Sabtu, 06 April 2019 12:20 WIB

INTERNASIONAL

Setelah Ethiopian Airlines dan Lion Air Jatuh, Boeing Kurangi Produksi Model 737

Ferdinand Mannopo - jurnalpatrolinews
Setelah Ethiopian Airlines dan Lion Air Jatuh, Boeing Kurangi Produksi Model 737 Foto : Ethiopian Airlines 737 Max jatuh hanya beberapa menit setelah lepas landas dari Addis Ababa pada Maret, menewaskan seluruh penumpang dan awaknya yang berjumlah 157 orang.

Jurnalpatrolinews - Jakarta,  Perusahaan Boeing untuk sementara waktu memangkas produksi model pesawat 737 yang merosot penjualannya akibat insiden jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines dan Lion Air.

Mereka akan menurunkan produksinya dari 52 pesawat menjadi 42 setiap bulannya mulai pertengahan April, demikian pernyataan resmi Boeing.

Keputusan ini diambil sebagai tanggapan atas penghentian pengiriman 737 Max - model pesawat dalam dua kecelakaan di Indonesia dan Ethiopia yang menewaskan seluruh penumpang dan awaknya.

Sebelumnya, Boeing telah melarang terbang seluruh armada pesawat 737 Max setelah penyelidik menemukan bukti baru di lokasi jatuhnya Ethiopian Airlines.

Pabrikan pesawat tersebut juga merilis pemutakhiran perangkat lunak yang disebut-sebut terkait dengan jatuhnya dua pesawat dalam rentang lima bulan.

Ethiopian Airlines 737 Max jatuh hanya beberapa menit setelah lepas landas dari Addis Ababa pada Maret, menewaskan seluruh penumpang dan awaknya yang berjumlah 157 orang.

Jenis yang sama diterbangkan oleh maskapai Indonesia Lion Air, jatuh ke laut hanya lima bulan sebelum insiden di Ethiopia, tidak lama setelah lepas landas dari Jakarta. Kecelakaan itu merenggut nyawa 189 orang.

Dalam kedua kasus, temuan awal mengungkapkan bahwa pilot berupaya berulang kali mengendalikan, tetapi pesawat itu menukik tajam beberapa kali sebelum akhirnya jatuh.

Pihak penyidik memusatkan pada sistem MCAS (Manoeuvring Characteristics Augmentation System)- perangkat yang berfungsi mencegah pilot menaikkan hidung pesawat terlalu tinggi dengan cara menukikkan pesawat secara otomatis.

Dalam kasus Lion Air JT610, MACS tidak bekerja dengan baik sehingga setiap kali pilot menaikkan hidung pesawat, MCAS aktif kembali dan menurunkan hidung pesawat.

Apa yang dikatakan Boeing dalam pernyataan terbaru?

Boeing kembali mengulangi pernyataannya dalam upayanya melakukan serangkaian perubahan pada sistem kendali pesawat 737 Max yang disebut terkait dua insiden tersebut, kata Chief Executive Officer Boeing, Dennis Muilenburg.

Sebagai bagian dari pemutakhiran, Boeing akan memasang sistem peringatan sebagai standar baru pada pesawat 737 Max, yang sebelumnya merupakan fitur opsional keselamatan.

Boeing mengatakan perangkat lunak telah dimutakhirkan sehingga MCAS tak lagi berfungsi jika terdapat data sensor yang bertentangan.

Dalam kasus Lion Air JT610, MACS tidak bekerja dengan baik sehingga setiap kali pilot menaikkan hidung pesawat, MCAS aktif kembali dan menurunkan hidung pesawat.

Insiden ini terjadi lebih dari 20 kali sebelum akhirnya Lion Air JT610 menghujam laut dan menewaskan ke-189 orang di dalam pesawat.

Badan Penerbangan Federal AS (FAA) mengatakan ada kemiripan antara peristiwa Lion Air dan Ethiopian Airlines.

Dalam jumpa pers sebelumnya, Boeing menegaskan pemutakhiran ini bukanlah pengakuan bahwa sistem tersebut yang menyebabkan jatuhnya pesawat Lion Air dan Ethiopian Airlines.

Kesulitan apa yang dihadapi Boeing?

Kecelakaan yang menimpa pesawat maskapai Ethiopian Airlines ET302 menyebabkan maskapai di seluruh dunia "tidak menerbangkan" pesawat 737 Max.

Badan Penerbangan Federal AS (FAA) merupakan badan keselamatan penerbangan terakhir yang menangguhkan penerbangan pesawat Boeing 737 Max, sehingga muncul tuduhan mereka memiliki kedekatan dengan Boeing.

Perusahaan ini juga mendapat cecaran pertanyaan mengapa mereka tidak melakukan larangan terbang terhadap model 737 Max lebih awal setelah insiden di Indonesia.

Beberapa negara —termasuk Indonesia, Inggris dan Cina—telah melarang pengoperasian Boeing 737 Max menyusul jatuhnya pesawat jenis ini di Ethiopia dan Indonesia. Sejumlah maskapai kemudian membatalkan pemesanan model ini.

Setelah pernyataan itu, saham Boeing turun lebih dari 1% dalam neraca perdagangan setelah berakhirnya jam kerja.

Bagaimana reaksi para korban?

Pihak Boeing telah meminta maaf pada Kamis atas insiden dua kecelakaan tersebut, namun langkah ini belum memuaskan sebagian keluarga korban yang mempertanyakan mengapa Boeing tidak bertindak untuk menerbangkan model pesawat itu

Ayah dari pilot Ethiopian Airlines, Dr Getachew Tessema, mengatakan kepada BBC bahwa permintaan maaf itu "sudah terlambat".

Pilot Yared Getachew, 29 tahun, memiliki pengalaman terbang lebih dari 8.000 jam ketika dia menjadi korban meninggal dalam kecelakaan itu.

"Saya sangat bangga dengan putra saya dan copilotnya," katanya kepada wartawan BBC Emmanuel Igunza.

"Sampai menit-menit terakhir, mereka telah berbuat maksimal, tetapi sayangnya mereka tidak dapat mengendalikannya," ungkapnya.

"Saya sama-sekali tidak menyesali posisinya sebagai pilot. Dia gugur dalam tugasnya."

Tessema menyalahkan kesalahan langsung dari pihak Boeing, yang disebutnya tidak menghentikan operasional 737 Max setelah kecelakaan di Indonesia.

"Mengapa mereka membiarkan model itu tetap terbang? Karena mereka takut kalah bersaing. Mereka ingin menjual sebanyak mungkin tiket. Kehidupan manusia tidak ada artinya."

Keluarga seorang penumpang asal AS yang tewas dalam kecelakaan di Ethiopia, Samya Stumo yang berusia 24 tahun, mengajukan gugatan pertama terhadap Boeing pada Kamis di Chicago.

(BBC Indonesia)


KOMENTAR
Kontak Informasi
Redaksi : -
Media Partner : -
Iklan : -