Ketegangan Pasca-Gencatan Senjata: Selat Hormuz Terancam Ditutup Kembali oleh Iran

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah Iran mengeluarkan peringatan keras untuk kembali menutup Selat Hormuz apabila Amerika Serikat (AS) tetap melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan di negaranya.

Pernyataan tersebut disampaikan pada Sabtu (18/4), hanya beberapa jam setelah Teheran sempat membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Pembukaan selat sebelumnya dilakukan menyusul tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah.

Langkah tersebut awalnya sempat memicu optimisme Presiden AS Donald Trump akan adanya perdamaian yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, termasuk tercapainya kesepakatan jangka panjang dengan Iran.

Bantahan atas Klaim Uranium Dalam pernyataan resminya, Donald Trump sempat mengeklaim bahwa Iran telah menyetujui penyerahan hasil pengayaan uranium sebagai bagian dari negosiasi damai. Namun, klaim sepihak tersebut segera dibantah oleh otoritas Iran.

Teheran menegaskan bahwa persediaan uranium miliknya tidak akan dipindahkan ke luar negeri dan tetap berada dalam kedaulatan Iran.

Pemerintah Iran menekankan bahwa diskusi mengenai uranium bukan merupakan bagian dari kesepakatan teknis yang saat ini sedang diupayakan untuk mengakhiri konflik bersenjata.

Ancaman terhadap Jalur Perdagangan Dunia Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara terbuka menyatakan bahwa operasional Selat Hormuz sangat bergantung pada sikap Amerika Serikat di lapangan.

Ia menegaskan bahwa blokade yang dilakukan AS terhadap akses pelabuhan Iran adalah alasan utama yang dapat memicu penutupan kembali selat tersebut.

Dengan berlanjutnya blokade, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka, tulis Ghalibaf dalam pernyataan resminya.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital ekonomi global, di mana sekitar seperlima dari total perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melintasi perairan tersebut setiap harinya.

Pelanggaran Gencatan Senjata Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, menambahkan bahwa tindakan blokade angkatan laut yang dilakukan AS merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap poin-poin gencatan senjata yang telah disepakati dalam dua pekan terakhir.

Baqaei memperingatkan bahwa setiap tindakan yang menghambat aktivitas ekonomi dan maritim Iran akan mendapatkan respons militer yang proporsional.

Ia menegaskan bahwa blokade angkatan laut adalah tindakan agresi yang akan memicu tindakan balasan yang diperlukan guna melindungi kepentingan nasional Teheran.