Jumat, 09 Agustus 2019 13:35 WIB

NASIONAL

Sambutan Menag Pada Silaturrahim NU Sedunia Ke-18 di Makkah

Ferdinand Mannopo - jurnalpatrolinews
Sambutan Menag Pada Silaturrahim NU Sedunia Ke-18 di Makkah Foto : Ist

Jurnalpatrolinews - Makkah,  Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memberikan sambutan pada SIlaturahim NU Sedunia yang berlangsung di Jarwal, Makkah, Kamis (08/08). 

Hadir dalam kesempatan ini, KH Bunyamin Ruhiyat dari PBNU, KH Anwar Mansur dari Pesantren Lirboyo, KH Asep Saifuddin Chalim dari Pesantren Amanatul Umah, KH Agus Ali Masyhuri dari Sidoarjo, Dubes RI di Saudi Agus Maftuh Abegebriel, Wagub Jawa Tengah Gus Yasin, KH Anwar Zahid, serta para jemaah haji dan pelajar NU yang datang dari sejumlah cabang internasional.

Menag mengajak warga nahdliyin untuk mengoptimalkan seluruh energi Nahdlatul Ulama (NU) guna kepentingan bangsa. Silaturahim ini menjadi forum penguatan untuk menyatukan energi positif dari diaspora NU. “Jika mereka disatukan, alangkah besar potensi energi yang bisa didapatkan untuk segala kebaikan yang kita ingini,” pesan Menag. 

Berikut ini sambutan lengkap Menteri Agama pada Silaturahim NU Sedunia:

Merajut Ukhuwah Wathaniyah Menuju Perdamaian Dunia

Alhamdulillah saya dapat menghadiri pertemuan ini lagi untuk keenam kalinya secara berturut-turut, sejak pertemuan ini pertama kali digelar PCI NU Saudi Arabia pada tahun 2001 atau 18 tahun silam. 

Pertemuan ini amat penting bagi kita semua, warga NU. Silaturahim ini membawa kita kembali ke alam nyata. Dari yang semula hanya bertegur sapa di dunia maya, di sini kita dapat bertatap muka. Tentu ada suasana berbeda antara kita bertemu langsung seperti ini bercakap-cakap, ketimbang sekadar bertegur sapa di whatshapp. Ada nuansa persaudaraan, persahabatan, juga tabarrukan. 

Lebih dari itu, silaturahim ini adalah forum penguatan untuk menyatukan energi positif dari pada diaspora NU. Seperti halnya umat Islam dari segala penjuru dunia yang berkumpul di Tanah Suci ini, kita di sini berharap mendapatkan keberkahan ilahi dan kemudian menebarkannya ke segala arah. Orang-orang NU telah tersebar di berbagai negara. Sebagian mereka sedang menempuh studi, sebagian lagi telah berkiprah di segala macam bidang profesi. Jika mereka disatukan, alangkah besar potensi energi yang bisa didapatkan untuk segala kebaikan yang kita ingini. 

Tapi di zaman sekarang, kita tidak boleh lagi sekadar bicara potensi. Karena jika hanya menghitung potensi, kita akan selalu terlena dengan angka-angka belaka. Kita seringkali bangga dengan sebutan NU adalah organisasi Islam terbesar di dunia, Indonesia punya populasi muslim terbesar di dunia, dan seterusnya. Tapi apa yang bisa kita perbuat dengan itu? Sebagai yang terbesar, apakah kita sudah dominan mewarnai wajah Islam di muka bumi?

Berawal dari pertanyaan tersebut, marilah kita mengubah potensi energi pada NU menjadi daya nyata bagi kemanusiaan. Dari situlah kita akan mengawal perdamaian dunia karena pada hakikatnya manusia membutuhkan kedamaian.  

Hadirin yang saya muliakan,
Dalam pelajaran fisika zaman sekolah dulu, kita ingat bahwa energi terbagi dalam tiga jenis: energi potensial, energi kinetik, dan energi mekanik. Energi potensial sering disebut juga energi diam, karena benda yang dalam keadaan diam saja dapat dianggap memiliki energi. Dalam hal ini, NU diam saja tidak melakukan apa pun, orang sudah bisa menghitung sebegitu besar kekuatannya. Lalu, energi kinetik, yaitu energi gerak yang besar kecilnya dipengaruhi oleh pola gerakan yang terjadi. NU akan dianggap eksis jika dapat dirasakan atau dilihat gerakannya. Sedangkan energi mekanik biasanya dikaitkan dengan pola penggunaan energi dan dampaknya. Pola gerak dan mekanisme yang kita lakukan dalam memanfaatkan energi akan memberikan dampak sesuai keinginan kita. Ibarat main badminton, ketika kita pukul bola, maka energi kinetik yang kita keluarkan akan menjadikan shuttlecock terbang, kemudian jatuh dan memberikan dampak. Shuttlecock akan jatuh di posisi yang kita inginkan jika kita memukul dengan cara tertentu sambil memperkirakan daya jangkau, kondisi angin, dan seterusnya. NU juga begitu, ia akan menjadi seperti apa, amat tergantung dari bagaimana kita mengoptimalkan energi yang dikandungnya. 

Kita patut bersyukur, para pendiri NU adalah orang-orang besar yang mampu memberikan pengaruh luar biasa, sehingga diamnya NU saja sudah punya energi potensial amat besar. Kita bersyukur pula, pola gerak NU telah menjadi magnet bagi dunia. Banyak pihak dari negara-negara lain yang datang ke Indonesia untuk belajar dari NU, baik yang melalui pengurus NU, lewat diplomasi, maupun yang langsung ke kantong-kantong NU seperti pesantren dan masyarakat umum pengamal amaliah NU. Mereka belajar tentang cara kita mempraktikkan agama, cara kita dalam menampilkan Islam yang rahmah. 

Para ulama, santri dan kaum sarungan yang berbahagia, 
Untuk mengefektikan energi kinetik NU agar terasa produktif, kita perlu melakukan beberapa langkah. Sebagai langkah awal, kita harus memperkuat sinergi. Kekuatan-kekuatan NU di berbagai sisi tidak akan ada artinya jika tercerai berai. Orang NU boleh dan bisa di mana-mana, tapi keberadaannya harus konsisten membawa kepentingan NU. Tapi kepentingan NU di sini bukan berarti secara sempit sekadar untuk memperbesar organisasi. Lebih dari itu, kepentingan NU sesungguhnya sama dengan kepentingan bangsa dan negara. Yakni, bagaimana mewujudkan maqashid syariah dalam kerangka NKRI yang berbhinneka tunggal ika. Bukan sebaliknya, mengangkangi konstitusi dan kesepakatan warga bangsa dengan memaksakan formalisasi syariah maupun sebaliknya liberalisasi aturan. 

Di tempat ini, mari kita luruhkan segala perbedaan. Kita satukan kembali energi ke-NU-an (ghirah nahdhiyah) dengan meneguhkan komitmen bersama sesuai cita-cita pendiri NU, yaitu Islahul Ummah atau perbaikan umat dalam berbagai bidang; agama, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya. Kita bisa berposisi apa saja dan berada di mana saja, tapi jangan pernah lupa untuk menggelorakan ruh NU dan menjaga kekompakan sesama Nahdhiyin.

Jumlah Nahdhiyin yang demikian besar tidaklah berupa kumpulan orang-orang dengan profil yang sama. Orang-orang NU terbagi dalam berbagai segmen yang tumbuh dalam kehidupannya masing-masing. Ada NU struktural dan NU kultural. Ada NU tradisional, NU profesional, sampai yang dicap NU liberal. Ada NU ashli (pakai shod), ada pula NU urban. Lalu, ada angkatan NU zaman kolonial sampai generasi NU milenial. Semakin dikategorisasi, makin banyak ragamnya. Di situlah uniknya NU, seperti keunikan pesantren yang menurut gurauan para peneliti: semakin dikaji makin bikin pusing sendiri.  

Salah satu yang menjadi keunggulan NU di mata orang lain adalah kemampuannya dalam berbudaya. Kita para penerus dakwah metode Walisongo jangan sampai melupakan bidang garapan ini. Sebab, di situlah ruang kreasi paling lentur untuk berdialog dengan zaman. Lewat budaya, kita dapat mengejawantahkan kaidah fikih almuhafazah ala al-qadim as-shalih, wal ahdzu bil-jadid al-aslah. 

Kita bangga sekaligus bersyukur, shalawat dan tahlilan yang merupakan tradisi NU mulai diterima masyarakat Arab. Mungkin sebagian di sini merasakan langsung bagaimana pemilik-pemilik hotel menyambut jemaah haji dengan lantunan shalawat yang biasa kita dengar di Tanah Air. Saya tahun lalu meresmikan sebuah gedung di dekat Daker dengan acara sesuai tradisi Nahdhiyin, dan pemilik hotel malah senang. Di jalan-jalan kita juga makin biasa disapa oleh orang Arab karena mereka suka keramahan orang Indonesia. Saya rasa, kalau boleh jujur, orang NU pasti lebih bisa senyum bahkan ketawa, karena sesungguhnya hidup ala NU itu memang lebih suka menebar ramah dan rahmah, dari pada marah-marah. 

Para Nahdliyin yang saya muliakan,
Kita pun bersyukur bahwa warga NU telah menunjukkan keberpengaruhannya dalam politik dalam negeri sehingga mampu mengantarkan kiai NU pada puncak kepemimpinan nasional. Guru kita, Kyai Maruf Amin mendampingi presiden terpilih, Pak Jokowi, untuk memimpin Indonesia dalam lima tahun ke depan. Capaian ini jangan dianggap sebagai puncak prestasi politik kaum Nahdliyin dalam proses demokrasi di masa-masa ini. Sebaliknya, ini adalah sebuah awal bagi kita untuk menunjukkan kemampuan warga NU dalam konteks bernegara. Jika selama ini warga NU telah berkontribusi nyata menjaga keutuhan NKRI, maka kini saatnya kita menjaga amanah rakyat sekaligus memajukan negeri. 

Salah satu tantangan terbesar kita adalah menghadapi zaman yang cepat berubah. Kita berhadapan dengan generasi milenial yang serba berperanti digital. Kita berhadapan juga dengan pesatnya inovasi teknologi yang menimbulkan disrupsi. Tiada jalan lain, kita harus melakukan shifting (peralihan) supaya dapat beradaptasi dengan zaman kekinian. Peralihan yang dimaksud tentu saja tidak drastis dan tanpa perencanaan, melainkan menganut kaidah-kaidah fikih yang dikontekstualisasi dengan situasi kontemporer. Peralihan ini juga bukan berarti bersalin rupa atau berpindah haluan, misalnya dari semula mengurus muslim pedesaan ke muslim perkotaan. Kita tetap mengurus warga desa, tapi juga memperhatikan penduduk kota dan seluruh warga bangsa.

Kehidupan beragama di ranah digital, utamanya media sosial, memiliki karakteristik tersendiri. Bukan saja menyangkut cara mengekspresikan agama, tapi juga terkait kegiatan ekonomi yang memanfaatkan sentimen agama sebagai pasar. Melihat kondisi demikian, para agamawan yang mumpuni harus hadir memenuhi ruang internet dan media sosial. Hal ini supaya masyarakat yang haus agama dapat menemukan referensi keagamaan dari sumber yang otoritatif, seperti kiai pesantren dan kaum intelektual Nahdhiyin. Ini akan mencegah generasi digital menelan agama secara instan dari sumber yang tak matang. Sedangkan di sisi ekonomi, pengusaha NU harus aktif sebagai penentu arus ekonomi dan bukan sekadar obyek pasar.

Ini artinya, NU harus memperlebar segmentasi dan memperbaiki ekosistem. Pahami psikologis masyarakat terkini dengan segala dinamikanya. Perbanyak kawan, kurangi musuh. Jangan mudah menegasikan dan menepis suatu kelompok hanya karena ada perbedaan sedikit saja dengan kita. Jangan juga gampang menyalahkan orang lain, hanya karena kita kalah bersaing. Pun jangan mudah berkonflik karena hal-hal kecil yang tidak prinsipil. Jangan sampai NU yang besar malah terasing di masyarakat kita sendiri hanya karena gagal memahami dan merangkul mereka. 

Di era tanpa batas seperti sekarang, kita mesti berpikiran terbuka, berlapang dada, dan selalu mengambil ibrah dari setiap peristiwa. Dua hari lalu, kita kehilangan guru kita KH Maimoen Zubair. Bukan hanya kita yang bersedih, alam pun turut berduka. Orang-orang dari berbagai kalangan merasa kehilangan sehingga doa terpanjat dari mana saja: kiai, jemaah, habib, sampai pendeta. Itu menunjukkan bahwa almarhum almaghfurlah adalah milik semua orang, milik bangsa, tidak bisa lagi sekadar diekslusifkan milik kelompok tertentu saja, milik NU saja, lalu orang lain tidak boleh mendoakan. Semoga semakin banyak orang NU yang mampu meneladani Mbah Moen, dan kita termasuk di dalamnya. 

Para Jemaah Haji yang dirahmati Allah SWT,
Kita lagi-lagi bersyukur, Indonesia telah terpilih sebagai Ketua Dewan Keamanan PBB. Ini adalah kesempatan bagi kita untuk mewujudkan cita-cita nasional yaitu turut menciptakan perdamaian dunia. Akhir-akhir ini banyak negara menilai bahwa salah satu sumber konflik dunia selain perebutan dominasi ekonomi adalah cara pandang yang ekstrem. Itulah sebabnya, PBB menyatakan bahwa tahun ini adalah tahun moderasi. 

Oktober nanti, Indonesia akan resmi mulai berperan sebagai pemimpin dalam penciptaan ketertiban, keamanan, dan perdamaian dunia. Sebagai negara yang masyarakatnya religius, wajar jika Indonesia lantas menjadikan nilai agama sebagai jalan mendamaikan umat manusia. Di sini pentingnya kita mengedepankan esensi agama itu sendiri yaitu memanusiakan manusia. Dan esensi itu tak mungkin dipahami jika ajaran agama dipahami secara esktrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. 

NU berhasil mengejawantahkan bagaimana beragama yang tidak ekstrem. Praktik beragama ala NU telah mempengaruhi Islam di Indonesia jadi terasa ramah, setidaknya dibanding banyak negara Islam lainnya. Tapi disrupsi sumber referensi keagamaan di era sosmed bisa saja mengubah lanskap itu sehingga Islam Indonesia yang toleran, inklusif, dan moderat makin tergerus. Karenanya, NU harus menegaskan dirinya sebagai panduan yang tepat bagi generasi masa kini dan generasi mendatang, bukan generasi masa lalu. Salah satu caranya, kuasai panggung digital, terus berkontribusi positif bagi negeri, dan berperan di isu-isu besar dunia. Mari jadikan paham NU dapat diterapkan penduduk muslim di seluruh dunia. Semoga dengan begitu, dunia akan menjadi lebih damai. 

Akhirnya,
Mari senantiasa menebar kedamaian.
Kapan pun..
Dimana pun..
Kepada siapa pun..


KOMENTAR
Kontak Informasi
Redaksi : -
Media Partner : -
Iklan : -