Terapkan Perarem di Peken Sangsit, Pedagang Keluhkan Sepi Pembeli

 128 dibaca,  1 dibaca hari ini

JurnalPatroliNews – Buleleng – Gubernur Bali Wayan Koster dan Majelis Desa Adat Provinsi Bali telah membentuk Satuan Tugas Gotong Royong Pencegahan Covid-19 Berbasis Desa Adat di Bali, tak hanya itu berbagai aturan yang dituangkan dalam perarem atau awig-awig terkait pencegahan Covid-19 telah dibentuk. Untuk mendukung hal tersebut sejumlah Desa Adat di Bali, termasuk Adat Sangsit Dauh Yeh memiliki inisiatif untuk membentengi wilayah dan para krame atau warga dari penularan virus corona.

Seperti hasil perarem atau pertemuan khusus desa adat lainnya, Adat Sangsit Dauh Yeh Kabupaten Buleleng pun berhasil menelorkaan hasil perarem berikut penguatan sangsi yang akan dikenakan kepada para pelanggar. Berdasarkan pertemuan yang digagas desa adat setempat, bagi warga yang hendak ke Pasar Sangsit, harus menggunakan masker, dengan melakukan cuci tangan dengan sabun pada air mengalir yang sudah tersedia di dalam areal pasar serta melakukan pemeriksaan suhu tubuh sebelum masuk pasar.

Untuk menjaring mereka yang memasuki areal pasar dimaksud, pengelola pasar memperketat dan lebih selektif. Kelian Adat Sangsit Dauh Yeh, I Wayan Wissara mempertegas kepada para pengunjung pasar dengan harus melalui pintu pemeriksaan dengan menaati protokol kesehatan pencegahan covid 19, apabila kedapatan ditemukan maka warga bersangkutan akan diganjar sangsi sesuai hasil perarem.

“Apabila dalam proses pembinaan ini tidak mematuhi protokol maka kita akan berikan peringatan, termasuk yang tidak mengenakan masker kita pulangkan untuk mengambil masker. Sejauh ini masyarakat kita tertib dan patuh,” jelas Wayan Wissara, pekan ini.

Adanya kondisi seperti ini ternyata berpengaruh serius terhadap para pengunjung pasar. Dengan minimnya para pembeli, pedagang pun banyak yang mengeluh lantaran sepi pembeli. Sampai menjelang pukul 09.00 wita, ada pedagang yang tidak terbeli dagangannya dan hanya terdiam pasrah.

“Mengawali dihari pertama kita akui semuanya mengalami penurunan, banyak masyarakat justru khawatir bila mana masuk ke areal pasar terkait pengukuran suhu tubuh. Karena Pasar Sangsit juga ada jalan kabupaten kita juga pikirkan aspek kepentingan dengan kita memasang marka jalan bagi pedagang dan pengendara yang melintas,” ungkapnya.

Kepala Pasar Sangsit, Putu Romel tidak bisa berbuat banyak karena mekanisme pasar. Pihaknya hanya mampu mengatur alur pedagang dengan mengikuti garis kuning sebagai pembatas dagang dengan ruang milik jalan. Mengingat waktu buka pasar sangat terbatas hingga siang hari tidak sedikit mereka yang banting harga. Bagi pedagang yang takut merugi, maka ada diantara mereka yang membawa pulang dagangan yang tersisa. (TiR).-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *