Sepakat! Raksasa Minyak AS Tekan Emisi Karbon Lawan Perubahan Iklim Global, Siap Kembangkan Energi Terbarukan

  • Whatsapp
Raksasa minyak AS Chevron dan Exxon Mobil sepakat untuk mengurangi sumber energi minyak. FOTO/Job One

JurnalPatroliNews, Jakarta – Raksasa minyak AS Chevron dan ExxonMobil sepakat untuk mengurangi sumber energi berbasis bahan bakar minyak (BBM).

Hal itu sebagai upaya bersama-sama menekan emisi karbon melawan perubahan iklim global.

Dilansir dari Reuters, perusahaan minyak itu siap tumbuh bersama ke depan membangun energi hijau.

Adapun konsumsi bahan bakar berbasis energi terbarukan di AS baru tumbuh sebesar 5 persen. Dua perusahaan minyak terbesar AS itu akan mengonfigurasi ulang operasional kilang BBM mengganti dengan bensin terbarukan tanpa harus mengeluarkan anggaran miliaran dolar.

Saat ini, keduanya sedang berinovasi mengembangkan bensin terbarukan di seluruh operasional fasilitas kilang mereka. Perusahaan sedang mencari cara untuk memproses bahan baku berbasis bio di fasilitas kilang tanpa harus meningkatkan belanja modal. Pasalnya produksi bensin terbarukan lebih mahal dibandingkan konvensional.

Atas permintaan Exxon dibentuk satuan tugas melakukan uji ASTM International untuk menentukan kemampuan penyulingan dengan memproses hingga 50% jenis bahan baku bio penghasil SAF.

Chevron sedang mencari cara menguji bahan baku bio melalui Fluid Catalytic Cracker (FCC) sebagai unit penghasil bensin merupakan komponen terbesar dari fasilitas penyulingan.

“Kami akan memproses bersama biofeedstocks di FCC pada akhir 2021 ” kata juru bicara Chevron kepada Reuters.

Rencananya bensin terbarukan akan dikembangkan dan di uji coba perdana di California Selatan. Terkait syarat emisi dan jalur produksi, perusahaan bekerjasama dengan Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) dan Dewan Sumber Daya Udara California (CARB).

Guna mendorong rencana itu, kongres sedang mempertimbangkan adanya insentif pajak untuk medukung program mengganti BBM dengan bensin terbarukan.

Apabila metode konifgurasi kilang baru disetujui untuk memproduksi bahan bakar terbarukan juga tidak diperlukan proses perizinan lingkungan yang panjang.

Proses tersebut juga masih menjalani pengujian lebih lanjut secara komersial tanpa merusak kilang.

(*/lk)

Pos terkait