JPNews
JPNews

JPNEWS – Perusahaan perangkat smartphone asal China, Honor baru saja meluncurkan produk terbarunya, Honor 8X di Indonesia.  Pada hari yang sama, kompetitor Honor yang berasal dari negara Tirai Bambu, Xiaomi, juga turut meluncurkan dua produk barunya.

Menanggapi hal itu, Presiden Honor Indonesia, James Yang bersikukuh, produknya jauh lebih baik dari produk pesaingnya.

"Kami memiliki lebar layar yang lebih besar, chipset yang lebih baik dan penyimpanan yang lebih luas. Sehingga gamer yang menggunakan ponsel kami akan lebih leluasa. Jika dilihat dari sisi harga juga berbeda, Xiaomi Note 6 Pro dibandrol Rp3,3 juta," katanya, Jakarta, Selasa 6 November 2018.

Walaupun Honor 8X dibandrol Rp4 juta, namun perusahaan memberikan bonus senilai Rp770 ribu, sehingga James Yang mengklaim, dengan produk anyar Honor itu pengguna bisa menghemat hingga Rp400 ribu. Ia menyebutkan, Xiaomi meniru langkah Honor, namun dia meyakini Honor bisa menang di pasar. 

"Menjadi yang terlebih dahulu datang di pasar memang sudah lumrah, namun bukan berarti yang pertama itu yang terbaik. Kami 100 persen yakin akan produk yang kami miliki. Kami sudah tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan konsumen untuk meningkatkan brand awareness," ujarnya.

James Yang melanjutkan, Honor yang baru saja diperkenalkan ke Tanah Air pada April lalu sudah berhasil meraih 43 persen brand awareness. Di dalam akun Instagram @honor_indonesia, perusahaan juga mendeklarasikan keunggulannya dibanding kompetitornya, mulai dari layar hingga kekuatan kamera belakang. 

Namun untuk kamera selfie, Xiaomi Note 6 Pro masih unggul dengan dual kamera 20+2 MP, sedangkan Honor 8X hanya 16 MP. James Yang menyebutkan, produk terbaru dari seri X ini sejajar dengan Oppo F9.

"Note 6 Pro masih jauh di bawah produk baru kami. Karena seharusnya pesaingnya itu Mi A2 yang lebar layarnya hanya 5,99 inci, lalu kami memiliki prosesor yang juga jauh lebih tangguh. Kami lebih juara," katanya. 

Menamakan smartphone barunya sebagai 'flagship killer', Honor bukan berarti perusahaan mempunyai strategi untuk membunuh pesaingnya. James Yang mengatakan perusahaan tidak berminat untuk bermain kotor, kendati sudah membunuh bukan berarti perusahaan dapat tetap bertahan. 


Berita Terkait
KOMENTAR