Tegang dengan AS, China Dikirimi Sistem Rudal S-400 Rusia

  • Whatsapp

JurnalPatroliNews – Jakarta, Rusia telah menyelesaikan pengiriman kedua sistem pertahanan rudal S-400 Triumph ke China di tengah ketegangan Tiongkok dengan Amerika Serikat. Sumber diplomatik militer mengatakan kepada kantor berita Rusia, TASS bahwa pengiriman dilakukan melalui transportasi laut.

“Pengiriman satu set resimen S-400 kedua yang terdiri dari dua divisi perangkat peluncuran, stasiun radiolokasi, peralatan energi dan layanan, suku cadang dan instrumen ke China telah selesai. Klien juga menerima lebih dari 120 rudal canggih berpemandu anti-pesawat dari dua jenis,” kata sumber dilansir dari TASS, Senin (27/7).

Bacaan Lainnya

Sumber diplomatik militer itu juga menambahkan pengiriman dikirim ke China menggunakan beberapa kapal. Pengiriman pertama menuju ke China dilakukan pada Juli 2019. Sertifikat serah terima sudah ditandatangani pada Desember di China.

“Setelah penandatanganan, ketentuan kontrak jaminan 18 bulan dari pihak Rusia mulai berlaku.” Meski demikian TASS belum belum mendapat konfirmasi resmi atas informasi tersebut.

China menjadi negara pertama yang membeli S-400 buatan Rusia. Moskow menandatangani kontrak dengan Beijing untuk pengiriman dua set S-400 pada 2014.

Set resimen pertama S-400 dikirim ke China pada musim semi 2018. Militer China berhasil menguji coba peluncur rudal dan mengenai target aerodinamis serta balistik.

S-400 Triumph adalah sistem rudal darat-ke-udara (surface-to-air) jarak jauh dan menengah terbaru yang mulai beroperasi pada 2007. Sistem ini dirancang untuk menghancurkan pesawat, rudal jelajah dan rudal balistik, serta juga dapat digunakan terhadap instalasi darat.

S-400 dapat mengenai target pada jarak hingga 400 kilometer dan pada ketinggian hingga 30 kilometer.

Sejauh ini, Rusia telah menandatangani kontrak pengiriman S-400 dengan tiga negara yakni China, Turki (pengiriman dimulai pada 12 Juli), dan India (diharapkan pengiriman pada akhir 2020).

Tensi hubungan China dan AS semakin memanas setelah Washington menutup paksa kantor konsulat China di Houston, Texas. China kemudian membalas dengan mencabut izin pembukaan kantor konsulat AS di Chengdu.

Aksi saling tutup kantor perwakilan ini kian memperkeruh ketegangan antara China dan AS mulai dari isu virus corona, Hong Kong, Taiwan, hingga Laut China Selatan. Sebelum pandemi menyerang, kedua negara adidaya juga telah terlibat perang tarif perdagangan yang cukup mempengaruhi perdagangan global.

(cnn)

Pos terkait