Senin, 10 Juni 2019 22:47 WIB

GOSIP

Kasus Prostitusi Vanessa Angel, Dua Ahli Anggap Ranah Privasi Tidak Bisa Dijadikan Bukti

Aldhy Irawan - jurnalpatrolinews
Kasus Prostitusi Vanessa Angel, Dua Ahli Anggap Ranah Privasi Tidak Bisa Dijadikan Bukti Foto : Vanessa Angel Menjalani Sidang Lanjutan.

JurnalPatroliNews Surabaya - Dua ahli yang didatangkan Vanessa Angel menyebut jika kasus yang ditimpakan pada artis sinetron tersebut tidak tepat. Sebab, apa yang dilakukan Vanessa dianggap masih masuk dalam ranah privasi atau pribadi.

Pendapat ini diutarakan oleh ahli pidana dr Ahmad Yulianto dan ahli ITE Rahmat Dwi Putranto Institut Bisnis Law & Managament (IBLAM) Jakarta, usai persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya.

Menurut Rahmat Dwi Putranto, Ahli ITE, bukti percakapan dari Vanessa dengan muncikarinya adalah bersifat privasi. Sehingga, penerapan ITE dalam kasus ini dinilainya tidak tepat. "Chatnya antar dua orang masuknya privasi jadi tidak bisa dijadikan barang bukti," ujarnya, Senin (10/6).

Hal senada disampaikan ahli hukum pidana Ahmad Yulianto. Dia menyatakan bahwa pasal tentang prostitusi itu tidak diatur dalam undang-undang.

"Di negara kita ini yang namanya delik prostitusi itu tidak diatur. Jadi pasal pidana tentang pelacuran itu belum ada. Di Indonesia itu masih menganut asas legalitas, bahwa tidak boleh orang dihukum tanpa berdasarkan undang-undang," ujarnya.

Ia menambahkan, bukan berarti hal itu membenarkan perbuatan asusila. Akan tetapi begara haruslah membuat delik tentang pelacuran.

"Delik-delik pidana kita itu belum bisa menghukum pelacur itu intinya," tandasnya.

Terpisah, kuasa hukum Vanessa, Milano Lubis menegaskan berdasarkan keterangan ahli, seharusnya unsur pidana yang ditujukan ke Vanessa tidak memenuhi unsur pidana.

"Kalau menurut saksi ahli kita, tidak terpenuhi, karena harus yang utama dulu, baru ke ITE itu bisa diterapkan, harusnya bebas," tegasnya.

 

Sebelumnya, Vanessa Angel bersama dengan 3 orang muncikari harus duduk di kursi pengadilan karena kasus prostitusi online. Vanessa Angel sendiri tidak dijerat karena kasus prostitusi, melainkan akibat dugaan penyebaran konten asusila.

Dalam perkara ini Vanessa didakwa menggunakan Pasal 45 ayat (1) Jo Pasal 27 ayat 1 Undang-undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi elektronik Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (dai)


KOMENTAR