Imbas Tak Ada Piala Dunia U-20 di RI, Bisnis Apa Yang Paling Rugi..?

JurnalPatroliNews – Jakarta, – Jutaan warga Indonesia masih bersedih setelah Federasi sepak bola dunia (FIFA) mencoret Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia (Pildun) U-20.

Pencoretan tersebut tidak hanya membuat masyarakat Indonesia gagal melihat langsung aksi pemain-pemain muda dari berbagai negara tetapi juga kerugian materi.

Ada banyak sektor bisnis yang seharusnya untung dari gelaran Piala Dunia U-20. Dengan pencoretan Indonesia maka hangus pula pundi-pundi di depan mata.

Berikut sejumlah sektor yang merugi karena dicoretnya Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20:

1. Bisnis pariwisata

Perhelatan Piala Dunia apapun levelnya akan mendatangkan banyak kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

Kunjungan wisman termasuk adalah tim yang bermain, ofisial, staf tim nasional peserta, hingga pendukung.

Peserta Piala Dunia U-20 tercatat sebanyak 24 tim nasional (timnas). Dengan jumlah yang tim cukup besar maka kunjungan wisman pun dipastikan akan besar pula.

Berkaca pada pagelaran Asian Games 2018, kunjungan wisman menjadi salah satu nilai plus untuk Palembang, Sumatera Selatan.

Bersama Jakarta, Palembang adalah salah satu tuan rumah Asian Games 2018 yang diselenggarakan pada 18 Agustus-2 September 2018.

Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia pada Agustus 2018 mencapai 1,51 juta, naik 8,44% dibandingkan Agustus 2017.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisman yang melalui Bandara Sultan Badaruddin II, Palembang, melonjak 91% (month to month/mtm) dan 60% (year on year/yoy) menjadi 2.263 pada Agustus 2018.

Besarnya dampak event olah raga ke kunjungan pariwisata sudah dirasakan Qatar sebagai penyelenggara Piala Dunia 2022 ataupun negara berkembang seperti Brasil saat menjadi tuan rumah pada Piala Dunia 2016.

Piala Dunia 2022 pada Desember lalu mampu mendatangkan setidaknya 1,4 juta wisman ke Qatar. Sebanyak 530.000 orang diperkirakan menghadiri side event di sela-sela Piala Dunia setiap harinya.

Jumlah kunjungan wisman ke Qatar jauh le ih rendah dibandingkan yang ditorehkan Brazil pada 2014.

Kementerian Pariwisata Brasil mencatat ada sekitar 6,4 juta wisman yang berkunjung ke Brasil demi melihat jagoannya bertanding atau sekedar merasakan atmosfer Piala Dunia.

Jumlah wisman di Piala Dunia Qatar lebih rendah karena masih dalam situasi pandemi dan digelar pada akhir tahun, bukan musim panas seperti tradisinya.

Besarnya kunjungan wisman ini tentu saja akan menggerakkan banyak roda ekonomi mulai dari bisnis travel, makanan, hingga pariwisata.

2. Bisnis Hotel

Event olah raga ataupun musik dalam skala  besar akan menjadi pundi-pundi keuntungan bagi bisnis hospitality, terutama hotel. 

Hotel akan mendapatkan keuntungan dalam bentuk peningkatan pemesanan tamu hingga sewa ruang untuk meeting atau sekedar pertemuan antar ofisial atau pendukung. 

Bisnis hospitality di Qatar diperkirakan menangguk untung hingga US$ 1,6 miliar atau sekitar Rp 24,12 triliun selama perhelatan Piala Dunia

Keuntungan bisnis hospitality dari Piala Dunia Brasil 2014 diperkirakan  menyentuh US$ 2 miliar.

Keuntungan bisnis hospitality sudah pernah dirasakan Indonesia saat jadi tuan rumah Asian Games.

Data BPS mencatat Asian Games 2018 berpengaruh besar ke tingkat hunian kamar hotel. Angkanya naik dari bulan Juli 2018 yang hanya 59,30%  menjadi 60,01% pada Agustus 2018. 

Rata-rata lama menginap tamu asing juga tercatat tinggi, yaitu selama 2,69 hari jika dibandingkan dengan rata-rata lama menginap tamu Indonesia yang hanya 1,75 hari. 

Dari 34 provinsi di Indonesia, rata-rata lama menginap paling lama untuk tamu asing pada Agusus 2018 tercatat di Provinsi Sumatera Selatan, yaitu sebesar 5,42 hari.

Komentar