Kamis, 11 April 2019 20:50 WIB

STARTUP

Menristekdikti Desak Jokowi Tambah Anggaran Startup 3 Kali Lipat

E. Wardiyanto - jurnalpatrolinews
Menristekdikti Desak Jokowi Tambah Anggaran Startup 3 Kali Lipat Foto : Menristekdikti Mohamad Nasir

JURNALPATROLINEWS – Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir mengatakan, Indonesia menjadi raja startup di Asia Tenggara. Nasir senang, Indonesia bisa melahirkan ribuan startup yang memanfaatkan inovasi teknologi.

"Saya merasa bangga, ternyata Indonesia punya kemampuan untuk mengembangkan teknologi. Saat ini, kita sudah memiliki 1.307 perusahaan rintisan. Kita menjadi urutan pertama di Asia Tenggara, dan menjadi kelima di dunia," katanya dalam Indonesia Startup Summit 2019 di Jakarta International Expo, Jakarta Pusat, Rabu 10 April 2019.

Dia menyatakan bangga, sebab kemajuan startup di Tanah Air sangat pesat. Padahal, kalau mau jujur, pengembangan startup di Indonesia memang terlambat. Ia mengambil contoh Iran, yang mana sudah memiliki 1.000 startup dalam kurun waktu 10 tahun, dimulai pada 2004-2019. Namun, Indonesia bisa melampaui jumlah startup di Iran, dalam periode cuma 2015-2019.

Nasir mengaku belajar mengenai hal ini dari Korea Selatan, Jepang, dan beberapa negara di bagian Eropa. Ia melihat, potensi anak muda Indonesia yang begitu besar untuk mampu melaksanakan segala tantangan.

"Melihat potensi ini, kemudian saya laporkan ke Presiden Jokowi. Kemudian dia bilang, tolong dianggarkan untuk startup. Saya memang minta, supaya anggarannya ditambah tiga kali lipat," ujarnya.

Menurutnya, kini ada perusahaan rintisan yang omzetnya sudah mencapai Rp7 miliar. Bidang-bidang yang mereka geluti, selain informasi teknologi ialah, pangan dan pertanian, kesehatan dan obat-obatan, dan transportasi darat seperti motor listrik.

Inovasi lain yang startup lokal ciptakan ialah minyak kelapa yang bisa menggantikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Inovasi ini diinisiasi Institut Teknologi Bandung. Karya ini akan mengurangi angka impor BBM, yang mana satu tahunnya bisa menghabiskan US$17,6 miliar atau Rp250 triliun.


KOMENTAR