Putera untuk mendapatkan pendidikan dan bersekolah.
  3. Pemerintah Belanda diharuskan membuat program pembangunan diwilayah jajahan berupa fasiltas umum yang dapat dijadikan pendorong untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di wilayah Jajahan.
  4. Manfaat Ilmu Pengetahuan.

Ketika bangsa Belanda memberi kesempatan kepada putera Indonesia atau Bumi Putera untuk mendapat pendidikan dan bersekolah. Kemudian di Indonesia didirikan sekolah dan dilakukan kegiatan pengajaran, ternyata tidak hanya terbatas di Indonesia saja tetapi juga boleh sekolah hingga keluar negeri. Dengan materi pelajaran yang didapatkan dibangku sekolah tersebut akhirnya pemuda Indonesia mendapat pengetahuan dan bertambah wawasan hidupnya.

Berbagai materi pelajaran diajarkan oleh Bangsa Belanda. Namun dalam penyajian materi pelajaran disekolah ada yang aneh dan diputar balikan faktanya yaitu pelajaran ilmu bumi. Dalam peta dunia negara belanda digambar sebagai sebuah negara besar dan modern kuat serta hebat, namun wilayah Indonesia dibuat kecil. Namun begitu tetapi memiliki manfaat yang cuku besar, yaitu pemuda Indonesia mengetahui juga memiliki wilayah seperti Belanda. 

  1. Buah Pemahaman Sejarah.

                Dari belajar sejarah, seorang pemuda yang bernama Ki Hajar Dewantara yang sekolah dinegeri Belanda mengetahui bahwa ada nama Indonesia. Ketika diteliti lebih mendalam ternyata yang disebut Indonesia itu termasuk Pulau Jawa. Dari sejarah itulah kemudian Ki Hajar Dewantara mengetahui dan memahami bahwa dirinya orang Indonesia.

                Kemudian pemuda Indonesia yang belajar di negeri Belanda berkumpul dan menyebut dirinya orang Indonesia serta perkumplanyapun disertai nama Indonesia. Semenjak inilah nama Indonesia menjadi identitas manusia Indonesia di Belanda.

                Selanjutnya dengan belajar sejarah Para pemuda Indonesia memahami tentang penting persatuan Indonesia, kemudian berkembang menjadi ingin seperti bangsa Belanda memiliki negara dan merdeka tidak terjajah. Rasa persatuan Indonesia itu kemudian berkembang menjadi nasionalisme Indonesia.

Dimana nasionalisme Indonesia diproklamasikan oleh Budi Utamo pada tanggal 2 Mei 1908. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 2 Mei 1908 dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional Indonesia, diperingati hingga sekarang ini. Kalau nasionalisme Indonesia bangkit berarti ada kelahirannya? Ini akan menjadi masalah pembahasan sendiri dalam episode sejarah yang lain. Dan 2 Mei 1908 adalah Proklamasi Indonesia untuk pertama kalinya.

Nasionalisme itu kemudian berkembang menguat dan menyatu hidup merasuk darah dalam sendi kehidupan manusia Indonesia. Tidak sekedar hanya ada dalam diri tetapi kemudian lahir sebagai tekad dan semangat perjuangan nasionalisme Indonesia.

Dengan semangat tersebut maka Indonesia dijadikan identitas nasionalnya. Sebagai perkembangan pemikiran perjuangan nasiolisme baru sebatas pernyataan identitas dan perwujudan akan adanya sebuah kehidupan sekelompok manusia yang menamakan dirinya orang Indonesia, dan wilayah tempat tinggalnya mereka sebut tanah air Indonesia, dan bahasa untuk pergaulan antara kelompok mereka namakan bahasa  Indonesia.

Tekad itu baru terwujud 20 tahun kemudian tepatnya terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928. Seluruh perwakilan Bumi Putera atau Putera daerah indonesia menyatakan dirinya merupakan sebuah bangsa yang dinamakan indonesia, mereka juga menyatakan memiliki wilayah dan tanah air seperti bangsa Belanda dinamakan tanah air Indonesia, dan seperti bangsa lain punya bahasa bangsa indonesia juga punya bahasa yaitu bahasa Indonesia. Inilah proklamasi Indonesia kedua kalinya.        

  1. Islam Dan Lahirnya Nasionalisme Indonesia. Bagaimana dengan lahirnya nasionalisme dan hubungan dengan Islam? Yang pasti kelahiran nasionalisme Indonesia tidak memiliki hubungan dengan Islam akan tetapi orang atau kelompok orang yang memiliki peran dalam kelahiran nasionalisme Indonesia adalah mereka banyak yang bergama Islam. Dan mereka tidak mengibarkan atau mengatasnamakan islam, ini semua karena tuntunan Ilahi atau tuhan yang berkuasa atas hidup manusia dan bumi yang telah diciptakannya.  

 

ISLAM DALAM SEJARAH INDONESIA

                Islam memiliki sebuah keistimewaan di Indonesia salah satunya adalah Islam memiliki kekuatan spiritual yang identik dengan kebangsaan Indonesia. Oleh sebab itu dalam sejarah Indonesia Islam disebut dan dikenal sebagai kekuatan bangsa Indonesia dan kekuatan nasionalisme Indonesia.

Walaupun Islam sebagai kekuatan namun Islam tidak dapat disebut sebagai simbol nasionalisme Indonesia atau Islam sebagai simbol negara Indonesia ataupun Islam sebagai simbol persatuan dan kesatuan bangsa atau NKRI. Akan tetapi Islam dapat disebut sebagai salah satu simbol keimanan bangsa Indonesia dan bukan simbol keagamaan Indonesia.

  1. Awal Pemahaman Sejarah Mayoritas Dan Minoritas Beragama.

                Kehadiran Islam di Indonesia yang pada masa itu disebut Nusantara mayoritas penduduknya bergama Hindu Dan Budha.  Setelah beberapa tahun perkembangan Islam dijawa mengubah status mayoritas dan minoritas dalam kehidupan bergama pada masa itu, muslim menjadi pemeluk agama dalam jumlah terbesar dan mayoritas.

                Jawa Timur. Kehidupan mayoritas dan minoritas beragama diawali dari kerajaan Majapahit, setelah ada perubahan status dan posisi akhirnya pemeluk agama Hindu atau umat Hindu yang tidak mau dipimpin orang Islam mengungsi ke Bali sedangkan yang bertahan ditanah jawa menetap di wilyah gunung tengger.

                Jawa Barat. Kerajaan diJawa barat pada masa itu bernama kerajaan Sunda Galuh. Sebelum Islam masuk diwilayah kerajaan ini mayoritas bergama adalah Hindu dan Budha, namun kemudian berubah status dan posisinya dimana Islam menjadi mayoritas dan Hindu Buda minoritas. Bagi umat Hindu, Budha yang tidak mau dipimpin oleh orang Islam akhirnya mengasingkan dan mengelompokan diri ke wilayah Badui.

  1. Islam Dalam Kehidupan Nasionalisme Indonesia.

                Ketika terjadi diskusi nasionalis atau mencari solusi penangan konflik agama di Indonesia selalu disebutkan islam pemersatu, islam pembawa damai, islam itu Indonesia. Pernyataan ini sebenarnya kurang tepat karena yang membawa damai di Indonesia itu adalah pemeluk agama islam seharusnya yang membawa damai karena ajaran agama tidak pernah mengajarkan harus konflik, islam pemersatu di Indonesia memang baru hampir terjadi perpecahan akibat Islam, yaitu melalui gerakan Aceh Merdeka yang membuat negara Aceh diluar NKRI, berdampak pada persatuan dan kesatuan, kita patut bersyukur Tuhan masih melindungi NKRI. Namun sebagai bahan perbandingan mari kita lihat pelajaran dari perpecahan di India, Malaysia, Yugoslavia, dan yang sedang terjadi di Filiphina, juga di Myanmar.   

Namun saya berbangga hati dalam suatu masa tertentu dan kondisi tertentu islam memiliki peran yang sangat kuat dalam kehiduupan bangsa Indonesia yaitu Islam Kekuatan NKRI, Islam Bagian Kekuatan nasionalisme, Islam Bukan Simbol Nasiolisme, dan Islam Kekuatan Spiritual Bangsa.  

  1. Islam Dan Proklamasi Indonesia. Walaupun terjadi perdebatan dan koreksi dalam rangka mempersiapkan proklamasi Indonesia, Islam memiliki peran yang cukup besar. Sekalipun pada akhirnya Soekarnolah yang menyempurnakan pemikiran Islam dalam Proklamasi tetapi fundamental pemikiran nasionalisme dalam Proklamasi 17 Agustus 1945 sangat diwarnai oleh pemikiran Islam di Indonesia.
  2. Islam Dalam Politik Nasional Indonesia. Dalam politik nasional Indonesia memiliki posisi sebagai mayoritas namun secara kewilayahan belum tentu karena ada wilayah Bali mayoritas Hindu, Kalteng Kristen, Maluku, Kristen, Sulawesi Utara Kristen, NTT Katholik dan Kristen, dan Papua Kristen Dan Katholik. Ketika orang Islam berpikir politk Islam menurut Nasionalisme Indonesia maka Islam akan menjadi kekuatan luar biasa ini yang terjadi di Tahun 1965 namun ketika orang islam berpikir politik nasionalisme Indonesia dalam Islam makan persatuan dan kesatuan Indonesia goyah dan NKRI terncam.
  3. Islam Dan ideologi Pancasila. Kehidupan Islam dalam kebangsaan Indonesia merupakan kekuatan nasionalisme Indonesia. Karena adanya pemikiran orang islamlah Pancasila itu ada dan diciptakan. Islam tidak akan bisa dijadikan alat kendali untuk orang yang berpikir Pancasila namun Pancasila mampu menjadi pengendali bagi orang yang berpikir islam. Karena pemikiran Pancasila dalam kehidupan kebangsaan Indonesia mampu menciptakan budaya beragama di Indonesia. Yang saya maksudkan bukan Islam merupakan ajaran yang kurang sempurna atau kurang baik, tetapi Islam dalam kehidupan sosial Indonesia perlu pula disertai dengan pemikiran Pancasila. 

 

APA YANG DIINGINKAN DARI UMAT MUSLIM INDONESIA?

                Umat muslim di Indonesia dalam memahami mayoritas dan minoritas beragama masih perlu diselaraskan dengan kondisi peradaban dan kehidupan umat manusia didunia. Karena bila salah mengartikan mayoritas dan minoritas beragama akan menimbulkan konflik yang dapat memicu kehadiran solidaritas beragama dinegara lain.

                Ini yang pernah terjadi dalam kehidupan kebangsaan indonesia. Ketika terjadi keristiwa konflik agama di Ambon, maka Amerika akan mengirimkan pasukannya untuk mengamankan dan membantu keselamatan orang Kristen di Ambon.     

  1. Mayoritas Dan Minoritas Beragama.
  2. Agama Manusia. Umat dalam keimanan dunia memiliki posisi minoritas bila dilihat dari jumlah pemeluk atau umatnya, bila dibandingkan Kristen, Katholik, Hindu, Dan Budha atau Khong Hou Chou. Budha dan Khong Hou Chou menempati posisi pertama karena hampir 90 penduduk China, Kristen dan Katholik kedua, dan ketiga adalah Hindu di india.
  3. Agama Manusia Indonesia. Untuk di Indonesia merupakan mayoritas ini sesuatu yang tidak dapat dipungkiri. Maka dari itu apapun masalahnya dan bagaimanapun kondisinya kebangsaan indonesia status keislaman di Indonesia tidak akan bisa berubaha atau jangan dirubah.
  4. Memahami Mayoritas dan Minoritas Dalam Keadilan. Memang saya belum melakukan penelitian atau survey tentang kondisi ini dilingkungan umat muslim atau ada lembaga atau akademisi yang melakukannya. Namun berdasarkan catatan fakta dan data sejarah kerukunan hidup beragama di indonesia dapat dinilai bahwa pemahaman umat muslim terhadap mayoritas dan minoritas masih minim belum memberikan konstribusi positif. Indikatornya adalah banyak terjadi konflik sebagai akibat dari sikap kerukunan hidup beragama di Indonesia yang rata rata melibatkan orang muslim. Dan peritiwa konflik terjadi diwilayah mayoritas Kristen dan agama lainnya. Bila hal ini segera diadakan studi perbandingan maka kehidupan beragama yang rukun dan damai di Indonesia akan tercipta.
  5. Kehidupan Bergama Dalam ideologi Pancasila. Salah satu pemicu konflik bergama di Indonesia adalah perbedaan. Padahal perbedaan merupakan kekuatan nasionalisme Indonesia. Bagaimana manusia yang berpikir, berperilaku, berbudaya, beragama, yang berbdeda beda bisa hidup bersama jawabannya hanya satu yaitu ideologi Pancasila. Karena dengan Pancasila akan melahirkan batasan kehidupan manusia dalam sosial budaya yang disebut dengan kepentingan umum.
  6. Islam Sebagai kekuatan nasionalisme Indonesia.

Negara Indonesia sebagian besar penduduknya beragama Islam. Hubungan antara Islam dan nasionalisme dalam konteks Indonesia sama tuanya dengan usia kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh bangsa Indonesia yang diwakili Soekarno – Hatta.

Dikalangan muslim menilai tidak ada pertentangan antara Islam dan nasionalisme. Namun tidak sedikit pula yang menilai bahwa Islam dan nasionalisme tidak dapat berdampingan sebagai ideologi dan keyakinan. Pertentangan seperti inilah yang akan melemahkan nasionalisme Indonesia.

Bagaimana dan kapan islam menjadi kekuatan nasionalisme Indonesia ? Ketika umat muslim Indonesia dapat berpikir bahwa nasionalisme adalah sebuah kerinduan dan keberpihakan terhadap tanah air, keharusan berjuang membebaskan tanah air dari penjajahan, ikatan kekeluargaan antar masyarakat, dan pembebasan serta kemerdekaan, dijadikan sebagai kewajiban dalam kehidupan bangsa Indonesia. .

PERAN ISLAM DALAM KEIMANAN BANGSA INDONESIA

  1. Islam dapat membangun kehidupan manusia yang beradab. Umat Islam harus dapat mempelopori perdamaian dalam kehidupan nasionalisme Indonesia. Dengan keimanan yang kokoh bagi tegak kokohnya NKRI maka Islam akan dapat menciptakan peradaban bangsa yang mampu berkembang bertumbuh sesuai dengan tuntutan zaman dan perkembangan pemikiran manusia dalam ketuhanan. Menghindari sekulerisme dan membangun keseimbangan berpikir antara hidup didunia dalan kematian.
  2. Islam Menjadi Unsur Kekuatan Pelestarian Indonesia. Kapan Islam menjadi unsur Pelestarian Indonesia? Jawabnya sederhana ketika umat muslim menyadari bahwa kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah berkat ramahmat Allah Yang Maha Kuasa. Ini dapat diartikan Allah bukan Allah SWT, tetapi Allah yang dimiliki oleh Umat kristen Dan Katholik, dan bisa juga itu dianggap sebagai Tuhannya Orang Hindu atau Budha. Namun bila diartikan Allah SWT maka yang memerdekaan Indonesia hanya Tuhannya orang muslim sedang Tuhan dari Umat lain bisa diartikan tidak memiliki peran. Bila konsepsi ini dapat dipahami secara konsisten insya Allah Indonesia akan lestari.
  3. Islam Membangun Kerukunan Hidup beragama. Secara nasional Islam mayoritas. Fakta ini diakui oleh bangsa indonesia bahkan diakui oleh dunia. Dalam kehidupan mayoritas dan minoritas memiliki kewajiban dan tanggungjawab masing masing. Bila Umat muslim di Indonesia memahami tentang kewajiban dan tanggungjawab kedua status ini maka kerukunan hidup bergama akan tercipta dan kondisi tersebut dapat diwariskan secara turun temurun. Sungguh aneh terjadi dan semoga tidak terjadi dimasa yang sekarang maupun dimasa yang akan datang. Dimana umat muslim yang tinggal di wilayah yang mayoritas non muslim menunttut keadilan sementara diwilayah yang mayoritas muslim bertindak tidak adil bagi umat non muslim. Semoga pemahaman ini segera dapat hidayah dan inayah dari Tuhan Yang Maha Kuasa agar kehidupan kebangsaan Indonesia aman, tenang, tentram, damai, dan sejahtera, dalam bingkai NKRI.

PENUTUP

                Tak ada gading yang tak retak dan tak ada manusia yang sempurna, demikian saya juga manusia biasa yang tidak lepas dari luput dan kesalahan. Apabila dalam penulisan ini adalah salah ketik atau menimbulkan persepsi yang berbeda kita dapat berkonfrimasi, saya sebagai penulis juga membuka dan menanti adanya penambahan dari pembaca yang ingin melengkapi tulisan ini. 

                Karena keterbatasan halaman dan media maka ulasan harus disingkat, apabila terdapat kekurangan mohon maaf. Namun dalam pemikiran saya sudah dipertimbangankan bahwa bentuk singkat tidak mengurang esensi yang diharapakan sesuai dengan tujuan penulisan.  

  1. Kesimpulan.

Sudah menjadi permakluman bersama di manapun, termasuk di Indonesia, sebuah pengajaran “Sejarah Nasional” ditujukan untuk meyakinkan warga negaranya bahwa negara yang  menjadi tempat hidup mereka adalah sebuah negara yang sah dan layak untuk diberi dukungan sepenuhnya. Pembelaan dan dukungan terhadap negara  atau “nasionalisme” merupakan buah yang ingin diperoleh dari pengajaran sejarah.

Di Indonesia keinginan ini terlihat dalam kurikulum pengajaran sejarah sejak pelajaran sejarah Indonesia ditetapkan sekitar tahun 1950-an. Terakhir, dalam standar isi pelajaran yang diterbitkan BNSPI (Badan Nasional Standarisasi Pendidikan Indonesia) melalui Kepmen No. 22 tahun 2006 disebutkan tujuan pengajaran sejarah antara lain untuk: menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap proses terbentuknya bangsa Indonesia melalui sejarah yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan datang; dan menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan baik nasional maupun internasional. 

                Semoga tulisan ini menjadi penulisn sejarah yang bermanfaat bagi kehidupan kebangsaan Indonesia. Dan memberikan konstribusi positif bagi mantapnya nasionalisme Indonesia dalam bingkai NKRI. Melalui penyampaian dari untaian catatan sejarah ini islam lebih dikenal dan menjadi kekuatan spiritual perjuangan bangsa Indonesia menghadap masa depan yang lebh baik.

  1. Saran.

                Semoga Umat Islam berkenan untuk memahami mayoritas dan minoritas dalam keadilan sebagai upaya untuk membangun kerukunan hidup beragama di Indonesia. Karena agama merupakan tonggak dasar keamanan nasional Indonesia.

Diperlukan rencana program sosialisasi melalui organisasi FKUB sehingga seluruh Tokoh umat beragama baik di Pusat, daerah, dan pelosok desa sekalipun dapat setiap saat bersilaturahim sebagai unsur kekuatan perdamaian dalam hidup beragama.

Karena bersifat nasional maka peran dan kehadiran pemerintah sangat diperlukan. Karena harus melibatkan banyak pihak dan memerlukan konsep berpikir yang konprehensif dan peran serta parsipasi bangsa indonesia.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Aboe Bakar loebis, Kilas balik Revolusi, Kenangan, Pelaku, Dan Saksi Sejarah, UI Press, Jakarta, Tahun 1992.
  2. Dr. Ruslan Abdul Gani, API ISLAM DALAM KOBARAN REVOLUSI INDONESIA, BP. Eka Prapanca, Tahun 1965.
  3. D.Rini Yuniarti, BPUPKI-PPKI, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, Tahun 2003.
  4. M. Hutahuruk, S.H. Gelora Nasionalisme Indonesia, Penerbit Erlangga Jakarta, Tahun 1984.
  5. Alfadlal, Islam Dan Radikalisme di Indonesia, LIPI Press, Jakarta, 2005.
  6. Sri Wintala Achmad, Sejarah kerjaan Kerajaan Besar Di Nusantara, Araska Publisher, Jogyakarta, Tahun 2016.
  7. Z.A. Ahmad, Membentuk Negara Islam, Penerbit Wijaya, Jakarta, Tahun 1956.
  8. Solichin Salam, Bungkarno Dalam Pemikiran islam, Penerbit Wijaya, Jakarta, Tahun 1964
  9. Anshary, Muhammad Isa, Islam dan Nasionalisme. Bandung-Jakarta: t.p., 1954.
  10. Kuntowijoyo. 1997. Identitas Politik Umat Islam. Bandung: Mizan.

11.          Maududi, Abul A’la. Tanpa Tahun. Islam Kaffah: Menjadikan Islam Sebagai Jalan Hidup. Terjemahan oleh Muhammad


KOMENTAR
Kontak Informasi
Redaksi : ekawdy77ads@gmail.com
Media Partner : ekawdy77ads@gmail.com
Iklan : jurnalpatroli2016@gmail.com, WA 081318185028