JPNews
JPNews

Jurnalpatrolinews - Jakarta -- Tekanan dolar AS terhadap rupiah mulai mereda. Ini terlihat dari nilai tukar mata uang Paman sam yang sudah mendekati posisi Rp 14.500-an.

Rupiah memang terus mengalami penguatan sejak awal pekan ini. Bank sentral menyebut penguatan ini terjadi akibat tekanan eksternal yang mulai mereda serta faktor internal yang sudah dipercaya oleh pasar valuta asing.

Berdasarkan data Reuters sore (7/11) nilai dolar AS tercatat Rp 14.575. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) dolar tercatat Rp 14.764.

Dolar AS terus mengalami pelemahan sejak Senin berada di posisi Rp 14.972 dan Selasa Rp 14.891.

Pada siang hari, Berdasarkan data Reuters pukul 11.58 WIB, nilai dolar AS berada di kisaran Rp 14.600an yakni Rp 14.669.

Pertama kali dolar AS tembus Rp 15.001 pada 2 Oktober 2018. Pada 5 Oktober 2018, dolar AS kembali melejit dan menembus level Rp 15.180. Level itu terus bertahan selama beberapa hari.

Penguatan dolar AS pun semakin menjadi-jadi. Pada 11 Oktober 2018 dolar AS menembus level Rp 15.235 yang merupakan level tertinggi. Dolar AS mulai menjinak sejak akhir pekan lalu yang menurun ke level Rp 15.128. Hari ini pelemahan dolar AS berlanjut dan meninggalkan level Rp 15.000.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah menjelaskan penguatan yang terjadi pada rupiah terjadi karena kepercayaan terhadap mata uang garuda ini semakin menguat.

"Hal ini juga dipengaruhi oleh melemahnya dolar AS terhadap seluruh mata uang di dunia, karena menguatnya ekspektasi kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu untuk menguasai kongres AS," kata Nanang kepada awak media, Rabu (7/11).

Dia menjelaskan, menguatnya kepercayaan tersebut tercermin dari pelepasan dolar AS oleh investor asing dan bank. Nah ini yang menyebabkan rupiah menguat sangat cepat di tengah kondisi pasar valuta asing yang sangat likuid.

"Selain faktor global masuknya dana investor asing juga mencerminkan confidence terhadap ekonomi domestik tetap kuat ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil dan inflasi yang terjaga rendah dan stabil," ujar dia.

Nanang menjelaskan kemenangan Partai Demokrat akan memberikan penyeimbang peta politik di AS dan mengurangi dominasi Partai Republik yang saat ini sangat menentukan arah pengelolaan fiskal AS ke depan dan proses legislasi berbagai kebijakan strategis.

"Di bawah kepemimpinan Trump fiskal juga didorong lebih ekspansif sehingga menyebabkan supply US Treasury Bond disertai kenaikan yield di atas 3,0% sehingga menopang penguatan dolar AS," imbuh dia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyambut baik hal tersebut. Menurutnya, investor melihat adanya usaha yang lebih baik dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan otoritas terkait.

"Kita dengan berbagai strategi yang kita lakukan bersama BI dan OJK, kita menjaga stabilitas dari sektor keuangan dan stabilitas ekonomi kita, sehingga lama-lama mereka juga melihat bahwa ada sentimen yang positif," katanya saat ditemui di Nusa Dua, Bali, Rabu (7/11).

Meski demikian, Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan tetap menjaga fleksibilitas ekonomi, sehingga ketika terjadi gejolak atau perubahan, ekonomi Indonesia tidak mudah goyang.

"Bukan berarti kemudian mengatakan pas lagi bagus kita ngaku, pas nggak bagus, nggak ngaku. Kita akan terus menjaga saja karena ekonomi itu kan dinamis. Dan ini pun akan berlanjut di nanti Desember, apa yang terjadi di Amerika dengan pemilu juga akan memberikan sentimen, apa yang terjadi antara Amerika dan China dari sisi perdagangan juga akan memberikan dinamika sentimen," ujarnya.

Sebagai informasi, Dolar AS berada di level tertingginya di Rp 14.794 dan level terendahnya di Rp 14.716. (*luk)


KOMENTAR