Jumat, 14 Februari 2020 15:09 WIB

KORUPSI

Kasus Suap Eks Bupati Bengkayang, Pengusaha Nelly Dituntut 2,5 Tahun Bui

Ferdinand Mannopo - jurnalpatrolinews
Kasus Suap Eks Bupati Bengkayang, Pengusaha Nelly Dituntut 2,5 Tahun Bui Foto : Nelly Margaretha (Ari Saputra/detikcom)

JurnalPatroliNews - Jakarta,--  Pengusaha Nelly Margaretha dituntut 2 tahun 6 bulan penjara, denda Rp 100 juta subsider 3 bulan. Nelly diyakini jaksa bersalah memberikan uang ke Suryadman Gidot saat menjabat Bupati Bengkayang.

"Menuntut supaya majelis hakim yang mengadili dan memeriksa perkara ini, menyatakan terdakwa Nelly Margaretha terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi," kata jaksa KPK saat membacakan surat tuntutan dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Jumat (14/2/2020).

Nelly memberikan uang tersebut agar bisa mendapatkan proyek di Dinas PUPR Pemkab Bengkayang. Nelly disebut jaksa memberikan uang Rp 60 juta ke Suryadman melalui Aleksius selaku Kadis PUPR Kabupaten Bengkayang.

Kasus ini bermula, Suryadman mengadakan rapat bersama Aleksius, Sekda Kabupaten Bengkayang Obaja, Kepala BKD Kabupaten Bengkayang Grardus, Kadis Pendidikan Kabupaten Bengkayang Agustinus Yan dan Kabid Anggaran BPKAD Kabupaten Bengkayang. Rapat tersebut membahas APBD-P Tahun 2019 dan APBD murni Kabupaten Bengkayang Tahun 2020.

Setelah rapat itu, jaksa mengatakan Suryadman meminta Aleksius dan Agustinus untuk menyiapkan uang Rp 500 juta dari fee pengadaan paket pekerjaan. Uang itu akan digunakan untuk mengurus bantuan keuangan di BPKAD yang ditangani Polda Kalimantan Barat.

"Selain itu Suryadman Gidot juga menyampaikan bahwa Dinas PUPR akan mendapatkan tambahan anggaran Rp 7,5 miliar dan Dinas Pendidikan akan mendapatkan tambahan anggar Rp 6 miliar untuk disahkan DPRD Bengkayang, yang nantinya dipecah menjadi beberapa paket pekerjaan PL (penunjukan langsung) sehingga dapat dikumpulkan fee dari kontraktor atau pengusaha yang mengerjakannya," jelas jaksa.

Atas permintaan itu, jaksa menyebut Aleksius menghubungi beberapa pengusaha yaitu Nelly, Rodi, Bun Si Fat, Yosef dan Pandus menawarkan paket pekerjaan penunjukan langsung (PL) di Dinas PUPR Kabupaten Bengkayang. Dengan syarat ada commitment fee 10% dari nilai proyek untuk diberikan ke Suryadman.

Atas penawaran itu, Nelly bersedia dan mengambil 3 paket pekerjaan serta memberikan fee untuk Suryadman Gidot sejumlah Rp 60 juta. Nelly mentransfer uang Rp 60,5 juta ke rekening atas nama Fitri Julihardi. Uang itu untuk diserahkan Suryadman melalui Aleksius dan sisanya Rp 500 ribu digunakan ongkos perjalanan Fitri.

"Terdakwa Nelly Margaretha telah mempunyai niat/kehendak untuk memberikan uang kepada Suryadman Gidot dan Aleksisus melalui Fitria Julihardi sejumlah uang seluruhnya Rp 60 juta. Adapun maksud pemberian tersebut adalah masih berhubungan dengan kewenangan Suryadman Gidot selaku Bupati Bengkayang dan Aleksius selaku Kepala Dinas PUPR yang menjalankan wewenang pemerintahan dan pembangunan di daerah sehinggan bertentangan dengan kewajiban Suryadman Gidot dan Aleksius," papar jaksa.

Selain Nelly, jaksa menyebut Suryadman juga menerima uang Rp 280 juta dari Rodi, Bun Si Fat, Yosef dan Pandus. Total yang diterima Suryadman sejumlah Rp 340 juta melalui Aleksius.

Selanjutnya, Aleksius memberikan uang Rp 300 juta ke Suryadman. Sedangkan uang Rp 30 juta disimpan Fitri dan uang Rp 10 juta untuk Aleksius.

Atas perbuatan itu, Nelly bersalah melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

[dtk]


KOMENTAR
Kontak Informasi
Redaksi : ekawdy77ads@gmail.com
Media Partner : ekawdy77ads@gmail.com
Iklan : jurnalpatroli2016@gmail.com, WA 081318185028