JurnalPatroliNews | Jakarta – TNI Angkatan Laut (TNI AL) menguji kesiapan personel dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui latihan operasi penanggulangan bencana di Pulau Edam dan perairan Teluk Jakarta.
Latihan Manuver Lapangan (Manlap) Tahun Anggaran 2026 yang digelar pada Sabtu (7/11/2026) tersebut melibatkan 275 personel gabungan dengan dukungan kapal perang, pesawat udara, serta helikopter dari TNI AL dan TNI Angkatan Udara (TNI AU).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan operasi lintas matra, khususnya dalam menghadapi kondisi darurat yang membutuhkan pengerahan kekuatan laut dan udara secara terpadu.
Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali hadir bersama sejumlah pejabat TNI AL dan TNI AU untuk menyaksikan langsung pelaksanaan latihan.
Libatkan Kapal Perang dan Sejumlah Pesawat
Dalam latihan tersebut, TNI AL mengerahkan sejumlah unsur utama, yakni KRI Sriwijaya-100 dan KRI Surik-645. Dukungan udara meliputi empat helikopter AS 565 MBe Panther, dua helikopter Bell 412, satu pesawat CN-235, serta satu pesawat NC 212 Casa.
Sementara itu, TNI AU turut memperkuat latihan dengan mengerahkan dua helikopter Caracal.
Rangkaian kegiatan diawali dengan persiapan seluruh peserta dan pengamanan daerah latihan di sekitar perairan Pulau Edam oleh KRI Surik-645.
Selanjutnya, Kasal bersama rombongan menuju KRI Sriwijaya-100 menggunakan helikopter AS 565 MBe Panther. Setibanya di kapal, Kasal melaksanakan pemeriksaan helikopter atau helo inspection serta memberikan pengarahan kepada para penerbang sebelum menyaksikan manuver dari anjungan kapal.
Simulasikan Pemadaman dari Udara
Salah satu fokus utama latihan adalah menguji kemampuan helikopter dalam melaksanakan pemadaman karhutla melalui metode water bombing.
Sejumlah tahapan diperagakan, mulai dari persiapan perangkat bambi bucket, lepas landas helikopter, pengambilan air atau water scooping, hingga pengeboman air ke titik sasaran simulasi.
Penggunaan bambi bucket menjadi bagian penting dalam latihan karena perangkat tersebut memungkinkan helikopter membawa air dari sumber terdekat untuk kemudian dijatuhkan ke area kebakaran.
Selain skenario pemadaman, latihan juga memperagakan simulasi modifikasi cuaca menggunakan pesawat NC 212 Casa. Proses penempatan helikopter ke dalam hanggar kapal turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Uji Koordinasi Lintas Matra Hadapi Bencana
Melalui latihan ini, TNI AL berupaya mengukur kesiapan personel, kemampuan operasional alutsista, serta efektivitas koordinasi antarsatuan dalam menghadapi bencana karhutla.
Keterlibatan kapal perang, helikopter, dan pesawat udara memperlihatkan pentingnya dukungan lintas matra dalam operasi penanggulangan bencana. Kecepatan mobilisasi, komunikasi, serta ketepatan pelaksanaan tugas menjadi aspek yang perlu diuji melalui simulasi lapangan.
Latihan tersebut juga diharapkan meningkatkan interoperabilitas antara unsur TNI AL dan TNI AU, sehingga pengerahan kekuatan dapat berjalan lebih terkoordinasi ketika menghadapi keadaan darurat.
Bagian dari Tugas OMSP TNI
Latihan penanggulangan karhutla ini merupakan bagian dari pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya tugas TNI dalam membantu pemerintah menangani bencana alam.
Kesiapan menghadapi karhutla menjadi penting karena kebakaran hutan dan lahan dapat menimbulkan dampak luas, mulai dari kerusakan lingkungan, gangguan kesehatan masyarakat akibat asap, hingga terganggunya aktivitas sosial dan ekonomi.
Melalui latihan di perairan Teluk Jakarta, TNI AL menegaskan komitmennya untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana melalui dukungan kekuatan laut dan udara.
Kemampuan personel serta kesiapan alutsista yang teruji diharapkan dapat mendukung respons yang lebih cepat dan efektif ketika negara membutuhkan pengerahan kekuatan militer untuk membantu penanggulangan bencana.















Komentar