JPNews
Senin, 15 April 2019 20:34 WIB

DAERAH

Sedikit Tentang Kesenian Ujungan Dan Tari Uncul Di Bekasi

Ferdinand Mannopo - jurnalpatrolinews
Sedikit Tentang Kesenian Ujungan Dan Tari Uncul Di Bekasi Foto : Ist

Jurnalpatrolinews - Bekasi,  Alhamdulillah, kemarin (Sabtu, 13 April 2019) saya berkesempatan mendengarkan wawancara seorang mahasiswi UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Bandung yang sedang melakukan penelitian terkait Seni Tari Silat Uncul yang hanya ada saat berlangsung aksi Ujungan.

Narasumber yang diwawancarai adalah Kong Mitra, Baba Rahman, Bang Jamal dan lain-lain dari Perguruan Silat Cinong Bekasi, sedangkan yang mewawancarai adalah Chika, mahasiswi UPI yang juga aktif di Sanggar Tari Chyka di Kebalen Babelan Kabupaten Bekasi.

Kesenian Ujungan

Mengenai Kesenian Ujungan sebelumnya perlu dibahas sedikit bahwa selain di Bekasi, beberapa daerah juga mengenal Kesenian Ujungan dengan masing-masing variasinya, seperti Banyumas, Majalengka, Cirebon, Tegal, Jombang, Probolinggo dan lainnya. Khusus untuk Banyumas dan Majalengka Kesenian Ujungan konon dikaitkan dengan ritual meminta hujan.

Dari Memoar Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat atau Herinneringen van Pangeran aria Achmad Djajadiningrat (Balai Poestaka, Kolff-Buning, Jakarta, 1936) juga mengisahkan dirinya yang belajar Ujungan dan Pencak Silat saat ia dikirim ke pesantren di Karundang, Serang Banten sekitar tahun 1883, 136 tahun yang lalu.

Berikut catatan terjemahan dari Memoar Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat yang saya capture dari buku "Indonesia: Selected Documents on Colonialism and Nationalism 1830-1942", Penders, Chr.L.M. (Editor and Translator) 1977. University of Queensland Press, St Lucia. © Copyright, Dr Chris Penders, 1977, 2005.

Kesenian Ujungan dan Tari Uncul di Bekasi

Kesenian Ujungan juga tercatat dalam buku berbahasa Sunda berjudul "Rasiah Priangan" karya Mas Kartadinata, terbitan Balai Poestaka tahun 1921. Buku Rasiah Priangan ini mencatat bahwa kesenian ujungan merupakan permainan yang biasa diselenggarakan di Garoet untuk memeriahkan pesta atau hajatan daerah yang dilaksanakan di alun-alun Garoet. Tapi disebutkan pula bahwa ujungan tidak khas Garoet. Ujungan yang sama diselenggarakan pula di Soemedang dan Soekapoera, tetapi di Bandoeng dan Tjiandjoer tidak ada.

Kembali ke penuturan Kong Mitra, Baba Rahman dan lain-lain, saya simpulkan Kesenian Ujungan ini pada intinya sama, dua orang berlaga dengan menggunakan alat pemukul berupa batang rotan, sasaran pukulan adalah bagian kaki. Untuk di Bekasi khususnya Babelan, Kesenian Ujungan membatasi area anggota badan yang boleh dipukul hanya bagian dengkul ke bawah. Sedangkan daerah lain ada yang memperbolehkan daerah pusar ke bawah.

Dalam aksi Ujungan yang resmi ada yang disebut Bobotoh yang bertindak layaknya wasit dan sebagai pemimpin jalannya aksi Ujungan. Ujungan biasanya dilaksanakan malam hari saat terang cahaya bulan mencukupi dan dilakukan di lapangan terbuka atau area persawahan saat panen padi atau acara lain.

Kong Mitra sebagai salah satu pemain Ujungan di Babelan Kota, kemudian menjelaskan bahwa Kesenian Ujungan dimulai saat bobotoh sebagai wasit mempersilahkan salah satu pemain memasuki gelanggang. Pemain ini kemudian menari Uncul yang mirip ibing silat mengikuti irama musik dari alat musik perkusi yang disebut Samyong semacam Gambang sederhana yang terdiri dari 7 bilah kayu, toktok atau kentongan dari bambu dan kecrek yang terbuat dari logam.

Tari Uncul

Tari Uncul ini adalah gerakan-gerakan pemain yang mengikuti irama musik yang dimaksudkan sebagai undangan terbuka buat pemain lain untuk turun ke gelanggang untuk menjadi lawan tanding dalam seni Ujungan. Pemain yang ingin melawan akan muncul masuk ke gelanggang dan ikut menari Uncul dengan tetap menjaga jarak dan mencoba mengukur kekuatan pemain yang akan ia lawan dari gerakan dan irama tarian Uncul yang diperagakan.

Bobotoh akan memanggil kedua pemain yang sedang menari Uncul untuk mendekatinya dan menerangkan peraturan-peraturan yang berlaku. Jika kedua pemain sudah siap maka kemudian Bobotoh menyerahkan rotan atau kayu kepada masing-masing pemain dan memberi isyarat yang menyatakan Ujungan dimulai.

Soal kesamaan kata "uncul" dan "muncul" ini juga menarik, mungkin berkaitan mungkin juga tidak, saya tidak punya referensi tapi dugaan saya kata "uncul" adalah dasar dari kata "muncul".

Tari Uncul ini seperti juga Ibing Silat, adalah gerakan-gerakan mengikuti irama musik yang menyerupai tarian tapi lebih menonjolkan sisi maskulin dan bersifat tantangan.

Munculnya pemain lain adalah jawaban tantangan. Selama Ujungan berlangsung musik samyong terus terdengar dan para pemain Ujungan tetap mengikuti irama musik sampai terlibat adu fisik jarak dekat.

Berbeda dengan beberapa tempat yang menggunakan pengikat di ujung rotan, Kong Mitra menjelaskan kalau kesenian Ujungan di Babelan rotan dipegang sekuat-kuatnya karena kalau sampai rotan terlepas dari tangan pemain maka ia akan dinyatakan kalah, baik terlepas karena pukulan lawan atau lainnya.

Kesenian Ujungan dan Tari Uncul di Bekasi

Saat ini Kesenian Ujungan bukan lagi untuk kompetisi, unsur membahayakan tubuh yang menjadi alasan pelarangannya sudah ditiadakan. Kesenian Ujungan dilestarikan dengan kemasan atraksi hiburan yang masih terus berkembang mencari format agar dapat diterima masyarakat sekarang.

Unsur seni dalam kesenian Ujungan setidaknya ada 3, yaitu seni musik (samyong), seni tari-silat (uncul), dan seni bela diri tongkat (ujungan). Kesenian yang saat ini hanya menjadi pertunjukkan tetap dipelihara dengan mengajarkan sikap menjunjung tinggi nilai sportivitas dan ketangkasan, pelestarian seni dan budaya, persaudaraan, rasa nasionalisme, dan semangat patriotisme sebagai generasi penerus bangsa.

Sudah lama saya mendengar tentang Kesenian Ujungan, sudah melihat beberapa penampilan Ujungan dari beberapa komunitas berbeda tapi baru kali ini saya mendengar banyak langsung dari penuturan Kong Mitra dan Baba Rahman sebagai pemain Ujungan Tempoe Doeloe.

Catatan ini ditulis dari hasil mendengar wawancara dan beberapa sumber referensi, lebih dan kurangnya mohon dikoreksi.


Berita Terkait
KOMENTAR
Kontak Informasi
Redaksi : -
Media Partner : -
Iklan : -