Senin, 20 Mei 2019 21:07 WIB

POLITIK

Puluhan Teroris Ditangkap Jelang Aksi 22 Mei, Jakarta Sudah Aman?

Ferdinand Mannopo - jurnalpatrolinews
Puluhan Teroris Ditangkap Jelang Aksi 22 Mei, Jakarta Sudah Aman? Foto : Petugas kepolisian menunjukkan bukti yang disita dalam penangkapan tersangka militan selama konferensi pers di Jakarta, Jumat, 17 Mei 2019. (Foto: EPA)

Jurnalpatrolinews - Jakarta,  Juru bicara Polri Muhammad Iqbal mendesak warga untuk tidak mengadakan aksi 22 Mei, demi keselamatan mereka. Pernyataan itu terkait dengan semakin banyaknya teroris yang diamankan yang menurut Polri telah merencanakan serangan pada hari pengumuman hasil Pilpres 2019 terkait rencana demonstrasi yang akan diadakan pendukung Prabowo. Indonesia, yang menjadi pos terdepan demokrasi di Asia Tenggara tengah bergolak akibat perlawanan Prabowo yang mengumumkan akan menolak hasil Pilpres 2019 yang sejauh ini menunjukkan kemenangan Jokowi.

Oleh: The Age

Sebanyak 32.000 personel keamanan telah dikerahkan di Jakarta setelah adanya peringatan tentang kemungkinan serangan militan teroris selama pengumuman hasil resmi pemilu 2019, kata Polri.

Juru bicara Polri Muhammad Iqbal mengatakan polisi telah menangkap lebih dari 60 tersangka teroris sejak Januari, dengan 29 ditangkap bulan ini. Delapan tersangka terbunuh saat berusaha kabur dari penangkapan.

Dia mengatakan para tersangka berencana untuk meledakkan bom selama aksi 22 Mei, di hari ketika penghitungan suara resmi diumumkan.

Iqbal mengatakan 29 tersangka tersebut berafiliasi dengan Jemaah Ansharut Daulah (JAD), sebuah kelompok teroris yang dibentuk oleh Aman Abdurrahman, seorang teroris yang berafiliasi dengan Negara Islam yang sekarang menjadi narapidana di Nusakambangan. Dia mengatakan 18 orang dari kelompok itu terlibat dalam pembuatan bom.

“Kelompok ini mengambil momentum pemilu karena demokrasi bukanlah ideologi yang mereka ikuti. Kami meminta orang-orang untuk tidak turun ke jalan [pada 22 Mei] karena akan berbahaya. Mereka akan menyerang semua massa termasuk aparat keamanan.

“Penangkapan itu adalah tindakan preventif,” kata Iqbal yang memperlihatkan sejumlah barang yang disita selama penangkapan, termasuk lima bom rakitan, fosfor merah dengan bahan peledak tinggi, empat pisau, busur dan panah. Polisi juga menunjukkan 10 tersangka yang diborgol dengan mengenakan tudung hitam dan seragam tahanan oranye.

Jaringan JAD dari hampir dua puluh organisasi ekstremis telah terlibat dalam berbagai serangan di Indonesia dalam tiga tahun terakhir dan ditetapkan sebagai organisasi teror oleh AS pada tahun 2017.

Iqbal mendesak orang-orang untuk tidak mengadakan demonstrasi di jalan dan menghindari pertemuan massa pada hari itu untuk keselamatan mereka.

Pada bulan Maret, istri seorang militan teroris yang ditahan karena diduga merencanakan serangan di Jakarta meledakkan sebuah bom rumah mereka dikepung di Sumatra Utara, menewaskan dirinya dan anaknya yang berumur dua tahun.

Juru bicara kepolisian lainnya, Dedi Prasetyo, mengatakan personil polri dan TNI akan membuat mengamankan sekitar markas Bawaslu dan KPU di pusat kota Jakarta.

Indonesia, negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia, adalah pos terdepan demokrasi di lingkungan pemerintahan otoriter di Asia Tenggara. Setelah pemilu serentak pada 17 April, penghitungan suara dari lima kelompok survei independen menunjukkan Presiden Joko Widodo unggul atas Prabowo Subianto.

Klaim kemenangan Prabowo, dan tuduhannya tentang kecurangan pemilu, telah menimbulkan spekulasi bahwa ia mungkin berusaha mengubah hasilnya atau menolak untuk mengalah.

Itu akan memberi tekanan pada lembaga-lembaga demokratis negara dan mungkin bisa mengarah pada kekerasan.

Pendukungnya baru-baru ini mengadakan aksi unjuk rasa untuk menyerukan keadilan dan kewaspadaan dalam penghitungan suara, seiring pemerintah memperingatkan bahwa upaya untuk meragukan hasilnya ini bisa menjadi upaya kudeta.

(matamatapolitik)

 


KOMENTAR
Kontak Informasi
Redaksi : -
Media Partner : -
Iklan : -