Senin, 21 Oktober 2019 10:20 WIB

KORUPSI

Soal KPK, Radikalisme dan Kemiskinan, Ferry Liando Nilai Jokowi ‘Gagal’

Beno - jurnalpatrolinews
Soal KPK, Radikalisme dan Kemiskinan, Ferry Liando Nilai Jokowi ‘Gagal’ Foto : Ferry Liando

JurnalPatroliNews - Manado – Ir. Joko Widodo telah dilantik sebagai Presiden RI periode 2019-2024 melalui rapat paripurna MPR RI, Minggu (20/10/2019).

Di kesempatan tersebut, Presiden Jokowi juga memaparkan 5 (Lima) hal yang akan dilakukan di periode kedua kepemimpinannya.

Pengamat politik, Ferry Daud Liando, memberikan beberapa catatan terhadap kepemimpinan Presiden Jokowi di periode pertama 2014-2019 dan memasuki periode kedua 2019-2024.

Salah-satunya, menurut Ferry Liando, agar Presiden Jokowi memperjelas sikap terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dukungan pemerintah terhadap revisi Undang-Undang KPK seakan-akan mendukung pelemahan KPK.

“Jokowi seakan tidak konsisten dengan pemberantasan korupsi. Ia tidak punya sikap ketika KPK dilemahkan. Padahal, pelaku korupsi makin tidak terkendali,” jelas Ferry Liando kepada jurnalpatrolinews.co.id, Senin (21/10/2019).

Lainnya, lanjut Ferry Liando, pemerataan pembangunan terutama di kawasan timur Indonesia, meruntuhkan polarisasi sosial akibat konflik etnik dan agama di sejumlah daerah. Memulihkan nama baik Indonesia di mata dunia internasional yang selama ini Indonesia di label sebagai negara teroris.

“APBN kita sekitar 70 persen itu terkesan hanya membiayai pulau Jawa. Pulau pulau lain berbagi dengan sisanya, sehingga ketimpangan pembangunan sangat menonjol,” ujar Ferry Liando.

Menurut Ferry Liando, tingkat kesejahteraan masyarakat belum berimbang. Banyak orang terlibat dalam gerakan radikal dan terorisme karena ingin mengubah nasib.

“Selama ini sesungguhnya yang diperjuangkan bukanlah doktrin atau ideologi. Tetapi hanya memanfaatkan doktrin itu sebagai alat perjuangan untuk mengubah nasib,” tukas Liando.

Sehingga jika pemerataan ekonomi dan kesejahteraan tidak di benahi, tambah Ferry Liando, gerakan teror dan politik aliran masih akan merajalalela dan dampaknya adalah kekacauan. Nama Indonesia makin tidak bagus di mata internasional. Setiap hari media internasional memberitakan hal-hal yang tidak mengenakan.

“Korupsi merajalela, penikaman pejabat negara, miskin, kerusuhan, teroris, bangkitnya gerakan radikal dan lainnya. Kekuatiran ke depan adalah memburuknya ketidakpercayaan dunia internasional terhadap Indonesia. Bukan tidak mungkin inventasi akan berkurang karena investor asing lebih memilih negara lain yang dinilai aman,” pungkas Ferry Liando.

(JerryPalohoon)


Berita Terkait
KOMENTAR
Kontak Informasi
Redaksi : ekawdy77ads@gmail.com
Media Partner : ekawdy77ads@gmail.com
Iklan : jurnalpatroli2016@gmail.com, WA 081318185028