HeadlineOpini

Majapahit Yang Agung Riwayatmu Kini

Beno
×

Majapahit Yang Agung Riwayatmu Kini

Sebarkan artikel ini
Untung Suropati

Refleksi HUT ke-729 Majapahit

Oleh: Untung Suropati “Madyantara Ring Majapahit”*

JPN - advertising column


Example 300x600
JPN - advertising column

Kompetisi tiga “Singa”

Konstelasi geopolitik dunia abad ke-13 hingga ke-15 diwarnai kompetisi tiga “Singa” di belahan bumi yang berbeda, yaitu Majapahit (selatan), Tiongkok Yuan/ Ming (utara), dan Turki Utsmani (barat). Ditopang kekuatan ekonomi dan militernya yang masif, kompetisi tiga adidaya berlangsung berabad-abad. Posisi geografis Majapahit yang tepat berada di jalur perlintasan strategis – Selat Malaka/ Selat Sunda – dan kaya akan rempah membuat “Singa Selatan” menjadi incaran para kompetitornya dari utara dan barat.

Sejak awal berdirinya tanggal 12 November 1293, Majapahit tidak pernah sepi dari intrik dan pergolakan. Pemicunya sangat kompleks, mulai konflik internal yang kerap berujung pemberontakan, suasana saling curiga buntut terbunuhnya Kertanegara hingga kekhawatiran serangan balas “Singa Utara” atas hancurnya Pasukan Tartar. Barulah memasuki masa pemerintahan Tribuwanatunggadewi, seiring pula munculnya Gajah Mada ke panggung politik nasional, perlahan Majapahit bangkit.

Dengan kepemimpinan yang visioner ditopang pilar ekonomi yang kuat, armada Majapahit dibangun. Armada niaga diperbesar untuk menjamin perdagangan antarpulau/ antarnegara terus berkembang. Armada militer diperkuat untuk memastikan jalur-jalur perdagangan bebas segala gangguan dan Majapahit tetap aman. Demikianlah seiring perjalanan waktu, Majapahit makin besar dan kuat. Namun demikian konstelasi geografis Nusantara yang terdiri dari ribuan pulau masih “terserak”.

Hingga tiba saat Gajah Mada mengucap sumpahnya yang menggemparkan, yaitu “Sumpah Amukti Palapa” pada sesi pelantikannya sebagai Patih Amangku Bumi tahun 1336. Konon bumi bergetar dan langit bergermuruh ketika Gajah Mada mengucapkan sumpahnya di hadapan sang rani di panangkilan. Sejak itu kebangkitan Majapahit tak terbendung. Pada masa kejayaannya, wilayah Majapahit terbentang hampir seluruh Asia Tenggara. Indochina yang sejak akhir Singasari dirancang menjadi daerah pengaruh (vassal area) – semacam negara satelit – dipertahankan sebagai “buffer zone” untuk meredam agresivitas “Singa Utara”.

Kepergian Gajah Mada tahun 1364 membuat Majapahit bak singa ompong. Majapahit rapuh dan berangsur-angsur redup. Intrik dan pergolakan kembali marak. Terparah Perang Paregreg yang bukan saja memudarkan aura kebesaran tetapi juga merontokkan sendi-sendi kehidupan Majapahit. Mulailah berbagai anasir asing masuk. “Singa Barat” dengan ekspedisi politiknya berlabel ajaran baru. Jawa menjadi target utama karena Jawalah center of gravity Nusantara. Sementara “Nan Yang Connection” atau poros Champa – Palembang – Tuban – Sambas – Manila dikamuflase oleh “Singa Utara” mirip safari budaya. Tahun 1478 Majapahit pun tamat. Sirna ilang kertaning bumi. Majapahit lenyap bagai ditelan bumi. Habis terang datanglah gelap. Tamu-tamu lain yang tak diundang pun silih berganti datang: Portugis (1511), Spanyol (1521), Inggris (1579), Belanda (1596), Jepang (1942). Bukti, hancurnya Majapahit dampaknya luar biasa.

“Bhinneka tunggal ika” vs “Architecs of Deception”

Pada masa Hayam Wuruk hidup seorang maharesi bernama Mpu Wiranatha atau Mpu Tantular VI. Dalam bahasa Sansekerta “Tantular” artinya “tidak tergoyahkan” atau “teguh pada pendirian”. Mahakaryanya yang terkenal ialah Kakawin Sutasoma yang dalam pupuh 139 bait 5  tertulis sesanti “Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”. Artinya “Beraneka ragam tetapi satu jua, tiada darma yang mendua”.

Sesuai konteks zaman waktu itu, penekanan pupuh 139 bait 5 lebih ditujukan pada tema kerukunan, yaitu kerukunan antarumat beragama: Siwa (Hindu) dan Jina (Buddha). Dua agama yang banyak dianut masyarakat Majapahit kala itu. Kerukunan untuk sama-sama melakukan darma. Karena kerukunan saja tanpa darma tidak ada gunanya. Darma yang ditujukan hanya demi kagungan Majapahit. Bukan yang lain alias mendua. Semangat kerukunan dilandasi tujuan mulia dan diimplementasikan dalam kehidupan nyata itulah yang menjadi pilar utama persatuan dan mengantar Majapahit mencapai puncak kejayaan. Hanya dalam waktu kurang dari 75 tahun Majapahit telah mencapai status negara adidaya pada zamannya.   

Editor: Beno