Jumat, 15 November 2019 16:19 WIB

INTERNASIONAL

Perusahaan TekFin Singapura Paling Banyak Meraih Pendanaan Global di ASEAN, Menurut Laporan UOB, PwC dan SFA

Beno - jurnalpatrolinews
Perusahaan TekFin Singapura Paling Banyak Meraih Pendanaan Global di ASEAN, Menurut Laporan UOB, PwC dan SFA Foto : Laporan Resmi UOB, PwC dan SFA tentang TekFin 2019

JurnalPatrolinews - SINGAPURA,-- Kalangan perusahaan teknologi finansial (TekFin) di Singapura terus menguasai pangsa pasar di ASEAN untuk pendanaan global. Perusahaan TekFin di Singapura meraih lebih dari setengah (51%) pendanaan untuk ASEAN. Hal itu tertuang dalam laporan bertajuk FinTech in ASEAN: From Start-up to Scale-up. Diterbitkan United Overseas Bank (UOB), PwC dan Singapore FinTech Association (SFA), laporan ini juga menilai posisi Singapura sebagai lokasi pilihan bagi kalangan perusahaan TekFin, sebab 45% dari jumlah perusahaan TekFin di ASEAN berada di Singapura.

Sebagai bukti dari upaya Singapura untuk menggerakkan inovasi TekFin di segala bidang, pendanaan yang diraih kalangan perusahaan TekFin di Singapura tersebar secara merata. Namun, sektor teknologi asuransi, pembayaran, dan pinjaman personal paling banyak memperoleh pendanaan. Menurut laporan ini, keberagaman pendanaan juga menunjukkan kiprah sektor TekFin yang kian mapan di Singapura, ketimbang negara-negara lain di ASEAN. TekFin masih tergolong sektor baru di beberapa negara lain di ASEAN, dan sebagian besar pemainnya masih berfokus pada solusi pembayaran.

Janet YoungHeadGroup Channels and Digitalisation, UOB, berkata, "Singapura memiliki iklim regulasi dan bisnis yang kondusif, serta menarik minat investor. Kemapanan sektor TekFin di Singapura juga terus menjadikan negara ini sebagai lokasi menarik bagi kalangan perusahaan yang ingin memanfaatkan peluang pertumbuhan ASEAN. Dengan demikian, semakin banyak perusahaan di Singapura yang meraih pendanaan tahap awal hingga akhir.

"Namun, para pemain TekFin menemui tantangan ketika memperluas bisnisnya di ASEAN, mengingat kawasan ini termasuk salah satu wilayah yang paling majemuk di dunia. Untuk itu, perusahaan TekFin perlu menemukan mitra yang tepat serta mampu melengkapi pengalaman, wawasan, dan koneksi mereka dalam menjelajahi beragam kerangka regulasi dan lanskap operasional di ASEAN."

Stamina, valuasi realistis, dan sumber daya manusia menentukan keberhasilan ekspansi bisnis di ASEAN

Banyak perusahaan menjadi pelanggan sasaran yang utama bagi kalangan perusahaan TekFin (79%). Di antaranya, lembaga keuangan mengambil porsi setengah (50%) dari segmen sasaran tersebut, diikuti perusahaan (17%), serta UKM (12%). Sisanya (21%) terdiri atas kalangan konsumen dan usaha rintisan.

Sebagian besar lembaga keuangan dan perusahaan membutuhkan persetujuan dari pemangku kepentingan di berbagai jenjang. Itu sebabnya, perusahaan TekFin harus siap menghadapi lead time yang lebih lama sebelum menjalin kesepakatan bisnis dan merekrut klien. Perusahaan TekFin yang menawarkan solusi business-to-business harus memiliki pendanaan yang lebih besar demi memenuhi beban operasionalnya.

Laporan ini juga menilai, perusahaan TekFin di ASEAN pada umumnya optimis tentang kebutuhan pendanaan saat ini dan ke depan. Hampir setengah dari responden meyakini kemampuannya untuk menggalang US$ 10 juta dari babak pendanaan berikutnya.

Wong Wanyi, FinTech Leader, PwC Singapura, bilang, "Keyakinan ini tidak mengagetkan, sebab ASEAN cukup berprospek dan kalangan industri bebas memperoleh izin perbankan digital. Tingginya jangkauan perangkat seluler serta sejumlah fitur dari teknologi inovatif baru, telah membantu pemain TekFin sebagai penggerak utama dalam industri jasa keuangan di ASEAN. Mereka menyajikan pengalaman yang lebih mudah, cepat, dan nyaman. Meski demikian, persaingan di sektor TekFin berjalan sengit, sehingga perusahaan TekFin sebaiknya berfokus dan memiliki proposisi nilai bisnis yang jelas. Peningkatan skala usaha harus berjalan dengan laju dan alasan yang tepat."

Selain itu, SDM tetap menjadi tantangan. Sebanyak 58% perusahaan TekFin yang disurvei menunjukkan aspek SDM sebagai penghambat rencana ekspansi regionalnya.

Chia Hock Lai, Presiden SFA, berkata, "Berbagai perusahaan TekFin harus mempertimbangkan apakah suatu negara menyediakan keahlian yang tepat dan lengkap jika mereka ingin meningkatkan skala usahanya di sana. Mengingat lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencari tenaga kerja yang tepat, perusahaan harus membuat perencanaan ketika ingin meningkatkan tenaga kerja dan bisnisnya di sebuah pasar baru. Sebagai salah satu cara untuk mengatasi kendala ini, perusahaan TekFin bisa merekrut tenaga kerja lokal setidaknya enam bulan sebelum mereka merambah pasar baru."

Tentang United Overseas Bank

United Overseas Bank Limited (UOB) ialah bank terkemuka di Asia dengan jaringan global yang terdiri atas lebih dari 500 kantor, tersebar di 19 negara dan wilayah di Asia Pasifik, Eropa dan Amerika Utara. Sejak berdiri pada 1935, UOB telah tumbuh secara organik dan melakukan serangkaian akuisisi strategis. UOB memiliki sejumlah peringkat sebagai salah satu bank terbaik di dunia: Aa1 dari Moody's, serta AA- dari Standard & Poor's dan Fitch Ratings. Di Asia, UOB menjalankan kegiatan operasional melalui kantor pusatnya di Singapura, dan sejumlah unit usaha perbankan di Tiongkok, Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam, serta kantor-kantor cabang dan perwakilan di Asia. 

Selama lebih dari delapan dekade, para pegawai UOB dari berbagai generasi memiliki semangat kewirausahaan, fokus pada penciptaan nilai bisnis jangka panjang dan komitmen yang teguh dalam melakukan hal-hal yang benar bagi para nasabah dan rekan kerja.

Kami meyakini peran sebagai penyedia jasa keuangan yang bertanggung jawab, dan bertekad membuat perubahan di segala kehidupan para pemangku kepentingan, serta masyarakat di sejumlah wilayah operasional kami. Seperti kami bertekad membantu para nasabah dalam mengelola keuangan dan mengembangkan bisnisnya dengan bijak, UOB berpegang teguh dalam mendukung pembangunan kemasyarakatan, khususnya di bidang seni, anak-anak dan pendidikan.

Tentang PwC

Di PwC, kami ingin membangun kepercayaan di tengah masyarakat, dan menyelesaikan sejumlah masalah penting. Kami terdiri atas jaringan firma akuntansi di 157 negara, lebih dari 276.000 tenaga kerja yang berkomitmen untuk memberikan layanan penjaminan, konsultasi, dan perpajakan yang bermutu. Untuk informasi lebih lanjut dan menginformasikan kami tentang kebutuhan Anda, silahkan mengunjungi kami di www.pwc.com/sg.

Tentang Singapore FinTech Association (SFA)

SFA merupakan lembaga lintas-industri dan bersifat nirlaba. Tujuan SFA ialah mendukung pengembangan industri teknologi finansial (TekFin) di Singapura. SFA juga ingin memfasilitasi kolaborasi antara para pelaku dan pemangku kepentingan dalam ekosistem TekFin di Singapura. SFA berbasis pada keanggotaan, dan memiliki lebih dari 350 anggota. Selain itu, SFA mewakili berbagai jenis pemangku kepentingan dalam industri TekFin, dari kalangan perusahaan inovatif yang berada di tahap awal, hingga pelaku sektor keuangan dan penyedia jasa keuangan yang terkemuka.

Demi mencapai tujuannya, SFA juga bermitra dengan berbagai institusi dan asosiasi dari Singapura serta seluruh dunia. Kerja sama tersebut menyangkut berbagai inisiatif dalam industri TekFin. SFA telah meneken lebih dari 50 Nota Kesepahaman berskala internasional, dan menjadi lembaga U Associate pertama yang terafiliasi dengan National Trades Union Congress (NTUC). Melalui program FinTech Talent (FT), diluncurkan pada 2017, lebih dari 300 tenaga profesional telah dilatih di bidang TekFin, termasuk blockchain dan mata uang kriptografi, keamanan siber, dan regulasi.


Baca Juga
KOMENTAR
Kontak Informasi
Redaksi : ekawdy77ads@gmail.com
Media Partner : ekawdy77ads@gmail.com
Iklan : jurnalpatroli2016@gmail.com, WA 081318185028