Negara-negara Arab Memerlukan Pancasila

  • Whatsapp
Foto;RMOL

JurnalPatroliNews Jakarta – DIKENAL sebagai negeri para nabi. Antara lain, Nabi Syuaib, Nabi Luth, Nabi Ayub, dan Nabi Harun, dimakamkan di negeri yang sejak 100 tahun lalu dikenal dengan nama Kerajaan Hasyimiyah Yordania ini. Nabi Isa dalam tradisi Islam atau Yesus Kristus dalam tradisi Kristiani dibaptis Nabi Yahya atau John the Baptist di Nahr Al Urdunn atau Sungai Jordan yang mengalir sejauh 250 kilometer dari Dataran Tinggi Golan menuju ke Laut Mati.

Juga di negeri ini, tepatnya di Umm Ar Rasas yang tak jauh dari kota Amman, sebelum misi kenabian, ketika berusia 9 atau 12 tahun, Nabi Muhammad SAW bertemu pendeta Kristen Nestorian keturunan Yahudi, dari Bushra, selatan Suriah kini, bernama Buhaira. Adalah Buhaira yang disebutkan dalam berbagai kisah melihat tanda-tanda kenabian Muhammad muda yang ketika itu sedang dapat perjalanan dagang bersama pamannya, Abu Thalib, dari Makkah menuju Syam atau Damaskus kini.

BACA JUGA :

Setelah Turki Usmaniah yang berkuasa di negeri ini sejak abad ke-16 runtuh di penghujung Perang Dunia Pertama, Yordania dikuasai Inggris yang kemudian memberikan status protektorat kepada Keemiran Transyordania. Status ini bertahan sampai 25 Mei 1946 dengan berdirinya Kerajaan Hasyimiyah Transyordania, dan di tahun 1949 mengalami perubahan nama menjadi Kerajaan Hasyimiyah Yordania.

Yordania memiliki hubungan yang unik dengan Palestina. Kedua negara memiliki bendera yang hampir sama, bidang vertikal hitam, putih, dan hijau, dengan segitiga merah di sisi kiri. Bedanya, bendera Yordania memiliki bintang putih bersudut tujuh di segitiga merah yang melambangkan tujuh ayat dalam surat Al Fatihah.

Di tahun 1950, Yordania menduduki wilayah Tepi Barat milik Palestina. Disebut Tepi Barat karena wilayah ini berada di sisi barat Sungai Jordan. Setelah pendudukan itu semua orang Palestina yang tinggal di Tepi Barat mendapatkan kewarganegaraan Yordania dan perlakuan yang sama dengan warganegara Yordania di Tepi Timur Sungai Jordan.

Di tahun 1967, dalam perang yang berlangsung selama tujuh hari di bulan Juni, Yordania kehilangan kontrol atas Tepi Barat. Lalu di  tahun 1988 Yordania mengembalikan klaim atas Tepi Barat kepada Palestina dan mengakui pemerintahan Palestine Liberation Organization (PLO) yang dipimpin Yasser Arafat.

Republik Merdeka mengunjungi Duta Besar Kerajaan Hasyimiyah Yordania, Abdallah Abu Romman, di kantornya kawasan SCBD, Jakarta Pusat, awal Juni lalu.

Dubes Abu Romman menyambut dengan hangat dan tangan terbuka. Sebelum menjadi politisi dan diplomat, pria kelahiran Amman, 10 Maret 1973 ini mengawali kariernya sebagai wartawan. Dia pernah menjabat sebagai Managing Editor pada Harian Mithaq (1997), lalu menjadi kolumnis pada Harian Al Arab Alyawm (1999-2000), dan kolumnis pada Harian Al Rai (2004-2010).

Di tahun 2006 ia dipercaya menduduki jabatan Direktur Media dan Komunikasi di Kantor Perdana Menteri. Kariernya terus menanjak.

Setahun kemudian dia menjabat posisi Direktur Pusat Kebudayaan Kerajaan, dan dua tahun kemudian menjadi Penasihat Media dan Komunikasi Perdana Menteri, sebelum akhirnya menjadi Menteri Negara Urusan Media dan Jurubicara Pemerintah pada tahun 2011.

Dunia diplomasi mulai ditapakinya pada 2014 dengan menjadi Dubes Yordania untuk Republik Islam Iran sampai tahun 2018. Dan selanjutnya Dubes Abu Romman ditugaskan sebagai Dubes di Jakarta. Ia juga merupakan Dubes Yordania untuk Brunei Darussalam.

Dalam dialog dengan Republik Merdeka, Dubes Abu Romman menyampaikan kekagumannya pada Pancasila.

Adalah Pancasila, sebutnya yang mampu menyatukan Indonesia, sebuah negeri dengan keberagaman yang luar biasa. Menurut hematnya, negeri-negeri di jazirah Arab memerlukan “Pancasila” untuk menyatukan mereka semua. Bila Pancasila bisa menyatukan 350 suku dan bahasa yang ada di Indonesia, maka seharusnya Pancasila juga dapat menyatukan bangsa Arab.

Berikut petikan dialog dengan Dubes Abu Romman.

Di tahun 2011 diawali dari Tunisia, Arab Spring menyebar ke berbagai negara di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah. Yordania termasuk negara yang selamat dari gelombang ini. Bisa Anda jelaskan apa yang dilakukan Yordania pada masa-masa itu?

Alhamdulillah, Yordania dengan dipimpin oleh Raja Abdullah II yang bijak berhasil mengatasi bahaya dan tantangan. Di antara mereka adalah apa yang disaksikan oleh negara-negara saudara Arab dalam apa yang disebut “Musim Semi Arab”.

Yang Mulia Raja Abdullah II sangat percaya pada reformasi dan pembangunan, peran pemuda, dan pentingnya partisipasi.

Sejak Yang Mulia mengambil alih otoritas konstitusionalnya, ia memulai program reformasi yang telah banyak disentuh dan diintegrasikan oleh Yordania. Oleh karena itu, tantangan besar tersebut merupakan peluang bagi Yordania untuk melanjutkan proyek reformasinya di bawah kepemimpinan Raja, yang dicinta dan dipercayai oleh rakyat Yordania.

Juga, selama beberapa tahun terakhir, Yang Mulia Raja Abdullah II meluncurkan dialog nasional yang komprehensif untuk mengembangkan kehidupan politik Yordania. Raja Abdullah II  membentuk Komite Kerajaan yang mencakup perwakilan dari semua aliran politik di negara itu untuk membahas amandemen yang diperlukan terhadap undang-undang yang mengatur kerja politik, termasuk undang-undang pemilu dan undang-undang kepartaian.

Setelah sekian lama bertugas di Jakarta, bagaimana Anda melihat Indonesia?

Indonesia sungguh luar biasa. Negara ini memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Dengan penduduk hampir 270 juta jiwa, 300 bahasa lokal, 300 suku bangsa, Indonesia nyatanya bisa bersatu tampil sebagai sebuah negara yang berdaulat dan memiliki peran yang tidak kecil di dunia internasional.

Sebagai seseorang yang memiliki latar belakang jurnalistik, situasi Indonesia ini sungguh mengagumkan. Saya berkunjung ke banyak tempat di Indonesia, dan menyaksikan keragaman di dalam Indonesia menjelma menjadi kebangsaan yang utuh. Saya kira salah satu alasannya adalah Pancasila.

Hubungan Indonesia dan Yordania telah berlangsung cukup lama. Bisa sedikit Anda jelaskan aspek hubungan bilateral ini?

Seperti yang Anda katakan, hubungan Yordania dan Indonesia memang sangat erat dan kuat, dan bersejarah. Di bulan November pada tahun ini, kedua negara akan merayakan 70 tahun hubungan diplomatik. Hubungan kedua negara dibangun oleh Raja Husein dan Presiden Sukarno pada tahun 1950. Yordania juga ikut dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Delegasi Yordania dipimpin oleh Perdana Menteri Hazza Al-Majali. Bukan hanya Yordania, mayoritas negara Arab melihat sosok Presiden Sukarno sebagai pahlawan kemerdekaan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika, tapi termasuk dunia Arab. Salah satu peran besar Presiden Sukarno adalah dalam hal memberikan dukungan bagi kedaulatan dan kemerdekaan Palestina.

Saat ini pun kualitas hubungan Indonesia dan Yordania sangat baik. Terlihat dari pertemuan antara Raja Abdullah II dan Presiden Joko Widodo di tahun 2015. Selain itu, kerjasama dan kordinasi antara Menteri Luar Negeri Yordania dan Menteri Luar Negeri Indonesia juga sangat baik dan intens. Yordania selalu memberikan dukungan kepada Indonesia dalam forum pemungutan suara di PBB. Begitu juga sebaliknya.

Dan pada bulan Mei lalu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar berada di Yordania dan telah menandatangani MoU dengan pihak Yordania dalam bidang penanggulangan terorisme.

Penanggulangan terorisme di Yordania tidak hanya dilakukan dengan melawan mereka (teroris), tetapi juga dengan melakukan pendekatan kebudayaan dan agama. Yordania sangat tertarik dengan praktik Islam moderat di Indonesia, dan memandang ini sebagai contoh (role model) yang baik.

Seperti yang kita ketahui, Raja Abdullah II adalah keturunan Nabi Muhammad SAW dari Hassan bin Abu Thalib. Karena itu pula Raja Abdullah II selalu menjunjung tinggi nilai-nilai moderasi, dan tidak memberikan dukungan pada radikalisme.

Kita juga memiliki kerjasama di sektor pendidikan yang sangat baik. Contohnya, banyak orang Indonesia yang kini menuntut ilmu di perguruan tinggi Yordania. Banyak teman saya adalah alumni universitas di Yordania dan sekarang mereka telah kembali ke Indonesia.

Bagaimana Anda melihat hubungan ekonomi kedua negara?

Harus diakui bahwa hubungan politik kedua negara saat ini lebih besar dibandingkan dengan hubungan di bidang ekonomi. Kita sedang berusaha untuk menyeimbangkan hubungan kedua bidang itu. Saya berharap kerjasama di bidang ekonomi antara Yordania dan Indonesia akan bisa sekuat dan seintensif hubungan politik.

Ekonomi Indonesia sangat maju dan bergulir dengan sangat cepat. Saya berharap di masa datang akan lebih banyak kerjasama ekonomi yang dilakukan kedua negara.

Kami memahami bahwa Indonesia memberikan kesempatan yang sangat besar bagi investor asing untuk menanamkan modalnya di sini. Kedubes Yordania pun selalu mendorong warga Yordania yang ada di Yordania maupun yang ada di Indonesia untuk tidak ragu berinvestasi di Indonesia.

Sayangnya, karena setahun terakhir kita semua menghadapi pandemi Covid-19, sejak tahun lalu, upaya ini melambat. Namun, kami terus mendorong dan mengadakan pertemuan konsultasi.

Menurut hemat saya, Yordania dapat menjadi pintu masuk bagi produk-produk Indonesia ke Timur Tengah dan juga Eropa. Saya berusaha agar ini terjadi.

Beberapa waktu lalu saya bertemu Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Dalam pertemuan itu kami membicarakan berbagai peluang  kerjasama yang bisa dilakukan. Ada gagasan untuk membangun rute penerbangan langsung dari Jakarta ke Amman sehingga kunjungan dari Indonesia ke Yordania dan sebaliknya dalam bidang ekonomi lebih intens dan memberikan dukungan pada peningkatan hubungan bidang ekonomi.

Saya ingin mengembangkan dan memajukan pariwisata di Yordania. Saya sedang memikirkan dan merancang berbagai cara agar masyarakat Indonesia tertarik untuk berwisata ke Yordania. Kalau Anda berkunjung ke Yordania, Anda akan menemukan banyak situs bersejarah.

Kebanyakan masyarakat Yordania yang berkunjung ke Indonesia ingin ke Bali. Nah, Kedutaan Yordania dia Jakarta berusaha untuk memperkenalkan tempat-tempat wisata  lain di Indonesia selain Bali. Ini penting agar masyarakat Yordania lebih mengenal Indonesia, dan tidak hanya mengira Indonesia hanya memiliki Bali. Tetapi juga banyak kota-kota menawan lain di Indonesia yang layak dikunjungi, seperti Jogjakarta, Bandung dan Sumatera.

Saya berharap pandemi dapat segera berakhir sehingga berbagai kunjungan dan kerjasama dapat dimulai kembali, tidak hanya di bidang ekonomi tetapi juga di bidang pangan.

Bagaimana dengan kerjasama di bidang pertahanan?

Hubungan TNI dan Angkatan Bersenjata Yordania (disebut juga Tentara Arab) sudah berlangsung sejak lama dan cukup erat. Bukan saat ini saja. Bukan sekadar kerjasama, tapi juga ada latihan bersama. Raja Abdullah II sangat peduli dan mendukung kerjasama di bidang pertahanan. 

Saya pernah mengunjungi PT Pindad di Bandung dan saya sangat kagum dengan kemajuan Indonesia di bidang persenjataan. Mungkin perlu juga ada kerjasama di bidang ini.

Sebenarnya di Yordania juga ada perusahaan pembuat senjata. Namun saat ini kami ingin memperkuat kerjasama di bidang ini. Mungkin kami akan beli senjata dari Indonesia, dan kami berharap lebih banyak lagi dimasa mendatang.

Bisa Anda jelaskan hubungan di bidang pangan yang tadi sempat Anda sampaikan?

Bulan Februari lalu, Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi berkunjung ke Yordania dan bertemu dengan Perdana Menteri yang membidangi ekonomi. Dalam pertemuan itu sempat dibicarakan peluang kerjasama di bidang pangan. Saat ini Yordania memang lebih fokus pada isu pangan agar memiliki kemampuan mempertahankan pangan.

Dapat dipastikan dunia sebelum pandemi dan sesudah pandemi akan sangat berbeda. Kalau kita perhatikan, saat ini pemerintah Indonesia fokus mengantisipasi situasi pasca pandemi. Tahun ini dan tahun lalu Presiden Jokowi selalu membicarakan soal ketahanan dan kedaulatan pangan.

Sehingga yang akan menjadi fokus pada masa pasca pandemi nanti selain kerjasama bidang kesehatan juga kerjasama bidang pangan. Indonesia memiliki kekayaan di kedua bidang  ini, di bidang pangan dan di bidang penanganan Covid-19.

Setelah kunjungan Menlu Retno ke Yordania ada kerjasama antara Kedutaan Yordania dengan Kemlu RI agar Yordania bisa mengikuti jejak Indonesia memperkuat bidang pangan.

Saat ini Kedubes Yordania melakukan pembicaraan dengan Kemlu RI dan kami berharap di masa depan ada komoditas pangan Indonesia yang dikirim ke Yordania, seperti kopi, teh, beras merah dan buah-buah tropik yang khas. Sementara dari Yordania kami dapat mengirimkan kurma, zaitun dan buah-buahan asam (jeruk lemon) dengan harapan tidak dikenakan pajak. Dan Saat ini masih dalam pembicaraan untuk mendapatkan bebas bea masuk.

Selain itu, yang juga terkait dengan sektor pangan adalah phosphate. Sudah dari dulu Yordania memasok phosphate ke Indonesia untuk dijadikan pupuk. Indonesia adalah salah satu negara terpenting yang membeli phosphate dari Yordania. Cadangan phosphate Yordania sangat banyak.

Yordania sangat kecil bila dibandingkan dengan Indonesia. Baik dari sisi luas wilayah maupun jumlah penduduk. Tetapi kita perlu melihat Yordania dari sisi pengaruhnya di kawasan. Kehidupan politik kami relatif stabil, masyarakat kami menganut Islam moderat dan berpikiran terbuka. Kami juga memiliki pengaruh yang baik di kalangan negara Arab dan Organisasi Konferensi Islam (OKI), juga PBB. Dengan itu semua, saya yakin Yordania dapat menjadi pintu masuk bagi barang-barang Indonesia tidak hanya di Timur Tengah namun juga ke Eropa.

Pada tahun 2015 Raja Abdullah II berbicara di depan Parlemen Uni Eropa. Ia antara lain menjelaskan relasi antara Islam, demokrasi, dan perdamaian dunia. Secara umum pidatonya sangat menyentuh dan membuka mata masyarakat internasional…

Ya, Anda benar. Dan yang lebih menarik lagi, apa yang disampaikan Raja Abdullah II dalam pidato itu bukan hanya omongan belaka, tetapi adalah apa yang memang diyakininya dan telah diterapkan di Yordania.

Dari momen itu, saya menyimpulkan bahwa Uni Eropa umumnya menaruh rasa hormat pada Raja Abdullah II dan Yordania…

(Mengangguk.) Perlu saya sampaikan salah satu pidato terbaik Raja Abdullah II disampaikan di Kongres AS pada tahun 2006. Begitu memukau penjelasan yang disampaikan Raja Abdullah II, sehingga anggota Kongres AS yang hadir dan mendengarkan terus-menerus berdiri dan memberikan tepuk tangan kepada Raja (standing applause) dan pidato Raja disela oleh tepuk tangan yang riuh ramai dari anggota Kongres AS.

Juga perlu saya jelaskan bahwa Raja Abdullah II memiliki latar belakang pendidikan modern dan menganut paham Islam moderat dan toleran. Karena itu kami di Yordania menyadari arti penting demokrasi, dan seperti di Indonesia, menghormati kemajemukan dan keadilan. Ini juga yang m enjadi pondasi dari sikap kami mendukung kemerdekaan dan keadilan untuk rakyat Palestina.

Bisa Anda jelaskan situasi Yordania di tengah pandemi Covid-19?

Di awal pandemi kami sempat mengambil kebijakan lockdown untuk beberapa bulan lamanya. Seperti di Indonesia, kami juga menerapkan protokol kesehatan, mengenakan masker, menjaga jarak, dan menggunakan sabun saat mencuci tangan. Hal itu kami lakukan dengan sangat ketat sehingga tidak ada kasus baru.

Setelah itu kami melonggarkan, karena dengan lockdown kondisi ekonomi mengalami penurunan dan mulai banyak yang kesulitan. Dan ketika kami mulai melonggarkan protokol kesehatan, kasus Corona meningkat lagi untuk sementara waktu, namun pemerintah kembali mengendalikan situasi, dan kami berhasil mengurangi jumlah infeksi dengan sukses.

Saat ini, pemerintah Yordania telah mampu menyediakan vaksin melawan Covid, dengan sangat sukses, dan tersedia dalam skala besar. kasus Covid telah menurun secara signifikan. Dan alhamdulillah saya percaya Jordan telah mencapai “kisah sukses” dalam menghadapi epidemi. Sehingga kita kini kembali buka semua sektor dan bekerja serta berproduksi kembali, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus. Demikian pula sektor pariwisata di Yordania mulai pulih kembali, dan sektor ini mendapat perhatian besar di Yordania. Karena sektor ini adalah sumber pemasukan yang besar di Yordania.

Terkait dengan sektor pariwisata ini, Yordania sangat kaya dengan tempat-tempat sejarah baik untuk umat Islam maupun Kristiani. Untuk wisata rohani umat Islam, ada banyak makam para nabi di Yordania, misalnya Nabi Syuaib, Nabi Luth, Nabi Ayub, dan Nabi Harun. Juga ada gua yang sangat terkenal dalam kisah Ashabul Kahfi dalam Al Quran.

Sementara untuk umat Kristiani ada objek wisata berupa tempat pembaptisan Yesus di Sungai Jordan. Di Yordania Anda juga dapat menemukan gereja-gereja yang sangat tua usianya.

Di Yordania ada daerah bernama “Umm Ar Rasas” dekat ibukota Amman, ini adalah lembaga keagamaan Kristen tertua di dunia. Di tempat inilah pertemuan pertama antara Nabi Muhammad, SAW, dan biarawan (atau pendeta) terkenal “Buhaira”, sebelum sebelum misi kenabian. Lalu, sala satu ikon penting sektor pariwisata Yordania yang juga sangat terkenal adalah situs Petra yang sangat indah.

Selain wisata rohani juga ada objek wisata kesehatan, seperti Laut Mati. Juga ada gurun Wadi Ram yang dikagumi banyak wisatawan asing. Di tempat ini kita bisa bermalam di tenda-tenda menikmati keindahan malam di gurun, lengkap degan program hiburan yang sesuai dengan budaya daerah setempat.

Karena pandemi sektor pariwisata kami tidak berjalan dengan semestinya. Sekarang pemerintah Yordania sedang berusaha untuk membuka kembali sektor pariwisata dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Beberapa waktu lalu masyarakat internasional sempat dikagetkan dengan konflik di keluarga Kerajaan. Bagaimana perkembangannya saat ini?

Perlu saya sampaikan bahwa Raja Abdullah II berusaha menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan dan sangat bijaksana. Sementara proses hukum juga terus berjalan dan saat ini ada beberapa orang yang sedang diselidiki keterlibatannya.

Di sisi lain, kejadian ini memperlihatkan betapa warga Yordania mencintai dam mendukung dan setia kepada Raja Abdullah II. Juga banyak negara sahabat yang menyampaikan dukungan pada Raja Abdullah II. Mereka menilai yang dilakukan Raja Abdullah II sudah tepat, dan mereka mendukung konstitusi Yordania. Sekarang isu ini tidak begitu hangat lagi.

Yordania adalah negara konstitusional. Saat ini Raja Abdullah II berusaha menjalankan reformasi besar-besaran, di antaranya dengan memperbaiki atau memperbaharui UU Pemilu. Beliau mendukung dan mengimbau anak muda memasuki dunia politik, memberikan suara, dan menjadi anggota Parlemen. Raja juga memperhatikan keamanan dan persatuan negara. Yordania telah berdiri selama 100 tahun, dan Raja Abdulah berusaha agar reformasi besar-besaran ke arah perubahan yang lebih baik dapat berjalan seperti yang diinginkan.

Yordania merupakan salah satu negara di kawasan yang berbatasan langsung dengan Palestina dan menyaksikan dari dekat agresi Israel terhadap Palestina. Bagaimana sebenarnya posisi Yordania dalam isu ini?

Kerajaan Yordania dan Raja Abdullah II adalah  penjaga keamanan situs-situs suci agama Islam maupun Kristen di Palestina. Peran ini dijalankan turun menurun.

Amanat Hasyimiyah Negara Hashemite ada dan diatur dalam Organisasi Kerjasama Islam dan Liga Negara-negara Arab. Salah satu peran penting Kerajaan Hasyimiyah Yordania adalah untuk memastikan bahwa umat Islam dan Kristen dapat beribadah dengan bebas dan aman. Serta perannya dalam menjaga kesucian di Palestina agar fungsinya tidak berubah.

Dan pada saat Israel melakukan serangan kepada warga palestina pada akhir bulan Ramadhan lalu, pemerintah Yordania dengan cepat merespon dan mengambil tindakan tegas dan menuntut untuk menghentikan serangan tersebut.

Kita semua tahu, hal ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Serangan yang dilancarkan Israel ini sudah menjadi semacam kebiasaan. Raja Abdullah II terus berusaha mempertahankan agar situs suci di Palestina baik bagi umat Islam maupun Kristen tidak terganggu dan ibadah dapat dilakukan dengan aman.

Satu hal penting lagi adalah, Yordania merupakan negara pertama yang mendukung hak kemerdekaan negara Palestina. Hak Palestina memiliki nilai historis yang tidak dapat dihilangkan begitu saja. Mereka adalah pemilik tanah yang sah di negeri itu. Yordania punya keyakinan Palestina harus berdiri sendiri sesuai dengan apa yang telah disepakati di PBB.

Di samping itu, Yordania juga merupakan salah satu negara utama tujuan pengungsi dari Palestina. Dan banyak sekali pengungsi Palestina yang berada di Yordania. Pemerintah Yordania terus berusaha membantu rakyat Palestina untuk kembali ke Palestina dan mendapatkan hak atas tanah mereka. Jordan memberikan akses bagi bantuan-bantuan kemanusiaan yang dikirimkan masyarakat internasional untuk rakyat Palestina di pengungsian. Kami juga membangun rumah sakit untuk membantu rakyat Palestina.

Sekitar 20 tahun terakhir kita menyaksikan begitu banyak peristiwa, mulai dari serangan terhadap gedung WTC di New York pada 11 September 2001, Arab Sping, krisis Suriah, juga munculnya ISIS. Kalau kita perhatikan, semua peristiwa itu memojokkan Islam dan mengaitkan Islam dengan terorisme. Israel berkepentingan dengan kehadiran isu-isu tersebut agar perhatian negeri Muslim di Arab teralihkan dari isu agresi mereka di Palestina.

Tetapi di sisi lain Yordania juga memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Bagaimana Anda menjelaskan ini?

Memang ada perjanjian damai antara Yordania dan Israel di tahun 1994. Sebelumnya ada perjanjian Oslo di tahun 1993 antara Palestina dan Israel. Perjanjian damai dengan Israel itu kami lakukan justru karena kami ingin mempertahankan kedaulatan Palestina dan dapat terus memberikan bantuan kepada masyarakat Palestina.

Dan ketika, berapa tahun lalu, Israel mengumumkan pembangunan tembok pemisah (apartheid) dengan Tepi Barat, pemerintah Yordania bergerak cepat dan menggugat pemerintah Israel di pengadilan internasional. Kami berhasil, dan Pengadilan Internasional di Den Haag mengeluarkan keputusan yang mengutuk tindakan tersebut. Ya itu tindakan Israel.Pemerintah Yordania selalu melakukan upaya untuk mempertahankan kedaulatan Palestina dan melindungi hak-hak rakyat Palestina.

Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa perjanjian damai Yordania-Israel bertujuan untuk melindungi rakyat Palestina dan memberi mereka kesempatan untuk memperjuangkan hak-hak mereka di forum internasional. Misalnya, dalam Konferensi Madrid taun tahun 1992 yang diprakarsai Amerika Serikat dan Uni Soviet. Negara-negara Arab seperti Yordania, Lebanon dan Suriah menghadiri konferensi tersebut. Israel juga berpartisipasi.

Dalam konferensi ini, ada upaya untuk menolak dan mencegah warga Palestina berpartisipasi dan mengungkapkan aspirasi mereka dengan tidak mengundang mereka untuk berpartisipasi dalam konferensi tersebut. Oleh karena itu, pemerintah Yordania memberikan “payung” bagi partisipasi warga Palestina melalui delegasi Palestina yang ikut serta bersama delegasi Yordania. Dan Akhirnya Palestina berpartisipasi melalui delegasi Yordania dan membela hak-hak mereka dan kemudian berpisah (tidak ikut serta) dalam negosiasi dengan Israel. Akhirnya, mereka (Palestina) menandatangani Kesepakatan Oslo pada tahun 1993.

Kelihatannya Yordania menerima solusi dua negara?

Pemerintah Yordania mendukung solusi dua negara sebagai bagian dari perjuangan kemerdekaan Palestina. Kami ingin rakyat Palestina sesegera mungkin mendapatkan hak mereka dan konflik berkepanjangan ini dapat segera diakhiri. Ini juga sudah sesuai dengan Resolusi PBB dan perjanjian perbatasan tahun 1967.

Dalam perjanjian damai Yordania dan Israel di tahun 1994 ada beberapa isu yang masih perlu dibicarakan. Namun sejumlah isu itu belum bisa dibahas karena pembahasannya membutuhkan kehadiran negara Palestina. Misalnya yang terkait dengan isu pengungsi Jerusalem, keamanan, air dan perbatasan. Isu-isu ini tidak bisa dibicarakan sebelum negara Palestina berdiri.

Tetapi faktanya sejak 1947 Israel terus melakukan agresi dan memperluas pemukiman  hingga merambah wilayah Palestina. Tadi Anda juga mengatakan bahwa agresi Israel ini sudah menjadi kebiasaan. Bagaimana masyarakat internasional dapat secara efektif meminta Israel menghentikan agresi?

Masyarakat internasional percaya bahwa isu Palestina adalah salah satu isu yang  melahirkan berbagai isu lain, di antaranya isu terorisme dan benturan peradaban. Memang harus ada Resolusi PBB yang kuat agar Palestina mendapatkan kedaulatan. Sebenarnya masyarakat internasional yang mengerti dan open minded mendukung Palestina. Tetapi seperti yang kita ketahui, Israel selalu melakukan agresi. Mereka mengambil banyak kesempatan dari apa yang terjadi dalam 20 tahun terakhir sehingga kita tidak fokus pada perjuangan kemerdekaan dan kedaulatan Palestina.

Agresi di Gaza bulan Ramadhan lalu kembali membawa isu Palestina muncul ke permukaan.Arti penting kemerdekaan dan kedaulatan Palestina pun kembali dibicarakan di banyak forum.

Indonesia dan Yordania mengembangkan diplomasi agar masyarakat internasional fokus menyelesaikan isu palestina. Dapat dikatakan setelah kejadian Gaza ada komunkasi intensif anara Menklu RI dan Menlu Yordania untuk isu kemerdekaan dan kedaulatan Palestina ini. Pertemuan terakhir dilakukan di New York.

Ada asumsi yang mengatakan bahwa Israel dapat dengan mudah menekan Palestina karena di Palestina sendiri terjadi konflik antara Hamas dan Fatah. Selain itu, negara-negara OKI dan Liga Arab kelihatannya juga sulit bersatu untuk melindungi Palestina. Bagaimana pendapat Anda?

Sebenarnya perpecahan di Palestina sudah ada sekitar 15 tahun terakhir. Perpecahan itu dimanfaatkan Israel dengan baik. Bukan hanya perpecahan antara Hamas dan Fatah, tetapi juga antara Jalur Gaza dan Tepi Barat. Saat ini ada seruan baik dari Yordania dan Indonesia kepada pihak-pihak di Palestina untuk pertikaian.

Pihak Israel memanfaatkan dan menarik keuntungan dari pertikaian itu untuk melarikan diri dari meja perundingan. Menghentikan pertikaian di internal Palestina ini sangat penting, tidak hanya untuk Palestina, tapi juga untuk negara Arab, negara-negara anggota OKI, juga bagi masyarakat internasional.

Di sisi lain, kejadian terakhir di bulan Ramadhan lalu memperlihatkan bahwa rakyat Palestina bersatu untuk melawan Israel. Saya berharap kobaran api perjuangan rakyat Palestina dapat dipertahankan. Mereka harus bersatu.

Tapi secara umum kelihatannya Liga Arab sulit bersatu. Tidak hanya dalam isu Israel-Palestina, juga dalam isu Sunni-Syiah, konflik Suriah, konflik Yaman, dan sebagainya. Bagaimana Anda menjelaskan hal ini?

Liga Negara-negara Arab adalah badan penting dan efektif yang melakukan upaya besar untuk menghadapi krisis dan membangun solidaritas Arab. Namun, Liga Arab tidak memiliki wewenang untuk mengimplementasikan resolusi dan kesepakatan yang diambilnya.

Pelaksanaan keputusan membutuhkan pemersatu dan banyak mekanisme. Oleh karena itu, kekuatan Liga Arab seringkali merupakan kekuatan moral, dan merupakan kekuatan yang penting.

Pos terkait