Selasa, 14 Januari 2020 14:04 WIB

DAERAH

Pembina Ajarkan Yel-yel Berbau Sara, Pramuka Yogyakarta Minta Maaf

Ferdinand Mannopo - jurnalpatrolinews
Pembina Ajarkan Yel-yel Berbau Sara, Pramuka Yogyakarta Minta Maaf Foto : SDN Timuran, Yogyakarta. (KRJogja/Harminanto)
Kasus yel-yel SARA di acara pramuka di SD Negeri Timuran, Yogyakarta, menjadi buah bibir masyarakat. Pramuka Yogyakarta sampai meminta maaf terkait dengan hal ini. Seperti apa sih duduk perkaraya?

 

JurnalPatroliNews - Yogyakarta,- Belakangan ini di media sosial viral kasus yel-yel berbau SARA yang dilakukan saat acara pramuka di SD Negeri Timuran, Kota Yogyakarta. Ketua Kwarcab Pramuka Kota Yogyakarta yang merupakan Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengeluarkan tanggapan terkait dengan kasus ini.

Merdeka, Senin (13/1/20) menulis, kegiatan pramuka di SD Negeri Timuran nggak diadakan oleh internal sekolah, melainkan oleh Kwarcab Yogyakarta. Kegiatan terebut adalah Kursus Mahir Lanjutan (KML) yang juga melibatkan banyak pembina pramuka dari daerah lain.

“Kami Kwarcab Kota Yogyakarta sedang mengadakan kursus mahir lanjutan (KML) bagi para pembina-pembina. Kami buka secara terbuka, pesertanya itu dari Yogya Kota ada, Sleman ada, Bantul ada, Gunung Kidul ada, Magelang ada. Macem-macem pesertanya,” jelas Heroe.

Total, jumlah pembina yang ikut dalam acara ini adalah 25 orang yang bergolongan siaga, penggalang, penegak, dan lain-lain.

Saat acara KML, masing-masing pembina diminta untuk mengajar, termasuk mengajarkan yel-yel. Saat itu, seorang pembina dari Gunung Kidul maju dan mengeluarkan yel-yel bernada SARA di depan para peserta.

"..... Islam Islam yes! Kafir kafir no!," teriak peserta pramuka sambil bertepuk-tepuk kompak dalam sebuah video yang beredar.

Heroe memastikan bahwa yel-yel ini nggak pernah diajarkan di Pramuka.

“Sebenarnya di microteaching tidak ada diajarkan tepuk pramuka yang seperti itu. Nggak ada. Nah, tiba-tiba peserta ini menyampaikan tepuk seperti itu,” ucap Heroe.

Heroe menyebut salah satu wali murid melakukan protes terkait dengan yel-yel ini di akhir acara KML. Hal ini membuat Wakil Ketua Kwarcab Kota Yogyakarta meminta maaf dan meminta para peserta untuk menganggap tepuk ini nggak pernah ada atau nggak pernah diajarkan di acara tersebut.

Kasus ini kemudian viral di media sosial karena sang wali murid dengan inisial K mengunggahnya di status WA. Status ini pun langsung menjadi buah bibir masyarakat. Saat dihubungi, K mengaku mendengar yel-yel ini saat menjemput anaknya dan menunggu acara pramuka selesai di sekolah tersebut.

Kalau menurut Millens, yel-yel ini termasuk dalam hal yang wajar atau memang berbau SARA?

[inibaru]


KOMENTAR
Kontak Informasi
Redaksi : ekawdy77ads@gmail.com
Media Partner : ekawdy77ads@gmail.com
Iklan : jurnalpatroli2016@gmail.com, WA 081318185028