Minggu, 23 Desember 2018 11:07 WIB

NASIONAL

Komunitas Jangkah Diskusikan Naskah Abad ke-10 M. Ungkap Diplomasi Ajakan Damai Menjelang Perang Bharatayuddha

Ferdinand Mannopo - jurnalpatrolinews
Komunitas Jangkah Diskusikan Naskah Abad ke-10 M. Ungkap Diplomasi Ajakan Damai Menjelang Perang Bharatayuddha Foto : Ist

 Jurnalpatrolinews - Jangkah -- Bharatayuddha bukan sekadar perang antara Pandhawa dan Korawa. Bharatayuddha adalah sebuah ikhtiar mempertahankan harga diri, kekuasaan, dan penegakan dharma ksatriya serta keadilan bagi Pandhawa dan Korawa.

Demikian disampaikan Yosephin Apriastuti Rahayu, M.A. dalam diskusi Jagongan Naskah (Jangkah) Edisi 3 pada Sabtu, (22/12/2018) di Gedhong Danawara Pakualaman.

Dalam kesempatan tersebut, Dosen Bahasa dan Sastra Jawa Kuna UGM ini mengungkap diplomasi ajakan damai menjelang Perang Baharatayuddha dalam naskah Udyogaparwa Jawa Kuna yang ditulis abad ke-10 M.

“Ada proses perundingan dari kedua pihak sebelum perang di palagan Kuruksetra. Mereka saling mengirimkan duta untuk berunding, dan melakukan persiapan menjelang perang; mencari sekutu sebanyak-banyaknya,” papar kandidat Doktor Universitas Leiden ini.

Simbok, sapaan akrabnya, melanjutkan bahwa perundingan yang terjadi pada prinsipnya merupakan usaha untuk mencari jalan damai. Pandhawa ingin meminta kembali sebagian kerajaan yang menjadi hak mereka. Sementara Korawa menolak permintaan itu.

Ada gejolak saat para duta menyampaikan misi dalam perundingan. Pro dan kontra yang terjadi di dalamnya menunjukkan sejauh mana dukungan para tokoh terhadap kedua pihak yang bertikai.

“Udyogaparwa menjelaskan peran empat tokoh duta yang diutus berunding, yakni Brahmana Purohita dan Krsna di pihak Pandhawa. Sementara Sanjaya dan Uluka berada di pihak Korawa. Gejolak yang dimaksud yaitu hasrat kuasa dari Korawa yang menolak ajakan damai dari Pandhawa,” ungkapnya.

Udyogaparwa, papar Simbok, menjelaskan peran empat tokoh duta yang diutus berunding, yakni Brahmana Purohita dan Krsna di pihak Pandhawa. Sementara Sanjaya dan Uluka berada di pihak Korawa. Gejolak yang dimaksud yaitu hasrat kuasa dari Korawa yang menolak ajakan damai dari Pandhawa.

Peran dan fungsi mereka berhubungan dengan empat tahap diplomasi dalam politik tradisional, meliputi sama  (mencapai kata sepakat), dana (menyuap), bheda (menaburkan perpecahan), serta danda (kekerasan).

“Lantaran tiga tahap diplomasi yakni sama, dana, dan bheda yang dilakukan Krsna kepada Korawa mengalami jalan buntu, satu-satunya cara untuk mendapatkan kembali hak pandawa hanyalah melalui jalan perang, atau danda,” jelas Simbok.

Sementara itu, founder Komunitas Jagongan Naskah Taufiq Hakim menambahkan, dengan membaca kembali Udyogaparwa, para kawula muda yang menghadiri diskusi maupun masyarakat pada umumnya dapat belajar tentang model diplomasi dan negosiasi yang baik. 

Ada tahapan-tahapan dan pertimbangan kesejahteraan dan perdamaian yang diajarkan dalam naskah kuna seperti Udyogaparwa Jawa Kuna. Kendati berakhir dengan perang, hikmah yang dapat dipetik adalah Pandhawa sesungguhnya menginginkan jalan damai, demi kesejahteraan dunia.

Hal ini, kata Taufiq, penting di tengah kontestasi wacana di era digital yang dinilai sudah terlalu liar tanpa proses verifikasi yang akurat. Acap kali arus informasi yang deras itu membuat publik tanpa pikir panjang langsung meresponnya.

“Akibatnya mudah marah, kemrungsung, grasa-grusu, tanpa pertemuan, tanpa perundingan, tanpa negosiasi dan saling mengerti satu sama lain,” jelasnya.

Acara bulanan ini merupakan kerja sama Komunitas Jagongan Naskah dengan Pawiyatan Macapat Kadipaten Pakulaman. Turut hadir dalam acara Penghageng Urusan Macapat Kadipaten Pakualaman M. Ng. Citropanambang, Ketua Program Studi Sastra Jawa UGM Dr. Sri Ratna Saktimulya, M. Hum., dan para peserta yang terdiri dari mahasiswa di DIY, Semarang, Solo, dan masyarakat sekitar.

NOTULENSI DISKUSI AGONGAN NASKAH EDISI 3

Bharatayuddha. Perang besar keturunan keluarga Bharata, antara Pandhawa dengan Korawa. Namun Bharatayuddha bukan sekadar perang.

Bharatayuddha adalah sebuah ikhtiar mempertahankan harga diri, kekuasaan, dan penegakan dharma ksatriya serta keadilan bagi Pandhawa dan Korawa.

Ada proses perundingan dari kedua pihak sebelum perang di palagan Kuruksetra. Mereka saling mengirimkan duta untuk berunding, dan melakukan persiapan menjelang perang; mencari sekutu sebanyak-banyaknya. Kisah tersebut terdapat dalam Udyogaparwa Jawa Kuna.

Udyogaparwa adalah parwa kelima dalam wiracarita Mahabharata. Kata Udyoga dapat diartikan sebagai usaha untuk mencari jalan damai maupun usaha untuk memenangkan pertempuran.

Karya sastra sastra ini ditulis pada akhir abad ke-10 M, era pemerintahan raja Dharmawangsa Teguh (991-1016) M dari Kadiri. Naskah ini disalin dari India oleh Brahmana Jawa yang diutus oleh Raja Dharmawangsa.

Saat itu, teknologi maritim Kerajaan Kadiri sudah maju. Para Brahmana dikirim ke India untuk sekolah. Ada juga yang bahkan menjadi penasihat raja.

Saat para brahmana itu pulang ke Kadiri, kisah-kisah Mahabharata dituturkan kembali. Tentu saja dengan aktualisasi di sana-sini. Dari kisah Mahabharata yang berbentuk sloka Sanskerta, digubah ke dalam bahasa Jawa Kuna yang berbentuk Kakawin atau puisi Jawa Kuna. Jadilah Udyogaparwa Jawa Kuna.

Perundingan yang terjadi pada prinsipnya merupakan usaha untuk mencari jalan damai. Pandhawa ingin meminta kembali sebagian kerajaan yang menjadi hak mereka. Sementara Korawa menolak permintaan itu.

Ada gejolak saat para duta menyampaikan misi dalam perundingan. Pro dan kontra yang terjadi di dalamnya menunjukkan sejauh mana dukungan para tokoh terhadap kedua pihak yang bertikai.

Udyogaparwa menjelaskan peran empat tokoh duta yang diutus berunding, yakni Brahmana Purohita dan Krsna di pihak Pandhawa. Sementara Sanjaya dan Uluka berada di pihak Korawa. Gejolak yang dimaksud yaitu hasrat kuasa dari Korawa yang menolak ajakan damai dari Pandhawa.

Peran dan fungsi mereka berhubungan dengan empat tahap diplomasi dalam politik tradisional, meliputi sama (mencapai kata sepakat), dana (menyuap), bheda (menaburkan perpecahan), serta danda (kekerasan).

Saat Brahmana Purohita yang dikenal berpengeahuan tinggi dan baik tutur katanya diutus untuk berdiplomasi dengan Korawa yang keras kepala, Bhisma dan Dhrtarasta menyetujui ajakannya. Sang Brahmana mengingatkan janji Korawa untuk mengembalikan kerajaan yang menjadi hak Pandhawa sebagai warisan Pandu, orang tua mereka.

Ditegaskan pula bahwa Pandhawa tidak menginginkan peperangan. Semata-mata kesejahteraaan dunia lah yang dinginkan, meskipun Pandhawa kerap diperdaya dan sudah dibuang ke hutan selama 13 tahun. Akan tetapi, perundingan mengalami jalan buntu. pihak Korawa yang lain tidak menyetujui ajakan Sang Brahmana.

Melihat kebuntuan itu, Krsna punya inisiatif untuk berperan sebagai duta. Keberangkatannya ke Hastinapura untuk menemui Korawa bukan atas perintah Yudhistira sebagai pimpinan Pandhawa.

Namun demikian, sebelumnya Krsna telah mempertimbangkan misi perundingannya dengan matang. Sebelum berangkat ke Hastinapura menemui Korawa, Krsna menemui masing-masing Pandhawa. 

Ia meminta pendapat dan pertimbangan serta menyelaraskan tujuan bersama dari kubu Pandhawa. Hal ini seperti yang dilakukan Brahmana Purohita sebelumnya.

Krsna piawai dan punya kuasa penuh dalam berdiplomasi. Ia tidak seperti ketiga duta atau utusan lainnya. Jika yang lain hanya bertugas sebagai penyampai pesan menurut perintah, Krsna tidak demikian.

Dalam perundingan, Duryodhana tetap tidak mau memberikan kerajaan itu. Alasannya, Korawa mendapatkan kerajaan karena telah memenangkan pertaruhan.

Menurut Duryodhana, hal itu bukanlah dosa karena ia tidak mengambilnya secara paksa. Justru Duryodhana beralasan bahwa pihaknya memegang teguh prinsip dharma ksatriya, lebih memilih jalan perang karena jika mati karena senjata dianggap sebagai surga bagi ksatriya.

Krsna selanjutnya menemui Kunthi untuk berunding. Kemudian membujuk Karna agak berada di pihak Pandhawa. Krsna pun menjelaskan bahwa Karna berhak atas takhta, karena dirinya adalah putra tertua dari Pandu dan Kunthi.

Lantaran tiga tahap diplomasi yakni sama, dana, dan bheda yang dilakukan Krsna kepada Korawa mengalami jalan buntu, satu-satunya cara untuk mendapatkan kembali hak pandawa hanyalah melalui jalan perang.. Ia meminta Karna untuk menyampaikan keputusan tersebut kepada Korawa. 

Hal ini juga menunjukkan bahwa peran Krsna juga sebagai duta yang mempunyai kuasa penuh, yakni mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perundingan dengan Korawa dan menyelesaikan segala masalah yang muncul dengan caranya sendiri.

Pemateri: 

Yosephin Apriastuti Rahayu 

(Dosen Bahasa dan Sastra Jawa Kuna, Prodi Sastra Jawa UGM. Kandidat Doktor Universitas Leiden)

Moderator:

Binarung Mahatmajangga 

(Pegiat Komunitas JANGKAH)

 


Berita Terkait
KOMENTAR
Kontak Informasi
Redaksi : -
Media Partner : -
Iklan : -