Rekomendasi OK!, AS Izinkan Warganya Terima Campuran Vaksin Pfizer & Moderna

  • Whatsapp
Vaksin Pfizer & Moderna./Net

JurnalPatroliNews – Jakarta, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) diam-diam mengubah panduannya tentang suntikan vaksin Covid-19.

Badan ini memberikan rekomendasi OK (Setuju) untuk pencampuran antara vaksin Pfizer dan Moderna dalam situasi luar biasa.

Bacaan Lainnya

CDC juga memutuskan untuk memberikan rekomendasi waktu lebih panjang, hingga enam minggu untuk mendapatkan dosis kedua dari vaksin salah satu perusahaan tersebut.

Sementara itu, rekomendasi dari kedua perusahaan justru lebih singkat meskipun vaksin yang diproduksi kedua perusahaan ini sama-sama menggunakan teknologi messenger RNA (mRNA). Pfizer memberikan rekomendasi waktu 21 hari dan Moderna 28 hari untuk menunggu hingga vaksinasi dosis kedua.

Pedoman vaksinasi baru yang dikeluarkan CDC menyebutkan meskipun segala upaya harus dilakukan untuk memastikan pasien menerima vaksin yang sama, namun kebebasan ini diberikan dalam situasi yang langka.

Kondisi yang dimaksud seperti ketersediaan vaksin dalam interval waktu minimal 28 hari jika suplai terbatas atau jika pasien tidak tau vaksin jenis apa yang diterimanya sebelumnya.

Meski demikian, CDC mengatakan kedua produk tersebut tidak dapat dipertukarkan dan mengakui bahwa mereka belum mempelajari apakah rekomendasi barunya akan mengubah keamanan atau efektivitas dari salah satu vaksin.

Namun, spesialis penelitian vaksin mengatakan bahwa kedua vaksin ini memiliki desain yang sangat mirip sehingga orang tidak perlu khawatir tentang kejadian langka di mana dosis akan dicampur.

“Tujuannya bukan untuk menyarankan orang melakukan sesuatu yang berbeda, tetapi memberikan dokter fleksibilitas untuk keadaan luar biasa,” kata Jason McDonald, juru bicara CDC, dilansir dari CNBC, Sabtu (23/1/2021).

CDC juga menyebutkan penyedia layanan kesehatan harus memberikan kartu catatan vaksinasi yang memberi tahu mereka kapan mereka menerima suntikan pertama dan jenis suntikan apa itu untuk membantu memastikan bahwa pasien mengetahui suntikan mana yang harus mereka terima untuk kedua kalinya.

Badan tersebut juga merekomendasikan agar layanan ini memasukkan informasi vaksinasi pasien ke dalam catatan medis mereka dan sistem informasi imunisasi pemerintah.

Pembaruan panduan dari CDC ini dirilis setelah beberapa kota dan kabupaten di seluruh AS membatalkan janji imunisasi karena mereka tidak memiliki dosis sesuai dengan pesanan.

Contohnya di Wayne County, Michigan mengatakan pekan lalu bahwa mereka akan memastikan bahwa orang yang mendapatkan suntikan pertama dan kedua tepat waktu. Tetapi wilayah ini terpaksa membatalkan hampir 1.400 janji suntikan pertama warganya.

Untuk diketahui, vaksin dari kedua perusahaan membutuhkan dua dosis untuk mencapai perlindungan maksimal dari virus corona.

Ahli epidemiologi di Vanderbilt University Dr. Bill Schaffner mengatakan kedua vaksin sangat mirip, jadi tidak ada alasan untuk berpikir bahwa akan ada reaksi merugikan jika mencampurkan vaksin.

Dia mengatakan penting bagi CDC untuk mengeluarkan panduan ini karena sistem pendaftaran vaksin di seluruh negeri, yang dijalankan oleh negara bagian, memiliki kualitas yang berbeda-beda. Jadi beberapa informasi mungkin hilang, membuat orang tidak tahu vaksin mana yang mereka terima.

Selain itu beberapa orang mungkin melakukan perjalanan melintasi garis negara bagian dan menerima dosis kedua mereka di negara bagian yang berbeda, sehingga semakin memperumit masalah tersebut.

“Meskipun pencampuran dan pencocokan ini, sebagaimana kami menyebutnya, belum dipelajari secara khusus, tidak ada alasan biologis untuk ini tidak berhasil dan dapat dibenarkan,” kata dia.

Direktur Pusat Nasional untuk Imunisasi dan Penyakit Pernafasan CDC Dr. Nancy Messonnier mengungkapkan bahwa CDC setuju dengan apa yang dikatakan FDA dan FDA telah sangat jelas menyebutkan CDC menggunakan rejimen yang disetujui.

“Ini berakar kuat pada sains dan bukti yang tersedia, dan melakukan sesuatu yang berbeda dari itu berarti tidak mengikuti sains dan berpotensi tidak memungkinkan kita untuk benar-benar menyadari potensi penuh dari vaksin ini,” katanya.

(*/lk)

Pos terkait