Trump Kirim Pesawat Pembom B-52 ke Timur Tengah

  • Whatsapp
Pesawat pembom B-52 Stratofortress dikerahkan ke Timur Tengah. (Foto: Sgt. Robert J. Horstman via Wikimedia (PD US Air Force)

JurnalPatroliNews – Jakarta, Presiden Donald Trump mengerahkan pesawat pembom B-52 milik militer Amerika Serikat ke Timur Tengah, Sabtu (21/11), sebagai pesan peringatan bagi Iran.

Pengerahan itu hanya berselang beberapa hari setelah pemerintahan Trump mengumumkan penarikan sebagian pasukan AS dari Afghanistan dan Irak.

Komando Pusat AS mengatakan awak pesawat “Stratofortress” B-52H Angkatan Udara AS melakukan misi dengan “pemberitahuan singkat untuk mencegah agresi dan meyakinkan mitra dan sekutu AS”.

Bacaan Lainnya

“Kemampuan untuk dengan cepat memindahkan kekuatan ke dalam, keluar, dan sekitar teater untuk merebut, mempertahankan, dan mengeksploitasi inisiatif adalah kunci untuk mencegah potensi agresi,” kata Letnan Jenderal Greg Guillot, Komandan Angkatan Udara ke-9.

“Misi ini membantu awak pesawat pembom mendapatkan keakraban dengan wilayah udara dan komando kawasan dan fungsi kontrol, dan memungkinkan mereka berintegrasi dengan teater AS dan aset udara mitra, (sehingga) meningkatkan kesiapan keseluruhan pasukan gabungan,” terangnya.

Dilansir Fox News, pembom B-52H itu berangkat dari Pangkalan Angkatan Udara Minot di North Dakota dan menuju Timur Tengah. Laporan itu tak merinci lokasi detil tujuan pesawat.

Pangkalan Angkatan Udara Minot adalah satu-satunya pangkalan di AS yang menampung rudal balistik antarbenua di silo bawah tanah dan armada pembom yang mampu membawa hulu ledak nuklir.

Ini menandai misi B-52 pertama ke Timur Tengah dalam beberapa bulan. Sebelumnya pada Januari, setelah Komando Operasi Khusus Gabungan elite militer AS membunuh Jenderal Iran Qassem Soleimani dalam serangan pesawat tak berawak, enam pembom B-52 dikirim ke Diego Garcia di Samudera Hindia.

Di hari yang sama, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo berada di Doha, Qatar pada Sabtu untuk ambil bagian dalam negosiasi putaran terakhir dengan Taliban dan pemerintah Afghanistan tentang kesepakatan damai.

Tahun ini, kekerasan di Afghanistan kian melonjak. Beberapa jam sebelum perundingan damai dimulai, delapan orang dilaporkan tewas ketika mortir menghantam daerah pemukiman di Kabul.

(cnn)

Pos terkait