Sabtu, 04 April 2020 13:54 WIB

BISNIS

Terburuk Kedua di Asia, Dampak Corona, Pekan Ini Rupiah Dihantam Dolar AS

Ferdinand Mannopo - jurnalpatrolinews
Terburuk Kedua di Asia, Dampak Corona, Pekan Ini Rupiah Dihantam Dolar AS Foto : Istimewa

JurnalPatroliNews - Jakarta, Nilai tukar rupiah sempat menguat melawan dolar Amerika Serikat (greenback) pada perdagangan akhir pekan, Jumat (3/4/2020), Akibat membaiknya sentimen pelaku pasar. Namun dalam waktu sepekan terakhir (week on week) rupiah terdepresiasi terhadap greenback.

Pada Jumat (3/4/2020), nilai tukar rupiah dibanderol Rp 16.400/US$ atau melemah 1,86% dari penutupan sebelumnya di akhir pekan lalu, Jumat (27/3/2020) kala rupiah dihargai Rp 16.100/US$.

Kendati rupiah menjadi yang terbaik di Asia pada perdagangan hari Jumat, namun tidak serta merta penguatan ini menjadikan kita terlena terhadap kinerja rupiah. Buktinya rupiah selama dua minggu terakhir masih terdepresiasi.

Jika menengok performa mata uang kawasan Asia lainnya, rupiah menjadi yang terburuk kedua setelah won Korea.Sementara yuan China dan peso Filipina justru menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk pada pekan ini saja, rupiah dan mayoritas mata uang Asia lainnya masih melemah terhadap dolar. Saat ini dolar sedang menguat. Hal ini tercermin dari indeks dolar yang terus terapresiasi 1,58% dari Senin pekan ini di level 99,18 ke 100,75 pada penutupan hari Jumat.

Saat ini, para pelaku pasar tetap mewaspadai dampak dari penyebaran pandemi virus corona yang semakin masif menginfeksi lebih dari 1 juta penduduk bumi dengan tingkat kematian mencapai hampir 60 ribu jiwa berdasarkan data dari situs Johns Hopkins University.

Dampak dari pandemi virus corona sangat meresahkan investor atas perlambatan ekonomi global yang dipicu oleh karantina wilayah (lockdown) membatasi aktivitas roda perekonomian.

Sementara Asian Development Bank (ADB) pada hari Jumat (3/4/2020) memperingatkan bahwa pandemi virus corona dapat mengurangi separuh pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di negara berkembang Asia.

Pertumbuhan ekonomi Asia yang sudah melambat akan terus melemah bahkan jauh lebih dalam di tahun ini akibat dampak dari virus corona.

Meluasnya penyebaran wabah virus corona ke penjuru dunia telah menghantam ekonomi global, membuat para ekonom percaya bahwa dunia sedang menuju ke arah resesi. "Ini adalah krisis kesehatan masyarakat dan itulah yang perlu diatasi terlebih dahulu, sebelum situasi normal," kata Abdul Abiad, direktur divisi penelitian ekonomi makro ADB. Melansir dari Reuters.

 Setelah menghantam mata uang Asia, kini mata uang Eropa juga menjadi korban keganasan greenback. Pada penutupan perdagangan hari Jumat atau sabtu dini hari tadi, euro dibuat melemah 0,4% ke US$ 1,0808, poundsterling terkoreksi 1,03% di US$ 1,2660, dan franc Swiss melemah 0,42% di 0,9777/US$.

Meskipun Amerika Serikat menjadi episentrum baru dari pandemi virus corona dengan jumlah kasus terinfeksi lebih dari 250 ribu orang. Namun, negara kawasan ‘Benua Biru’ juga menjadi yang terbanyak dalam jumlah kasus yang terjangkiti.

Hal ini jugalah yang menjadi pemicu depresiasi mata uang negara Eropa terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Jadi bukan hanya Asia saja yang terbebani, negara-negara Eropa pun ikut merasakan dampak pandemi virus corona.

Setelah Asian Development Bank (ADB) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negara Asia akibat pandemi virus corona. Moody's pun memangkas outlok pertumbuhan PDB kelompok 20 (G-20) di tahun 2020.

"Ekonomi negara G-20 akan mengalami guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada paruh pertama tahun ini dan akan berkontraksi pada tahun 2020 secara keseluruhan," tulis Moody's, dalam riset bertajuk Global Macro Outlook 2020-21.

Moody's memperkirakan, Produk Domestik Bruto (PDB) riil sepanjang tahun 2020 dari negara-negara G-20 secara rata-rata akan minus 0,5%, jauh di bawah perkiraan pada proyeksi awal November lalu dengan estimasi pertumbuhan sebesar 2,6%.

Investor global memang sedang menghadapi tekanan ketidakpastian yang sangat tinggi, bagaimana premi risiko meningkat sangat-sangat tinggi dan investor melepas asetnya baik di pasar saham maupun modal.

Lalu, kemana arahnya aliran investasi yang sudah dilepas tersebut?

"...dan sekarang cash is the king, ketika kepercayaan investor terhadap aset-aset keuangan kembali jatuh. Risiko resesi ekonomi global yang semakin terlihat membuat investor kembali 'primitif' dengan memegang uang tunai.

Cash yang dipegang pun bukan sembarang cash, pilihan jatuh kepada dolar AS. Maklum, dolar AS adalah mata uang global. Segala urusan seperti perdagangan, investasi, sampai pembayaran utang dan dividen bisa selesai kalau punya dolar AS.

Permintaan dolar AS yang meningkat membuat nilai tukar mata uang ini menguat. Keperkasaan greenback teruji kembali.

(*/lk/ant)


KOMENTAR
Kontak Informasi
Redaksi : ekawdy77ads@gmail.com
Media Partner : ekawdy77ads@gmail.com
Iklan : jurnalpatroli2016@gmail.com, WA 081318185028