Konversi PLTD Ke Pembangkit EBT, Ini Alasan PLN Pensiunkan 5.200 Pembangkit BBM

  • Whatsapp
Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, (Foto : Dunia Energi)

Jurnalpatrolinews – Jakarta, PT PLN (Persero) mengaku serius dalam mendorong pemakaian energi baru terbarukan (EBT) di sektor ketenagalistrikan, salah satunya dengan mengonversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi pembangkit berbasis EBT.

Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, PLN akan mengurangi operasional pembangkit berbahan bakar minyak (BBM). Selain kebutuhan minyak masih lebih banyak dipenuhi dengan impor, pemanfaatan BBM untuk pembangkit juga kurang ramah lingkungan.

Bacaan Lainnya

Sebanyak 5.200 Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di 2.130 lokasi terpencil akan dikonversi ke pembangkit EBT.

“Ada 5.200 unit PLTD di 2.130 lokasi dengan kapasitas sekitar 2 giga watt (GW) yang akan dikonversi,” paparnya dalam ‘Kompas Talks bersama IESR’ melalui kanal YouTube, Selasa (02/03).

Dia mengatakan, pada 2019 penggunaan BBM untuk pembangkit listrik di daerah terpencil mencapai Rp 13 triliun. Maka dari itu, PLN ingin mengganti BBM yang lebih mahal dan diimpor tersebut dengan energi yang lebih murah.

“Inilah, kita ingin mengubah energi BBM mahal diimpor dengan energi yang lebih murah,” tegasnya.

Darmawan menyebut, dalam menghadapi perubahan iklim ke depan, PLN tidak bisa sendirian dan harus dikerjakan bersama-sama dengan berbagai pemangku kepentingan.

“Kita hadapi bersama-sama,” imbuhnya.

Hal senada sebelumnya disampaikan oleh Direktur Mega Project PT PLN (Persero) M. Ikhsan Asaad dalam konferensi pers secara virtual, Senin (02/11/2020). Dia mengatakan bahwa konversi diesel ke EBT ini selaras dengan komitmen pemerintah dalam mendorong bauran energi.

“Jadi, prioritas kami memang total ada 2.130 lokasi diesel di seluruh Indonesia, itu kurang lebih 2 giga watt (GW) menjadi prioritas kami mengkonversi ke pembangkit EBT,” jelasnya kepada wartawan pada Senin (02/11/2020).

Ikhsan menjelaskan, dari 2.130 lokasi PLTD, dipilih 200 lokasi terlebih dahulu dengan beberapa kriteria, diantaranya yaitu mesin-mesinnya sudah berusia 15 tahun, lokasi terisolasi, dan biaya pokok produksinya tinggi. Adapun kapasitas pembangkit listrik di 200 lokasi yang akan dikonversikan tersebut mencapai 225 MW.

“Kami prioritaskan 200 lokasi pertama. Kalau ditanya penghematannya, kami belum melihat karena kami baru launching dan kita buka silahkan perusahaan pengembang mana pun itu boleh mengikuti dan kita buka,” tuturnya.

(*/red)

Pos terkait