JPNews
Jumat, 15 Maret 2019 22:52 WIB

DAERAH

Miris Melihatnya, Dua Desa Di Langkat, Gunakan Sampan Dayung Sebagai Transportasi

Beno - jurnalpatrolinews
Miris Melihatnya, Dua Desa Di Langkat, Gunakan Sampan Dayung Sebagai Transportasi Foto : Sampan Dayung, Alat Transportasi Laut Dua Desa Di Kecamatan Brandan Barat.
JurnalPatroliNews - Langkat,-- Meski Negara Indonesia sudah merdeka, namun saja tetap ketinggalan dengan teknologi canggih. Seperti halnya dengan alat transportasi yang satu ini, yang masih digunakan masyarakat di dua Desa di Langkat, sebagai alat transportasi.
 
Sampan dayung atau sampan tambang, itulah sebutan masyarakat di Kota Tua Pangkalan Brandan ini.
 
Mengenai jumlahnya, ada puluhan sampan, dan sampan ini memiliki dermaga penyeberangan induk, yang berada di Dermaga Lorong Dandhi Kecamatan Babalan Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
 
Sampan ini setiap hari bersandar didermaga, untuk menunggu penumpang (sewanya) yang ingin menyeberang ke Desa Perlis dan Desa Kelantan, yang berada di seberang laut Babalan, tepatnya berada  di Kecamatan Brandan Barat Kabupaten Langkat.
 
Keberadaan sampan tambang ini sangat di butuhkan sebagai alat transportasi laut utama, bagi warga. Mengingat Desa Perlis dan Kelantan berada di seberang laut Babalan, yang memiliki jarak lebih kurang 250 meter dari kota Pangkalan Brandan.
 
Sampan dayung tradisionil ini, terpaksa digunakan masyarakat, mengingat tidak adanya akses jalan dan jembatan, yang menghubungkan kedua desa tersebut ke kota Pangkalan Brandan.
 
Sehingga sampan tambang inilah, menjadi alat satu - satunya sarana transportasi laut umum, selain perahu bermotor nelayan untuk mencari ikan.
 
Diketahui sebelumnya, keberadaan sampan tambang ini sudah ada sejak puluhan tahun silam. Dan sejak bertahun - tahun itulah warga menggunakan tranportasi ini.
 
Menurut warga keberadaan sampan tambang ini sungguh sangat penting bagi masyarakat Perlis dan Kelantan, serta warga lain yang menggunakan jasa mereka.
 
Kehidupan sehari-hari warga tak terlepas dari para penambang sampan ini, yang setiap harinya lalu lalang di sepanjang laut Babalan mengantar penumpang (sewa) yang mempergunakan jasa mereka.
 
Dalam sekali penyebarangan, penambang mematok ongkos dari Brandan ke Desa Kelantan dengan tarif Rp 2.000/orang dan untuk ke ke Desa Perlis sebesar Rp 3000/orang,  begitu pula sebaliknya.
 
Dan jika lagi ramai, penambang sampan bisa membawa uang Rp 70.000 dalam sehari. Namun jika lagi sepi hanya sekitar Rp 40.000,-.
 
Dan penghasilan itu, jauh dari cukup untuk biaya kehidupan sehari-hari, tutur Ferry salah satu penambang sampan asal Desa Kelantan, kepada JurnalPatroliNews, Jumat (15/3).
 
Ferry berharap pemerintah turun tangan dan dapat memperhatikan nasib mereka (para penambang sampan) yang ada di kota Pangkalan Brandan ini, mengingat sampan yang mereka pergunakan masih sangat tradisional dan berbahan dasar kayu.
 
Apa lagi kebayakan dari penambang sampan ini menyewa sampan dari orang lain. Para penambang sampan ini berharap Pemerintah Daerah  maupun Pusat dapat memberikan bantuan kepada para penambang, berupa sampan bermesin, yang lebih layak dan lebih baik, mengingat apa yang mereka bawa adalah manusia, dan keselamatan harus lebih di utamakan, tuturnya dengan penuh harap.
 
(fahlevi)

 


KOMENTAR
Kontak Informasi
Redaksi : -
Media Partner : -
Iklan : -